Golkar Lakukan Rotasi Besar-besaran: Ketua Komisi X dan XII DPR Berganti
Baca dalam 60 detik
- Fraksi Golkar DPR RI merombak sejumlah posisi pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) melalui surat resmi bernomor SJ.00.1384 FPG/DPR RI/VIII/2026.
- Perombakan ini dipicu oleh peralihan Sari Yuliati ke kursi Wakil Ketua DPR RI, yang kemudian memicu efek berantai pada sejumlah komisi dan posisi strategis lain.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya konsolidasi internal partai menjelang dinamika politik nasional, dengan menempatkan kader senior di posisi kunci.

Fraksi Partai Golkar DPR RI resmi merombak jajaran pimpinan komisi dan alat kelengkapan dewan (AKD) melalui surat bernomor SJ.00.1384 FPG/DPR RI/VIII/2026 yang ditujukan kepada Sekretariat Jenderal DPR RI. Ketua Fraksi Golkar, M Sarmuji, membenarkan rotasi tersebut, yang mencakup penggantian Ketua Komisi X dan Ketua Komisi XII DPR RI.
Berdasarkan surat yang beredar, Agung Widyantoro kini memimpin Komisi X DPR, menggantikan Hetifah Sjaifudian. Sementara itu, Melchias Markus Mekeng dipercaya memimpin Komisi XII DPR, posisi yang sebelumnya dipegang Bambang Patijaya. Perubahan ini tidak berhenti di tingkat ketua; sejumlah wakil ketua komisi juga ikut dirotasi, seperti Agun Gunanjar Sudarsa yang menggantikan Zulfikar Arse Sadikin di Komisi II, Daniel Mutaqien Syafiuddin yang mengisi posisi Wakil Ketua Komisi III, dan Hanan A Rozak yang kini menjabat Wakil Ketua Komisi IV.
Rotasi ini merupakan respons atas pergeseran internal partai, terutama setelah Sari Yuliati ditetapkan sebagai Wakil Ketua DPR RI menggantikan Adies Kadir yang menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Konsekuensinya, posisi Sekretaris Fraksi Golkar yang sebelumnya dipegang Sari kini diisi oleh Gde Sumarjaya Linggih. Selain itu, Agung Widyantoro yang sebelumnya menjabat Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) kini digantikan oleh Hasan Basri Agus.
Langkah ini menunjukkan upaya Golkar untuk menata ulang kekuatan politiknya di parlemen. Penempatan kader-kader senior seperti Melchias Markus Mekeng, yang memiliki pengalaman panjang di bidang anggaran, mengindikasikan fokus partai pada pengawasan keuangan negara. Sementara itu, masuknya Agung Widyantoro ke Komisi X yang membidangi pendidikan dan kebudayaan bisa menjadi sinyal prioritas partai pada isu-isu sumber daya manusia.
Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, rotasi ini merupakan hal yang lazim terjadi di tengah periode kepemimpinan. “Pergantian pimpinan AKD adalah bagian dari dinamika politik internal partai. Ini bisa menjadi ajang kaderisasi sekaligus alat untuk menjaga keseimbangan kekuatan antar faksi,” ujarnya. Ia menambahkan, langkah ini juga bisa dibaca sebagai persiapan partai menghadapi agenda legislasi ke depan, terutama yang berkaitan dengan pembahasan APBN dan pengawasan pemerintah.
Bagi publik Indonesia, rotasi ini memiliki implikasi terhadap efektivitas kerja DPR. Komisi X dan XII adalah dua komisi yang menangani sektor strategis—pendidikan dan kebudayaan, serta energi, lingkungan hidup, dan investasi. Pergantian pimpinan di kedua komisi tersebut berpotensi mengubah arah kebijakan dan prioritas pembahasan. Masyarakat tentu berharap para pejabat baru dapat segera beradaptasi dan membawa kinerja yang lebih baik, terutama dalam mengawal isu-isu yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana para pimpinan baru ini akan menjalankan tugasnya di tengah situasi politik yang dinamis. Mampukah mereka menjaga independensi dan profesionalisme DPR? Atau justru rotasi ini akan semakin menguatkan tarik-menarik kepentingan politik di parlemen? Publik akan terus mengawal kinerja mereka, dan rotasi ini menjadi ujian bagi konsolidasi internal Golkar dalam menghadapi tahun-tahun politik mendatang.



