Elvis Costello Bongkar Playlist Jujur: Dari Hendrix hingga Kelis, dan Alasan di Balik Kebencian pada Pink Floyd
Baca dalam 60 detik
- Elvis Costello mengungkap daftar lagu yang membentuk hidupnya, mulai dari Jimi Hendrix hingga Frank Sinatra, dalam wawancara eksklusif.
- Ia mengaku tidak bisa mendengarkan Pink Floyd karena dianggap membosankan, namun mengapresiasi era Syd Barrett.
- Costello juga menyebut lagu yang ingin dimainkan di pemakaman dan alasan di balik pilihan ringtone yang mempengaruhi suasana hatinya.

Penyanyi dan penulis lagu legendaris Elvis Costello membuka lembaran playlist pribadinya dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, mengungkap lagu-lagu yang membentuk perjalanan musikalnya dari masa kanak-kanak hingga kini. Dari cinta pertamanya pada Jimi Hendrix sampai kebenciannya yang tak terbantahkan pada Pink Floyd, Costello berbicara blak-blakan tentang selera musik yang ia anggap sebagai cerminan jiwanya yang romantis.
Costello mengaku bahwa lagu pertama yang membuatnya jatuh cinta adalah "The Wind Cries Mary" dari Jimi Hendrix, yang dirilis pada 1967 saat usianya masih 12 tahun. Menurutnya, meskipun Hendrix dikenal dengan musik yang keluar, sisi emosional dalam karya gitaris itu justru memengaruhi gaya penulisan lagunya. "Saya jiwa yang romantis, jadi sisi emosional musiknya membawa saya ke arah itu," ujarnya.
Dalam sesi tersebut, Costello juga mengungkapkan bahwa ia tidak bisa lagi mendengarkan musik Pink Floyd. "Saya tidak pernah bisa, dan tidak akan pernah bisa. Musik mereka membosankan," tegasnya. Namun, ia memberikan pengecualian untuk lagu "See Emily Play" yang menurutnya penuh imajinasi dan keceriaan, meskipun setelah Syd Barrett keluar, band itu tidak lagi menarik baginya.
"Saya tidak pernah bisa, dan tidak akan pernah bisa. Musik mereka membosankan." โ Elvis Costello tentang Pink Floyd
Costello juga berbagi cerita tentang single pertama yang ia beli, yaitu EP "Fame at Last" dari Georgie Fame. Ia menabung uang sakunya untuk membeli rekaman itu di Potter's Music Shop di Richmond. Menurutnya, Georgie Fame memperkenalkannya pada banyak musisi besar seperti Gerry Goffin, Carole King, Louis Jordan, Ray Charles, hingga Lambert, Hendricks & Ross. "Itu pendidikan yang luar biasa bagi anak 11 tahun yang belum bisa memainkan alat musik," kenangnya.
Ketika ditanya tentang lagu yang diam-diam ia sukai, Costello menyebut "Milkshake" dari Kelis. Ia mengaku tidak bisa menyembunyikan kesukaannya pada lagu itu. Sementara untuk lagu yang ingin dimainkan di pemakaman, ia memilih "Keepin' Out of Mischief Now" dari Louis Armstrong. Ia juga mengungkapkan bahwa lagu yang membangunkannya di pagi hari adalah "Armagideon Time" dari The Clash, karena ringtone "Good Morning" dari Singin' in the Rain justru membuatnya murung.
Menariknya, Costello mengaku tidak pernah mengikuti karaoke. "Karaoke? Tentu tidak. Saya melakukan ini untuk mencari nafkah. Apakah Anda akan menyuruh kakek buyut saya menggali parit untuk bersenang-senang?" sindirnya. Ia lebih memilih menikmati Bill Murray yang menyanyikan "(What's So Funny 'Bout) Peace, Love and Understanding" dalam film Lost in Translation.
Dalam wawancara itu, Costello juga menyebut lagu "'Cross the Green Mountain" dari Bob Dylan sebagai lagu yang liriknya ia hafal di luar kepala. Menurutnya, lagu itu adalah salah satu karya terbaik Dylan, penuh dengan citra Perang Saudara Amerika yang menyentuh dan melibatkan emosi.
Bagi penggemar di Indonesia, playlist Costello ini bisa menjadi jendela untuk memahami akar musikalitas seorang legenda. Meskipun ia tidak secara spesifik menyebut musisi Indonesia, pengaruh Georgie Fame dan Jimi Hendrix yang ia sebutkan juga dirasakan oleh banyak musisi tanah air, terutama di era 70-an. Lagu-lagu seperti "The Wind Cries Mary" dan "Armagideon Time" mungkin tidak asing bagi penikmat musik blues dan reggae di Indonesia.
Dengan perilisan ulang album debutnya, My Aim Is True edisi 49 tahun, Costello seakan mengajak pendengar untuk menelusuri kembali perjalanan musiknya. Playlist yang ia bagikan bukan sekadar daftar lagu, tetapi juga potret seorang seniman yang setia pada seleranya sendiri, bahkan jika itu berarti menolak arus utama.
Ke depannya, apakah pengakuan Costello ini akan memengaruhi cara penggemar menilai Pink Floyd? Atau justru memperkuat posisi kedua kubu? Yang jelas, bagi Costello, musik adalah soal kejujuran rasa, bukan sekadar tren.



