Gelombang Penolakan Terhadap Infantino Makin Meluas: Pemecatan COO FIFA Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Pemecatan Kevin Lamour memicu mundurnya dukungan dari sejumlah federasi dan pejabat FIFA terhadap Gianni Infantino.
- Krisis kepemimpinan ini menambah tekanan pada Infantino menjelang pemilihan kembali Maret 2026, dengan tiga konfederasi menuntut pengunduran dirinya.
- Masa depan FIFA bergantung pada kemampuan Infantino mempertahankan dukungan dari federasi Afrika dan Amerika Selatan, serta tuntutan transparansi yang semakin kuat.

Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin memuncak setelah pemecatan Chief Operating Officer (COO) Kevin Lamour memicu gelombang penolakan baru dari sejumlah federasi sepak bola nasional dan pejabat tinggi FIFA. Langkah tersebut dinilai sebagai "pukulan terakhir" oleh Sandor Csanyi, wakil presiden FIFA asal Hongaria, yang langsung mencabut dukungannya terhadap Infantino.
Lamour, yang dipecat pada pekan ini, sebelumnya mengkritik rencana Infantino untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia dan turnamen lainnya kepada investor swasta. Dalam suratnya kepada Infantino, Csanyi menegaskan bahwa pemecatan Lamour menunjukkan kelemahan dalam penilaian profesional, standar etika, dan kepemimpinan. "Fakta bahwa pemecatannya dipicu oleh kritik terhadap inisiatif yang Anda sendiri akui keliru, menunjukkan kekurangan serius," tulis Csanyi, seperti dikutip Reuters.
Krisis ini tidak hanya berhenti di Csanyi. Dejan Savicevic, anggota Dewan FIFA dari Montenegro, juga menarik dukungannya terhadap pencalonan Infantino untuk periode keempat. Dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom, Savicevic menyoroti kurangnya komunikasi dan transparansi dalam tubuh FIFA, baik terhadap asosiasi anggota maupun Dewan FIFA sendiri. Ia menuntut tinjauan menyeluruh atas tindakan kepemimpinan FIFA.
Selain itu, Federasi Sepak Bola Israel (IFA) secara bulat memutuskan untuk tidak mendukung Infantino, menyusul langkah serupa dari Wales yang menjadi federasi pertama yang secara resmi menarik dukungan. Noel Mooney, CEO Asosiasi Sepak Bola Wales, bahkan mendesak Infantino untuk mundur setelah rencana "menjual perhiasan mahkota" tersebut gagal.
Di tengah gempuran kritik, Infantino masih memiliki kantong suara dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Amerika Selatan (CONMEBOL). Presiden CAF, Patrice Motsepe, mengingatkan bahwa upaya untuk menjatuhkan Infantino harus dilakukan secara demokratis melalui 211 asosiasi anggota FIFA dalam pemilihan tahun depan. Namun, ia enggan berkomentar lebih jauh setelah pemecatan Lamour.
Bagi Indonesia, dinamika internal FIFA ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa keputusan di tingkat global dapat berdampak pada alokasi dana pembangunan sepak bola, penyelenggaraan turnamen, dan posisi Indonesia dalam peta sepak bola internasional. Publik Indonesia, yang kerap menyuarakan tuntutan reformasi di PSSI, tentu berharap FIFA dapat menjadi contoh tata kelola yang baik, bukan justru terjerat dalam pusaran kontroversi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu bertahan menghadapi badai ini atau justru semakin terisolasi. Dengan dukungan yang mulai terkikis, terutama dari Eropa, langkah Infantino untuk mengamankan masa depannya akan menjadi ujian bagi kredibilitas FIFA sebagai organisasi induk sepak bola dunia. Apakah ia akan berusaha merangkul kembali para pengkritiknya, atau justru semakin memperdalam jurang perpecahan?



