Ketika Sahabat Percaya Teori Konspirasi Kesehatan, Bagaimana Menjaga Hubungan?
Baca dalam 60 detik
- Psikoterapis menekankan bahwa hubungan yang sehat tidak memerlukan kolusi, melainkan kemampuan mendengarkan tanpa harus menyetujui.
- Perbedaan keyakinan soal kesehatan—dari suplemen hingga vaksin—sering memicu ketegangan karena masing-masing pihak merasa memiliki kebenaran.
- Menjaga rasa ingin tahu dan menghindari sikap defensif dapat memperkuat ikatan sosial, meski tidak selalu menyelesaikan perbedaan pandangan.

Percakapan santai dengan teman dekat bisa berubah menjadi debat sengit ketika topiknya menyentuh keyakinan soal kesehatan. Seorang pembaca mengungkapkan kegelisahannya kepada kolumnis The Guardian, Annalisa Barbieri, setelah teman-temannya mulai menganut pandangan yang dianggapnya tidak berdasar—mulai dari klaim bahwa kolesterol adalah kebohongan, gula menyebabkan kanker, hingga keraguan terhadap vaksin. Ia ingin tetap menghormati pilihan mereka, tetapi juga berharap pandangannya sebagai orang yang dibesarkan oleh ilmuwan tidak dianggap remeh.
Fenomena ini bukan hal baru. Di Indonesia, perdebatan serupa kerap muncul di grup WhatsApp keluarga atau lingkungan kerja, terutama sejak pandemi. Survei yang dilakukan sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap institusi medis dan obat-obatan tertentu cenderung terpolarisasi. Mereka yang memilih jalur pengobatan alternatif atau suplemen sering kali merasa telah menemukan 'informasi sebenarnya' yang disembunyikan oleh industri farmasi. Sebaliknya, kelompok yang berpegang pada bukti ilmiah merasa bahwa teman-temannya telah terjebak dalam narasi yang menyesatkan.
Psikoterapis Ryan Bennett-Clarke menilai bahwa hubungan yang sehat tidak harus dibangun di atas kesepakatan mutlak. "Diskursus yang sehat justru dapat memperkuat ikatan, asalkan kedua belah pihak mampu mendengarkan dan menunjukkan keinginan untuk memahami sudut pandang yang lain," ujarnya. Menurut Bennett-Clarke, seseorang bisa tetap memiliki pendirian sendiri tanpa harus menolak atau menyerang keyakinan orang lain. Rasa ingin tahu dan kasih sayang dapat hadir bersamaan dengan sikap kritis.
Dalam praktiknya, menghadapi teman yang getol menyebarkan teori konspirasi kesehatan membutuhkan taktik komunikasi yang halus. Barbieri menyarankan untuk tidak langsung membantah, melainkan merespons dengan kalimat seperti, "Menarik juga, dulu saya berpikir begitu sampai membaca penelitian X." Pendekatan ini menghindari posisi defensif yang justru memperkuat keyakinan lawan bicara. Jika memungkinkan, ajukan pertanyaan terbuka seperti, "Boleh cerita lebih banyak?" tanpa harus mengadopsi pandangan tersebut.
"Kita dapat mempertahankan hak untuk berpikir sendiri sambil tetap mempertimbangkan pengalaman dan keyakinan orang lain. Keinginan untuk dipahami dan merasa serupa dengan orang lain membantu kita merasa tidak sendirian. Namun kita bisa tetap menjalin kontak relasional dengan seseorang, bahkan ketika tidak berbagi pengalaman atau keyakinan yang sama." — Ryan Bennett-Clarke, psikoterapis
Meski demikian, tidak semua perbedaan bisa dijembatani. Jika hubungan hanya bertumpu pada topik yang memicu konflik, persahabatan itu lambat laun akan sulit dipertahankan. Barbieri mengakui bahwa mendengarkan beberapa teori memang melelahkan, tetapi memaksakan kehendak agar orang lain berubah pikiran hanya akan memperkeruh suasana. Dalam konteks Indonesia, di mana ikatan sosial dan keluarga sangat kuat, kemampuan mengelola perbedaan semacam ini menjadi keterampilan yang semakin relevan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah siapa yang benar, melainkan seberapa besar kita menghargai hubungan yang telah terbangun. Apakah kita rela kehilangan teman hanya karena perbedaan pandangan soal suplemen atau vaksin? Atau mampukah kita belajar untuk hidup berdampingan dengan ketidaksepakatan, tanpa mengorbankan rasa hormat dan empati?



