Kopi dan Kesehatan Metabolik: Studi Baru Ungkap Kaitan dengan Lemak Perut dan Massa Otot
Baca dalam 60 detik
- Studi di Finlandia melibatkan 2.200 partisipan menunjukkan peminum kopi rutin memiliki profil lemak lebih rendah dan massa otot lebih tinggi.
- Temuan ini mengaitkan konsumsi kopi dengan penurunan asam amino rantai cabang (BCAA), biomarker risiko diabetes dan penyakit jantung.
- Para ahli menekankan bahwa kopi bukanlah solusi tunggal; pola makan dan gaya hidup tetap fondasi utama kesehatan metabolik.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di European Journal of Nutrition menemukan bahwa kebiasaan minum kopi dapat berkaitan dengan komposisi tubuh yang lebih sehat, termasuk berkurangnya lemak visceral dan peningkatan massa otot rangka. Temuan ini menambah bukti bahwa kopi, salah satu minuman paling populer di dunia, mungkin memiliki peran dalam menjaga kesehatan kardiometabolik, melampaui sekadar efek kafein.
Penelitian yang menganalisis data lebih dari 2.200 partisipan dari Northern Finland Birth Cohort 1966 ini mengamati kebiasaan konsumsi kopi serta berbagai indikator kesehatan seperti indeks massa tubuh (BMI), rasio pinggang-pinggul, persentase lemak tubuh, dan massa otot. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi kopi dalam jumlah tertinggi cenderung memiliki lemak total dan visceral lebih rendah, serta massa otot yang lebih baik, bahkan ketika BMI mereka serupa dengan non-peminum kopi.
Luca Verroest, peneliti doktoral di University of Oulu sekaligus penulis utama studi, menjelaskan bahwa BMI saja tidak cukup untuk menggambarkan perbedaan komposisi tubuh yang signifikan. "Orang dengan BMI yang sama bisa memiliki proporsi lemak dan otot yang sangat berbeda," ujarnya. Temuan ini menyoroti bahwa peminum kopi rutin mungkin memiliki profil tubuh yang lebih ramping, yang tidak terlihat jika hanya mengandalkan BMI.
Selain itu, studi ini menemukan korelasi antara konsumsi kopi yang lebih tinggi dengan kadar asam amino rantai cabang (BCAA) yang lebih rendah dalam darah. BCAA dikenal sebagai biomarker kesehatan metabolik, dan kadarnya yang tinggi sering dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Verroest mencatat bahwa kopi bukanlah sumber BCAA, sehingga penurunan ini mungkin mencerminkan metabolisme yang lebih baik, meskipun hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.
Menariknya, efek kopi tampaknya berbeda antara pria dan wanita. Pada pria, konsumsi kopi yang lebih tinggi dikaitkan dengan profil glukosa-insulin yang lebih baik, serta peningkatan kadar testosteron total dan bioavailable, dan sex hormone-binding globulin (SHBG). Verroest menyebut ini sebagai "sidik jari" metabolik yang berbeda antara jenis kelamin, yang menunjukkan bahwa kopi mungkin mempengaruhi hormon secara berbeda.
Para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini memberikan perspektif tambahan. Mir Ali, seorang ahli bedah bariatrik, menyatakan bahwa temuan ini memperkuat bukti bahwa kafein memiliki manfaat untuk penurunan berat badan dan kesehatan secara umum, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Sementara itu, Monique Richard, seorang ahli gizi terdaftar, mengingatkan bahwa kopi hanyalah salah satu bagian dari teka-teki metabolik yang lebih besar. "Saya lebih suka melihat kopi sebagai pelengkap pola makan yang kaya protein dan serat, serta gaya hidup aktif, daripada mengandalkan kopi semata," katanya.
Richard juga menekankan pentingnya cara penyajian kopi. "Kopi hitam secara metabolik sangat berbeda dengan minuman kopi 500 kalori yang penuh gula dan sirup," jelasnya. Ia menyarankan agar konsumen memperhatikan jenis kopi, jumlah, waktu konsumsi, dan apa yang ditambahkan ke dalamnya.
Bagi masyarakat Indonesia, di mana kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, temuan ini memberikan perspektif baru. Meskipun demikian, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga tidak dapat membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan perubahan tersebut. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah kebiasaan minum kopi yang sudah mengakar di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi pencegahan penyakit metabolik, atau justru perlu diimbangi dengan intervensi gaya hidup lainnya? Penelitian lebih lanjut, terutama di populasi Asia Tenggara, diperlukan untuk menjawabnya.



