Andrew Rutter, Arsitek di Balik Pelestarian Winchester, Tutup Usia 93 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Andrew Rutter, conservation officer pertama Winchester, meninggal pada usia 93 tahun setelah berkarier panjang di bidang perencanaan kota.
- Perannya sebagai penjaga warisan arsitektur membantu mengurangi dampak lingkungan dari proyek jalan tol M3 pada 1990-an.
- Kiprahnya sebagai Quaker dan penulis buku tentang Winchester meninggalkan jejak dalam pelestarian cagar budaya Inggris.

Andrew Rutter, arsitek terlatih yang menjadi conservation officer pertama di Winchester, Inggris, meninggal dunia pada usia 93 tahun. Pria yang menghabiskan hampir tiga dekade mengabdi di Hampshire County Council ini dikenal sebagai sosok yang gigih membela bangunan dan lanskap bersejarah kota tersebut.
Rutter memulai jabatannya pada 1974, tak lama setelah reorganisasi internal dewan, dan pensiun pada 1998. Selama periode itu, ia mengembangkan pendekatan yang tidak umum pada masanya: memvisualisasikan dampak setiap proposal pembangunan sebelum para pengambil keputusan menetapkan pilihan. Menurut sejumlah rekannya, kemampuan ini membuatnya sering menjadi penentu dalam rapat-rapat perencanaan yang alot.
Salah satu ujian terbesar datang pada awal 1990-an, ketika pemerintah merencanakan pengalihan rute M3 melalui lembah kapur kecil di dekat Winchester. Rutter dan timnya berupaya meminimalkan kerusakan lingkungan dari rencana awal. Meski demikian, pemotongan jalan melalui Twyford Down tetap terjadi dan menjadi salah satu kontroversi lingkungan paling terkenal di Inggris pada dekade itu.
Lahir dari keluarga Quaker, Rutter menempuh pendidikan arsitektur di Architectural Association School of Architecture, London. Sebagai penolak wajib militer, ia menjalani dinas alternatif dengan bekerja untuk International Voluntary Service for Peace di Jerman dan Ghana. Pengalaman di Ghana berlanjut ketika ia bekerja untuk PBB di Universitas Teknik Kumasi, melatih asisten perencana.
Pada 1969, ia kembali ke Inggris bersama keluarganya dan bergabung dengan Hampshire County Council sebagai forward planning officer. Lima tahun kemudian, ia diangkat menjadi conservation officer pertama Winchester—sebuah posisi yang memberinya ruang untuk mengawal pelestarian warisan arsitektur di tengah tekanan pembangunan.
"Kemampuannya melihat konsekuensi dari setiap aplikasi perencanaan membuat para anggota dewan berpikir dua kali sebelum memutuskan," tutur seorang kolega yang mengenalnya lama.
Setelah pensiun, Rutter menulis buku Winchester, Heart of a City (2009) yang merekam ciri khas bangunan dan lingkungan kawasan konservasi Winchester. Ia juga aktif dalam berbagai vigil perdamaian dan mendukung Friends of the Family, inisiatif Quaker lokal yang membantu kelompok rentan.
Bagi Indonesia, kisah Rutter menyoroti pentingnya peran conservation officer dalam menjaga warisan budaya di tengah derasnya pembangunan. Kota-kota seperti Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta memiliki kawasan bersejarah yang menghadapi tantangan serupa: tekanan proyek infrastruktur, alih fungsi lahan, dan lemahnya penegakan aturan cagar budaya. Kehadiran figur seperti Rutter—yang mampu menjembatani kepentingan pembangunan dan pelestarian—masih langka di banyak daerah.
Istri Rutter, Margery, meninggal pada 2022. Ia meninggalkan dua putra, Mark dan penulis obituari ini, serta tiga cucu. Warisannya sebagai penjaga kota tua Winchester akan terus dikenang, terutama di tengah meningkatnya kesadaran global akan pelestarian lingkungan dan cagar budaya.



