Kabut Asap Kebakaran Hutan Meluas, Kasus ISPA di Indonesia Melonjak 200 Ribu
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kesehatan mencatat 15,6 juta kasus ISPA hingga Agustus, meningkat 200 ribu dibanding tahun lalu.
- Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan menjadi episentrum, dengan kunjungan IGD naik sepuluh kali lipat.
- BMKG memperingatkan musim kemarau ekstrem bisa berlanjut hingga awal tahun depan, memperparah krisis kesehatan.

Jakarta, LyndHub โ Gelombang kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Indonesia memicu lonjakan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan fasilitas kesehatan di Kalimantan dan Sumatra melaporkan ribuan pasien tambahan dalam beberapa pekan terakhir. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 15,6 juta kasus ISPA secara nasional sejak Januari, atau 200 ribu lebih banyak dibanding periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa lonjakan terbesar justru terjadi di provinsi padat penduduk di Jawa, sehingga peningkatan kasus tidak bisa semata-mata diatribusikan pada asap kebakaran. Namun, otoritas kesehatan di sejumlah daerah terdampak api melaporkan kenaikan signifikan keluhan pernapasan seiring kabut yang menyelimuti permukiman.
Kalimantan Barat, salah satu provinsi dengan area terbakar terluas tahun ini, mencatat lonjakan kunjungan instalasi gawat darurat (IGD) untuk infeksi pernapasan sejak Juli. Pemerintah daerah setempat telah memerintahkan seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) dan puskesmas di 14 kabupaten/kota untuk memberikan layanan medis darurat 24 jam. Hary Agung Tjahyadi, direktur RSUD Dr. Soedarso di Pontianak, menyatakan bahwa kualitas udara yang buruk telah memicu lonjakan kasus penyakit pernapasan.
Fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat mencatat sekitar 5.000 kunjungan IGD untuk infeksi pernapasan setiap pekan sejak Juli, dibandingkan hanya 500 kunjungan per pekan pada semester pertama tahun ini. Kondisi ini bertepatan dengan perluasan drastis kebakaran hutan di seluruh negeri. Platform pemantau hutan Nusantara Atlas memperkirakan sekitar 285.000 hektare lahan telah terbakar tahun ini, atau setara tiga kali luas Jakarta. Sebagian besar titik api terdeteksi di Kalimantan dan Sumatra, membuat warga terpapar asap dan partikel halus pada tingkat yang membahayakan.
Pada Senin, Pontianak menjadi kota paling tercemar di Indonesia, dengan indeks kualitas udara mencapai level 'berbahaya', kategori terburuk dalam skala enam tingkat yang dipantau IQAir. Sumatera Selatan juga mencatat peningkatan signifikan, dengan hampir 260 ribu kasus ISPA tahun ini, melampaui total kasus sepanjang 2025. Kementerian Kesehatan mengimbau warga di daerah terdampak untuk memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala ISPA.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kombinasi El Nino dan pola iklim pemanasan yang dikenal sebagai Indian Ocean Dipole positif dapat memperpanjang musim kemarau hingga awal tahun depan. Para ahli membandingkan kondisi ini dengan 2019, ketika lebih dari 1,64 juta hektare lahan dan hutan terbakar di Indonesia. Dampak kesehatan dari asap kebakaran sangat serius karena mengandung campuran partikel beracun dan senyawa yang dilepaskan saat vegetasi terbakar.
Paparan jangka pendek dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan atas, kulit, dan mata, sementara paparan berkepanjangan berisiko lebih besar. Budi Haryanto, pakar kesehatan masyarakat Universitas Indonesia, menegaskan bahwa jika warga tidak dapat menghindari paparan jangka panjang, dampaknya akan lebih parah dan dapat merusak organ vital. Katherine Hasan, analis utama Indonesia di Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), menambahkan bahwa asap kebakaran hutan menjadi tantangan khusus karena dihasilkan dari pembakaran biomassa yang tidak terkendali.
Berbeda dengan polusi dari kendaraan dan pembangkit listrik yang dapat disaring sebagian, asap dari kebakaran hutan dan lahan dilepaskan langsung ke atmosfer dan dapat menempuh jarak jauh. Dampak lintas batas terlihat pekan lalu ketika asap dari Kalimantan terbawa ke Sarawak, Malaysia, memaksa otoritas setempat menutup sementara lebih dari 100 sekolah. Krisis ini menegaskan bahwa kebakaran hutan bukan hanya masalah domestik, tetapi juga ancaman regional yang membutuhkan respons kolektif.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah musim kemarau akan berakhir, tetapi seberapa cepat pemerintah dan masyarakat dapat beradaptasi untuk mencegah bencana serupa berulang. Akankah langkah-langkah pengendalian kebakaran yang lebih ketat dan sistem peringatan dini yang lebih baik mampu memutus siklus tahunan ini? Tanpa tindakan nyata, lonjakan ISPA dan kerugian ekonomi akibat kabut asap akan terus menghantui Indonesia.



