H5N1 Masuk Mamalia Australia: Anjing Laut Mati di Pantai Beachport Picu Kekhawatiran
Baca dalam 60 detik
- Australia mengonfirmasi kasus pertama flu burung H5N1 pada mamalia, seekor anjing laut berhidung panjang ditemukan mati di South Australia.
- Virus yang telah membunuh ribuan anjing laut di Pulau Heard kini menyebar ke daratan utama, mengindikasikan perluasan jangkauan penyakit.
- Meski kasus pada mamalia meningkat, sektor unggas Australia masih bebas dari wabah, namun risiko penularan ke satwa lain tetap menjadi perhatian.

Untuk pertama kalinya, Australia mencatat kasus flu burung H5N1 pada mamalia. Seekor anjing laut berhidung panjang (long-nosed fur seal) ditemukan mati di kawasan pesisir Beachport, sekitar 310 kilometer selatan Adelaide, ibu kota South Australia. Temuan ini menandai eskalasi baru dalam wabah avian influenza yang telah melanda benua tersebut sejak Juni lalu.
Otoritas setempat memastikan hewan tersebut tidak menunjukkan luka fisik, dan kematiannya tidak terkait dengan mamalia laut lain yang sakit atau mati. Menteri Pertanian federal, Julie Collins, menyatakan bahwa begitu virus H5 menyebar di lingkungan alami, kerugian besar tidak dapat dihindari. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa virus telah memasuki fase baru yang lebih sulit dikendalikan.
Wabah H5N1 di Australia bermula dari burung laut migran, kemudian menyebar ke spesies asli. Pada bulan ini saja, terjadi kematian massal burung laut untuk pertama kalinya. Anjing laut, yang hidup berdekatan dengan burung liar di bebatuan pantai, menjadi kelompok berisiko tinggi. Kepala petugas veteriner South Australia, Skye Fruean, menjelaskan bahwa hewan-hewan ini hampir pasti terpapar virus dalam konsentrasi tinggi di lingkungan mereka.
Fenomena ini bukan hanya masalah Australia. Di Indonesia, kedekatan geografis dan lalu lintas unggas liar yang melintasi kawasan Asia-Pasifik menjadikan negeri ini rentan terhadap penyebaran virus serupa. Meski belum ada laporan kasus H5N1 pada mamalia di Indonesia, pengalaman Australia menunjukkan bahwa virus dapat melompat antarspesies dengan cepat. Para ahli memperingatkan perlunya pengawasan ketat pada titik masuk burung migran, terutama di wilayah timur Indonesia yang menjadi jalur migrasi utama.
Menurut data pemerintah Australia, wabah ini belum menyentuh peternakan unggas komersial. Namun, risiko kontaminasi silang tetap ada. Jika virus menyebar ke peternakan, dampaknya bisa sangat merugikan, mengingat Australia adalah salah satu pengekspor daging unggas terbesar di dunia. Situasi ini menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis tidak mengenal batas negara.
Para ilmuwan kini mengamati apakah virus akan bermutasi menjadi lebih mudah menular antar mamalia. Jika itu terjadi, ancaman terhadap satwa liar dan potensi penularan ke manusia akan meningkat. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia, sudah siap menghadapi skenario terburuk tersebut?



