TEP UI Latih Nakes Teluk Wondama Gunakan Rekam Medis Elektronik, Atasi Rujukan Pasien via Laut
Baca dalam 60 detik
- Tim 7 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia menggelar pelatihan rekam medis elektronik bagi tenaga kesehatan di Teluk Wondama, Papua Barat.
- Pelatihan ini menyasar puskesmas dan rumah sakit yang masih mengandalkan pencatatan manual, rentan kehilangan data, dan menyulitkan rujukan pasien antarpulau.
- Inisiatif ini mendukung arahan Presiden Prabowo tentang digitalisasi layanan publik, namun tantangan sinyal dan infrastruktur masih membayangi implementasi di daerah terpencil.

Tenaga kesehatan di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menghadapi dilema klasik layanan kesehatan di wilayah kepulauan: mencatat riwayat pasien secara manual sementara rujukan harus ditempuh lewat jalur laut. Kondisi ini mendorong Tim 7 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) turun tangan memberikan pelatihan penggunaan rekam medis elektronik (RME) bagi puluhan nakes setempat, Minggu (4/10/2026).
Pelatihan ini bukan tanpa alasan. Selama ini, puskesmas dan rumah sakit di Teluk Wondama masih mengandalkan catatan kertas yang rentan rusak, hilang, atau tercatat ganda. Akibatnya, proses rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap sering terhambat karena data pasien tidak terbaca atau tidak lengkap. Digitalisasi dianggap sebagai jalan keluar untuk memastikan kesinambungan pelayanan meski jarak dan sinyal menjadi kendala.
Ketua Tim 7 TEP UI, Dr Trevino Aristarkus Pakasi, menjelaskan bahwa pelatihan ini berangkat dari temuan langsung di lapangan. Menurutnya, sistem manual menyimpan celah besar: rekam medis bisa hilang, rusak, atau satu pasien memiliki beberapa berkas berbeda. "Jika tetap manual, data tidak bisa dipanggil kembali saat dibutuhkan mendesak," ujarnya dalam siaran pers yang diterima LyndHub.
Salah satu peserta, Siti Harlina, tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, mengaku materi pelatihan mudah dicerna meski ia bertugas di daerah dengan keterbatasan sinyal. Ia menuturkan, pencatatan digital membuat pelayanan lebih tertib dan data pasien lebih aman, terutama saat harus merujuk pasien ke fasilitas lain. "Kami jadi lebih memahami pentingnya transformasi digital. Proses rujukan antarfasilitas kini lebih mudah," kata Siti.
"Pemerintah harus datang kepada rakyat melalui teknologi." โ Presiden Prabowo Subianto dalam taklimat Sidang Kabinet Paripurna, Senin (20/7/2026).
Langkah TEP UI sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai digitalisasi layanan publik. Namun, implementasi di daerah terpencil seperti Teluk Wondama tidak sekadar soal perangkat lunak. Ketersediaan listrik, jaringan internet, dan perangkat keras menjadi prasyarat yang belum sepenuhnya terpenuhi. Tanpa dukungan infrastruktur berkelanjutan, pelatihan semacam ini berisiko berhenti di ruang pelatihan tanpa dampak jangka panjang.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan semangat mendampingi warga hingga pelosok. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada tahap pasca-pelatihan: apakah sistem RME akan terintegrasi dengan platform kesehatan nasional, dan apakah ada anggaran untuk pemeliharaan serta pelatihan lanjutan. Tanpa itu, digitalisasi kesehatan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) hanya akan menjadi proyek seremonial.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi soal kemauan, melainkan kesiapan ekosistem. Jika listrik dan internet belum stabil, bagaimana mungkin rekam medis elektronik bisa diandalkan? Pemerintah perlu memastikan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga menjamin konektivitas dan dukungan teknis berkelanjutan bagi tenaga kesehatan di garis depan.



