Kemi Badenoch Klaim "Konservatif Sekolah Lama" di Tengah Krisis Identitas Partai
Baca dalam 60 detik
- Kemi Badenoch mendeklarasikan diri sebagai "konservatif sekolah lama" dan merilis dokumen 100 halaman berisi prinsip-prinsip politiknya.
- Partai Konservatif tertinggal dari Partai Buruh dan Reform UK dalam jajak pendapat pasca kekalahan elektoral 2024.
- Badenoch mengusulkan pemotongan anggaran bantuan luar negeri untuk membiayai 50.000 tempat penjara baru dan mengakhiri pembebasan dini narapidana.

Kemi Badenoch secara terbuka menyatakan dirinya sebagai "konservatif sekolah lama" saat membuka konferensi tahunan partainya di Birmingham, Inggris. Pernyataan itu disertai peluncuran dokumen setebal 100 halaman berjudul The Right Way, yang memuat prinsip-prinsip dasar kepemimpinannya. Langkah ini dinilai sebagai upaya mendesak untuk mendefinisikan ulang identitas Partai Konservatif yang tengah terpuruk.
Dalam wawancara dengan BBC, Badenoch menegaskan keyakinannya pada "akal sehat, kerja keras, dan imbalan atas usaha tersebut". Ia juga menyatakan bahwa kesejahteraan sosial seharusnya menjadi "jaring pengaman, bukan gaya hidup". Pernyataan ini muncul ketika Partai Konservatif masih tertinggal dari Partai Buruh dan Reform UK dalam berbagai survei, serta belum pulih dari kekalahan bersejarah pada pemilihan umum 2024.
Badenoch, yang popularitas personalnya melampaui partainya, melontarkan kritik pedas terhadap rival politiknya. Ia menyebut pemimpin Reform UK, Nigel Farage, sebagai "kakek pemarah", dan menggambarkan pemimpin Partai Buruh, Andy Burnham, sebagai "paman cheesy yang suka melontarkan lelucon bapak-bapak". Ia mendeskripsikan dirinya sebagai "ibu tanpa basa-basi". Ketika ditanya apakah rencana pemotongan tunjangan dan penambahan besar-besaran tempat penjara menandai kembalinya citra "partai jahat" masa lalu, ia menjawab: "Ini partai akal sehat. Itulah yang kami lakukan. Dan terus terang, jika cara lama berhasil, mengapa kita mengalami masalah besar pada 2024?"
Dalam esainya, Badenoch mengkritik keras pemerintahan Konservatif sebelumnya. Ia menilai partainya gagal karena tidak memiliki pegangan ideologis yang jelas. "Kami hampir tidak melakukan apa pun untuk membalikkan perubahan struktural yang dilakukan Partai Buruh, yang membawa negara ke arah salah. Akibatnya, negara tumbuh secara diam-diam," tulisnya. Ia juga menekankan bahwa pemerintahan Konservatif berikutnya akan berpegang pada satu prinsip sentral: pertumbuhan harus datang dari dunia usaha, bukan dari pemerintah.
Untuk mencapai pertumbuhan, Partai Konservatif berencana memangkas pajak, mengurangi regulasi, dan mengembalikan ukuran pegawai negeri sipil ke level sebelum pandemi. Dokumen itu juga menyatakan bahwa politik saat ini kekurangan orang yang berani mengatakan "tidak". "Partai politik perlu merekrut mereka yang memiliki keberanian untuk menolak tujuan baik ketika sumber daya tidak tersedia untuk melakukan semuanya," demikian bunyi esai tersebut.
Selain itu, Partai Konservatif berjanji mengakhiri "jurang" tunjangan anak, yang saat ini mendiskualifikasi orang tua berpenghasilan di atas ยฃ100.000. Mereka juga berkomitmen menyediakan 50.000 tempat penjara baru dengan memangkas anggaran bantuan luar negeri, guna menghentikan pembebasan dini narapidana. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa selama 14 tahun pemerintahan Konservatif, hanya sekitar 500 tempat penjara bersih yang tercipta, jauh dari target yang dicanangkan.
"Partai Konservatif terjebak di masa lalu dan sepenuhnya tidak memahami apa yang diinginkan rakyat Inggris. Kemi Badenoch ingin menyeret negara kita kembali ke politik yang mengecewakan banyak orang selama 40 tahun terakhir."
โ Bridget Phillipson, Ketua Partai Buruh
Kritik dari Partai Buruh menunjukkan bahwa upaya Badenoch untuk membangun citra baru tidak akan mudah. Partai Buruh menuduh Konservatif sebagai partai yang usang dan tidak relevan. Sementara itu, Badenoch berusaha menampilkan diri sebagai pemimpin yang tegas dan berprinsip, dengan mengacu pada warisan Margaret Thatcher melalui judul esainya yang sengaja dibuat mirip dengan esai Thatcher tahun 1976, The Right Approach.
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya identitas partai dan konsistensi ideologis. Ketika partai kehilangan arah, pemilih cenderung beralih ke alternatif lain. Pertanyaannya, akankah pendekatan "sekolah lama" Badenoch mampu mengembalikan kejayaan Konservatif, atau justru memperkuat posisi rival-rivalnya? Waktu yang akan membuktikan, tetapi konferensi di Birmingham menjadi panggung awal untuk menguji seberapa jauh strategi ini diterima.



