Spurs Bidik Mitoma: Peluang Januari di Tengah Krisis Lini Depan
Baca dalam 60 detik
- Tottenham dikabarkan siap bergerak untuk Kaoru Mitoma setelah pemain Jepang itu disebut ingin hengkang dari Brighton.
- Hubungan lama dengan Roberto De Zerbi menjadi faktor utama di balik ketertarikan Mitoma, sementara kontraknya di Amex akan berakhir musim panas mendatang.
- Brighton memasang patokan harga tinggi, tetapi status kontrak Mitoma bisa memaksa mereka menurunkan tuntutan pada bursa Januari.

Tottenham Hotspur kembali mengarahkan radar ke Kaoru Mitoma. Winger Brighton & Hove Albion itu dikabarkan terbuka pada kemungkinan pindah ke London utara, terutama karena kedekatannya dengan manajer Spurs, Roberto De Zerbi. Ketertarikan ini muncul setelah lini serang Tottenham tampil tumpul di awal musim, memaksa klub mencari solusi tambahan pada jendela transfer Januari.
Musim panas lalu, Spurs menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain yang sudah terbukti di Premier League. Savio ditebus mahal dari Manchester City, sementara Mykhailo Mudryk dan Omar Marmoush datang dengan status pinjaman. Namun, hasilnya jauh dari harapan. Mudryk baru bermain 16 menit karena cedera, sedangkan Savio dan Marmoush belum menyumbang gol atau assist di liga. Tottenham bahkan butuh lima pertandingan untuk mencetak dua gol pertama mereka, yang terjadi saat kalah 3-2 dari Aston Villa sebelum jeda internasional.
Krisis ini membuat De Zerbi disebut tengah mengevaluasi komposisi lini depan. Mateus Fernandes, yang dipasang sebagai gelandang serang, dinilai belum konsisten. De Zerbi secara terbuka mengaku tidak puas dengan performa Fernandes saat ditarik keluar pada babak kedua melawan Villa. Solusi jangka pendek yang mungkin diambil adalah mengembalikan Fernandes ke peran aslinya dan memberi ruang lebih bagi Marmoush atau James Maddison untuk mengisi posisi nomor 10.
Kegagalan Tottenham mendatangkan winger baru pada musim panas lalu memperparah situasi. Mereka sempat mencapai kesepakatan ยฃ60 juta untuk Iliman Ndiaye dari Everton, tetapi Manchester City menyergap dan membawa pemain Senegal itu ke Etihad. Spurs juga sempat dikaitkan dengan Cody Gakpo, namun negosiasi kandas setelah Liverpool gagal mendatangkan winger tambahan. Alhasil, manajemen Spurs menyadari bahwa lini serang masih menjadi titik lemah yang harus segera ditambal.
"Saya tidak menyukai penampilan Mateus [Fernandes]," ujar De Zerbi setelah menarik gelandangnya pada jeda babak pertandingan melawan Aston Villa.
Mitoma menjadi target yang logis. Pemain asal Jepang itu pernah menjadi andalan De Zerbi di Brighton dan menjelma sebagai salah satu winger paling ditakuti di Premier League. Kecepatan, dribel, dan kemampuan menciptakan peluang membuatnya disebut sebagai "salah satu winger terbaik di dunia" oleh mantan pemain internasional Inggris, Shaun Wright-Phillips. Brighton sendiri tidak akan melepasnya dengan mudah, tetapi situasi kontrak bisa mengubah dinamika negosiasi.
Bagi Tottenham, merekrut Mitoma bukan sekadar menambah opsi di sayap. Kehadirannya bisa memberi dimensi baru dalam skema De Zerbi, terutama untuk membuka ruang bagi penyerang tengah seperti Marmoush atau Dominic Solanke. Dengan kontrak yang tersisa kurang dari dua tahun, Spurs berharap bisa mendapatkan Mitoma dengan harga di bawah nilai pasar. Namun, Brighton dikenal keras dalam negosiasi dan tidak akan segan menahan pemain hingga kontraknya benar-benar habis.
Jika transfer ini terwujud, Tottenham akan mendapatkan pemain yang sudah paham betul taktik De Zerbi tanpa perlu waktu adaptasi panjang. Mitoma juga bisa menjadi magnet komersial, mengingat popularitasnya di Asia, termasuk Indonesia. Premier League sendiri memiliki basis penggemar besar di Indonesia, dan kehadiran pemain Asia di klub papan atas selalu menarik perhatian. Namun, Spurs harus bergerak cepat karena klub lain juga bisa mengincar Mitoma dengan status kontraknya yang menguntungkan.
Pertanyaannya, apakah Brighton akan melunak pada Januari atau justru mempertahankan Mitoma hingga akhir musim demi menjaga posisi mereka di kompetisi Eropa? Keputusan ini tidak hanya berdampak pada Tottenham, tetapi juga pada peta persaingan di Premier League paruh kedua.



