Melawan Sengatan Panas Jepang: Ahli Gizi Soroti Peran Makanan dan Sarapan Kaya Protein
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem di Jepang memicu kekhawatiran heatstroke, dengan ahli gizi menekankan pentingnya asupan makanan berair dan sarapan berprotein.
- Kelompok lansia menjadi paling rentan, menyumbang 85% kasus kematian akibat heatstroke, sehingga menjaga massa otot dan kebiasaan makan menjadi krusial.
- Rekomendasi menu tradisional Jepang seperti nasi dan sup miso dinilai efektif, sekaligus memberi inspirasi bagi adaptasi pola makan di negara tropis seperti Indonesia.

Tokyo, Jepang โ Di tengah musim panas yang kembali memecahkan rekor suhu, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa strategi pencegahan heatstroke tidak hanya bergantung pada air minum, tetapi juga pada pola makan harian. Kumiko Ebi, profesor nutrisi olahraga dari Universitas Ritsumeikan, menyoroti bahwa makanan dapat menjadi benteng pertahanan penting melawan sengatan panas, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkirakan suhu ekstrem akan bertahan hingga akhir Agustus di sebagian besar wilayah, dari Jepang timur hingga Okinawa, meskipun intensitasnya mulai melemah memasuki September. Kondisi ini menempatkan jutaan penduduk pada risiko dehidrasi dan heatstroke, sebuah kondisi medis serius yang dapat berujung pada kematian. Data menunjukkan, kelompok usia 65 tahun ke atas menyumbang sekitar 85 persen dari total kematian akibat heatstroke di Jepang, menjadikan mereka prioritas utama dalam upaya pencegahan.
Menurut Ebi, tubuh manusia memperoleh air tidak hanya dari minuman, tetapi juga dari makanan. Rata-rata orang mengonsumsi sekitar 1 hingga 1,5 liter cairan per hari, dan jumlah yang hampir setara didapat dari asupan makanan. Sayuran musim panas khas Jepang seperti mentimun, tomat, dan semangka memiliki kandungan air tinggi. Ebi bahkan menyebutnya sebagai "minuman olahraga yang bisa dimakan" ketika ditaburi sedikit garam, karena mampu menggantikan elektrolit yang hilang melalui keringat.
Selain sayuran, makanan berkuah seperti sup miso dan rebusan hangat dinilai sangat efektif. Makanan ini tidak hanya membantu hidrasi, tetapi juga mudah dicerna dan menjaga kesehatan lambung di tengah cuaca panas. Ebi menggarisbawahi bahwa konsumsi makanan dingin secara berlebihan justru dapat memicu masalah pencernaan, sementara sup hangat membantu menurunkan risiko heatstroke saat tubuh mulai melemah.
Ebi menekankan pentingnya menjaga massa otot, karena otot menyimpan air, sementara jaringan lemak hanya mengandung sedikit cairan. "Otot menyimpan air, tetapi jaringan lemak relatif sedikit mengandung air. Menjaga massa otot sangat penting untuk mencegah heatstroke yang disebabkan dehidrasi," jelasnya. Seiring bertambahnya usia, massa otot berkurang, kemampuan merasa haus menurun, dan fungsi ginjal melemah, sehingga produksi urine meningkat. Oleh karena itu, asupan protein saat sarapan menjadi kunci, seperti yang direkomendasikan Ebi.
Ia memberikan contoh menu sarapan tradisional Jepang yang kaya protein, seperti nasi dengan natto (kedelai fermentasi), serutan ikan cakalang, rumput laut mozuku, dan biji wijen, atau sup miso daging babi dengan pangsit tepung beras. "Saya berharap orang-orang pandai memadukan resep tradisional nasi dan kacang-kacangan, serta menikmati sarapan sederhana yang lezat," ujarnya. Bagi mereka yang sibuk, Ebi menyarankan bahan makanan praktis seperti biji wijen, rumput laut kering, ikan kecil, jamur, furikake, plum asin, dan makanan kaleng, yang dapat dengan cepat ditambahkan ke nasi, salad, atau sup.
Konteks Indonesia: Meskipun Jepang menghadapi musim panas ekstrem, Indonesia sebagai negara tropis memiliki tantangan serupa dengan kelembapan tinggi sepanjang tahun. Pola makan kaya air dan protein, seperti yang disarankan Ebi, dapat diadaptasi dengan bahan lokal, misalnya sup hangat, sayuran berkuah, dan lauk berprotein tinggi. Kesadaran akan pentingnya hidrasi dan sarapan bergizi menjadi relevan untuk mencegah dehidrasi, terutama bagi pekerja luar ruangan dan lansia di perkotaan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah rekomendasi berbasis budaya Jepang ini dapat diadopsi secara luas di negara-negara tropis dengan kebiasaan makan yang berbeda. Para ahli gizi mungkin perlu mengembangkan panduan lokal yang mempertimbangkan ketersediaan bahan pangan dan pola konsumsi masyarakat. Yang jelas, pesan Ebi bahwa "makanan adalah bagian dari strategi melawan panas" menawarkan perspektif baru dalam kampanye kesehatan masyarakat yang selama ini berfokus pada sekadar minum air putih.



