Blue Origin Pamer 'Power Tower' 20 Meter, Listrik Tenaga Surya untuk Basis Bulan
Baca dalam 60 detik
- Blue Origin memperkenalkan Power Tower, menara surya setinggi 20 meter yang dirancang memasok listrik bagi operasi di kutub selatan Bulan.
- Sistem ini diklaim menghasilkan lebih dari 10 kilowatt dan akan menjadi tulang punggung jaringan permukaan modular untuk misi jangka panjang.
- Peluncuran ini memperkuat persaingan infrastruktur antariksa menjelang realisasi pangkalan Bulan NASA pada 2032, dengan Indonesia berpotensi memetik pelajaran dalam pengembangan energi terbarukan ekstrem.

Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, resmi memperkenalkan Power Tower—menara panel surya setinggi 20 meter yang dirancang menjadi sumber listrik utama bagi pangkalan di kutub selatan Bulan. Pengumuman ini disampaikan melalui akun X perusahaan pada 25 September, disertai animasi pendaratan dan penyebaran struktur di permukaan lunar.
Dalam unggahan tersebut, Blue Origin menyatakan bahwa Power Tower mampu menghasilkan lebih dari 10 kilowatt daya, cukup untuk menopang operasi dasar di lingkungan ekstrem Bulan. Arsitektur modularnya memungkinkan perluasan jaringan listrik dari lander ke berbagai aset permukaan yang membutuhkan pasokan energi.
Menariknya, uji penyebaran nyata telah dilakukan di Bumi pada 22 Juli 2026. Rekaman video memperlihatkan tiang utama memanjang dari alas, lalu lengan-lengan samping membuka panel surya yang terlipat. Teknologi ini disebut sebagai evolusi dari Lunar Array Mast and Power System (LAMPS) yang dikembangkan anak perusahaan Blue Origin, Honeybee Robotics, dan diuji di Johnson Space Center NASA, Houston, pada 2024.
Langkah ini menegaskan ambisi Blue Origin untuk tidak sekadar menjadi penyedia roket, tetapi juga pemasok infrastruktur energi di luar angkasa. Power Tower bersaing langsung dengan proyek Vertical Solar Array Technology (VSAT) NASA yang tengah mengembangkan panel surya vertikal untuk mendukung kehadiran manusia berkelanjutan di Bulan. Kolaborasi tidak langsung terlihat dari keterlibatan Honeybee Robotics dalam VSAT, yang berarti teknologi Blue Origin berpotensi menjadi bagian dari ekosistem Artemis.
"Arsitektur modularnya akan mendukung jaringan permukaan masa depan, memperluas daya melampaui lander ke aset yang paling membutuhkannya," tulis Blue Origin dalam unggahan tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar berita antariksa. Negara kepulauan ini tengah mendorong transisi energi terbarukan, termasuk panel surya, namun masih menghadapi tantangan dalam penyimpanan dan distribusi di daerah terpencil. Konsep sistem surya modular yang dapat dikerahkan cepat di lokasi sulit—seperti yang ditawarkan Power Tower—dapat menjadi inspirasi untuk listrik pedesaan, pulau terluar, atau bahkan pos pemantauan bencana. Selain itu, keterlibatan perusahaan swasta dalam riset antariksa membuka peluang kolaborasi bagi institusi seperti BRIN dan LAPAN untuk mengembangkan teknologi serupa di Bumi.
Dari sisi geopolitik, persaingan infrastruktur Bulan semakin panas. NASA menargetkan pembangunan Moon Base dalam beberapa fase, dengan fase pertama berlangsung hingga 2029 dan operasional penuh pada 2032. Blue Origin berusaha memposisikan diri sebagai pemasok kunci, sementara SpaceX dan perusahaan lain juga mengembangkan teknologi pendarat dan energi. Jika Power Tower berhasil melewati uji lingkungan Bulan, Blue Origin bisa mengunci kontrak jangka panjang dengan NASA dan mitra internasional.
Pertanyaannya, apakah teknologi ini akan benar-benar berfungsi di medan kutub selatan yang ekstrem—dengan suhu sangat rendah dan periode gelap panjang? Keberhasilan Power Tower tidak hanya menentukan kelangsungan misi Artemis, tetapi juga membuka jalan bagi komersialisasi listrik di luar angkasa. Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi pemicu untuk mulai serius mengembangkan teknologi energi mandiri yang tahan terhadap kondisi ekstrem, baik di Bumi maupun sebagai langkah awal menuju partisipasi dalam ekonomi antariksa global.



