Rahasia Dapur Atlet: Suplemen Hanya Pelengkap, Bukan Kunci Utama Performa
Baca dalam 60 detik
- Hampir semua atlet elite mengonsumsi suplemen, namun para ahli menegaskan bahwa makanan utuh tetap menjadi fondasi utama performa.
- Pasar suplemen global diproyeksikan tumbuh hingga US$431,7 miliar pada 2033, didorong oleh tren kebugaran dan kebutuhan atlet.
- Risiko kontaminasi produk suplemen menjadi perhatian serius, dengan satu dari sepuluh produk berpotensi mengandung zat terlarang.

Di balik gemerlap podium Olimpiade, terdapat ritual harian yang jarang terlihat: konsumsi suplemen. Mulai dari kreatin hingga bubuk protein, hampir semua atlet elite mengandalkan produk ini untuk mengejar keunggulan kompetitif. Namun, para ahli gizi olahraga mengingatkan bahwa suplemen hanyalah 'roda pendorong', bukan mesin utama performa.
Fenomena ini bukan hal baru. Pada Olimpiade Barcelona 1992, tim atlet Inggris diam-diam menguji kreatin, sebuah senyawa yang kemudian merevolusi dunia olahraga. Kini, kreatin menjadi primadona di rak-rak supermarket dan media sosial, dengan jutaan orang mengonsumsinya. Namun, di balik popularitasnya, terdapat perdebatan tentang efektivitas, keamanan, dan etika penggunaannya.
Profesor Graeme Close dari Liverpool John Moores University, yang menangani nutrisi tim British and Irish Lions, menyatakan bahwa hampir 100% atlet yang ia tangani mengonsumsi suplemen. Namun, ia menekankan bahwa suplemen hanyalah 'bagian terakhir dari teka-teki'. "Atlet yang fokus pada makanan utuh sering kali lebih unggul karena mereka telah menguasai 99% aspek dasar, sementara yang lain hanya mengejar 1% keuntungan kecil," ujarnya.
Pasar suplemen global mencapai US$209,5 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh menjadi US$431,7 miliar pada 2033, menurut Grand View Research. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran kesehatan dan kebugaran, terutama di kalangan generasi muda. Di Indonesia, industri suplemen juga berkembang pesat, dengan produk lokal maupun impor yang mudah ditemukan di toko online maupun apotek.
Jenis suplemen yang paling umum digunakan atlet adalah protein bubuk, kreatin, dan vitamin D. Protein membantu perbaikan otot, kreatin menyediakan energi cepat untuk aktivitas intensitas tinggi, dan vitamin D mendukung kesehatan tulang. Selain itu, gel karbohidrat menjadi andalan dalam olahraga ketahanan, seperti yang terlihat pada rekor maraton sub-2 jam yang dicapai Sabastian Sawe tahun ini, di mana ia mengonsumsi 110 gram karbohidrat per jam.
Namun, penggunaan suplemen tidak lepas dari risiko. Badan Anti-Doping Dunia (WADA) hanya melarang zat yang memenuhi dua dari tiga kriteria: berbahaya bagi kesehatan, meningkatkan performa, atau bertentangan dengan semangat olahraga. Meski demikian, kontaminasi produk tetap menjadi ancaman. Program Informed Sport mencatat bahwa 8% pelanggaran anti-doping antara 2005-2022 disebabkan oleh produk terkontaminasi. Atlet seperti Heidi Long, peraih medali Olimpiade, bahkan mencatat nomor batch dan tanggal kedaluwarsa setiap produk yang dikonsumsinya untuk memastikan keamanan.
Di sisi lain, muncul tren 'food-first' yang mengedepankan makanan utuh. Biji teff, sereal kuno dari Ethiopia, mulai dilirik atlet dunia seperti Haile Gebrselassie dan Venus Williams. Kaya akan mineral, gluten-free, dan protein lengkap, teff menjadi alternatif alami yang semakin populer. Petinju Inggris Fran Hennessy mengaku teff memberikan energi dan membantu pemulihan, "Setiap makanan yang saya konsumsi memiliki tujuan, dan teff adalah bagian penting dari itu."
Bagi atlet Indonesia, pelajaran berharga dapat diambil: suplemen bukanlah pengganti pola makan seimbang. Dengan harga yang tidak murah, atlet perlu bijak memilih dan memprioritaskan kebutuhan. Seperti kata Heidi Long, "Saya lebih memilih menikmati kopi di pagi hari daripada mengonsumsi gel yang rasanya tidak enak. Makanan selalu lebih nikmat daripada suplemen."
Ke depan, pertanyaan yang muncul: apakah tren suplemen akan terus mendominasi, atau justru bergeser ke pendekatan alami? Dengan meningkatnya kesadaran akan keamanan dan efektivitas, mungkin kita akan melihat lebih banyak atlet yang kembali ke akar rumput: makanan utuh sebagai fondasi utama.



