Nyeri Lutut Tak Selalu Berujung Operasi: Ini Panduan Ahli untuk Mengatasinya
Baca dalam 60 detik
- Osteoartritis menjadi biang keladi utama nyeri lutut kronis pada usia 55 tahun ke atas, ditandai dengan kaku di pagi hari.
- Cedera mendadak seperti robek meniskus atau ligamen membutuhkan penanganan berbeda, termasuk kompres es dan istirahat.
- Penguatan otot dan olahraga ringan terbukti efektif mengurangi nyeri, bahkan setara obat pereda nyeri tanpa resep.

Lutut, sendi terbesar dalam tubuh manusia, menjadi lokasi kedua tersering untuk nyeri kronis setelah punggung. Bagi banyak orang, keluhan ini muncul di usia produktif akibat cedera, atau seiring bertambahnya usia karena keausan. Namun, para ahli menegaskan bahwa nyeri lutut tidak selalu berujung pada meja operasi; ada banyak langkah yang bisa diambil untuk mengelola ketidaknyamanan dan menjaga mobilitas.
Menurut Dr Matthew Abdel, ahli bedah ortopedi dari Mayo Clinic, nyeri kronis bisa sangat menguras tenaga, finansial, dan emosi. Seseorang mungkin tidak secara eksplisit mengeluh, tetapi pikiran mereka terus terganggu oleh rasa sakit tersebut. Kondisi ini sering kali diabaikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab paling umum nyeri lutut kronis, terutama pada orang dewasa di atas 55 tahun, adalah osteoartritis. Pada kondisi ini, tulang rawan sendi menipis dan kehilangan kemampuan menyerap guncangan, menyebabkan peradangan, pembengkakan, dan nyeri yang memburuk seiring waktu. Dr Nicholas Scarcella, ahli bedah ortopedi dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa penderita sering merasakan kaku di pagi hari yang membaik sepanjang hari.
Bagi mereka yang aktif berolahraga, cedera akibat penggunaan berlebihan juga sering terjadi. Meningkatkan intensitas latihan secara drastis dapat memicu sindrom IT band pada pelari jarak jauh, atau patellofemoral pain syndrome yang dikenal sebagai 'runner's knee'. Cedera ini muncul karena gerakan repetitif, kelemahan otot paha, atau ketidaksejajaran lutut.
Cedera akut, seperti robeknya meniskus atau ligamen, biasanya terjadi akibat gerakan memutar atau benturan. Meniskus, tulang rawan berbentuk bulan sabit, sering robek dan menimbulkan nyeri tajam serta pembengkakan. Ligamen seperti ACL dan MCL juga rentan terhadap regangan berlebih. Dr Scarcella menambahkan bahwa momen cedera biasanya diingat jelas oleh penderitanya.
Untuk cedera mendadak, Robert Turner, fisioterapis dari Hospital for Special Surgery, menyarankan menghentikan aktivitas penyebab nyeri dan mengompres es di sekitar sendi, bukan hanya di bagian depan. Obat pereda nyeri seperti ibuprofen bisa membantu, tetapi jika lutut terasa tidak stabil, nyeri tajam, atau tidak bisa menaiki tangga, segera periksakan diri ke dokter. Demam atau nyeri yang memburuk di malam hari juga merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Bagi nyeri kronis, penguatan otot di sekitar lututโbaik otot paha, betis, maupun pinggulโterbukti mengurangi keluhan. Latihan berdampak rendah seperti berenang, bersepeda, atau menggunakan elliptical sangat direkomendasikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan selotip dan alas kaki yang mendukung juga dapat meredakan nyeri.
Jika perubahan gaya hidup tidak cukup, dokter mungkin menyarankan suntikan steroid untuk meredakan nyeri sementara, meski tidak dianjurkan sering. Suntikan asam hialuronat dan platelet-rich plasma (PRP) menjadi pilihan lain, namun efektivitasnya masih diperdebatkan dan biayanya tidak murah. Operasi penggantian lutut baru dipertimbangkan jika kualitas hidup sudah sangat terganggu.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan lutut masih rendah. Banyak yang menganggap nyeri lutut sebagai bagian normal dari penuaan dan menunda pengobatan. Padahal, dengan penanganan dini dan gaya hidup aktif, risiko osteoartritis dapat ditekan. Olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, dan memperkuat otot adalah kunci utama.
Dr Joanne Borg Stein dari Mass General Brigham menekankan bahwa meskipun tidak bisa sepenuhnya mencegah, kita dapat mengelola nyeri secara proaktif. "Selama kita fleksibel, kuat, makan baik, dan istirahat cukup, fungsi tubuh akan lebih baik dan gejala berkurang," ujarnya. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia siap mengubah gaya hidup demi kesehatan lutut jangka panjang?



