Depay Bela Video Musik Kontroversial: Api di Markas Corinthians Hanya 'Seni'
Baca dalam 60 detik
- Pemain Timnas Belanda, Memphis Depay, menegaskan video klip 'Don't Panic' yang menampilkan markas Corinthians terbakar adalah karya seni, bukan provokasi.
- Kontroversi muncul di tengah ketegangan kontrak yang baru saja mereda setelah Depay setuju memangkas gajinya secara signifikan untuk bertahan di klub Brasil tersebut.
- Keputusan Depay untuk tetap di Corinthians hingga 2028 menyoroti dinamika finansial klub dan potensi dampaknya terhadap stabilitas tim di kompetisi domestik maupun internasional.

Memphis Depay, bintang Timnas Belanda, angkat bicara terkait video musik terbarunya yang memicu kontroversi. Dalam video klip berjudul 'Don't Panic', Depay terlihat menyaksikan markas Corinthians, Parque Sรฃo Jorge, dilalap api. Ia menegaskan bahwa karya tersebut hanyalah ekspresi seni, bukan ajakan untuk melakukan kekerasan.
Video tersebut dirilis hanya 24 jam setelah Depay membantu Corinthians melaju ke perempat final Copa Libertadores. Kemunculannya langsung menjadi sorotan, terutama karena bertepatan dengan gejolak internal klub terkait masalah keuangan dan tata kelola. Para pendukung Corinthians memang tengah melancarkan protes terhadap kepemilikan klub, dan video ini dinilai sebagian pihak sebagai bentuk dukungan terhadap aksi tersebut.
Depay, yang pernah memperkuat Manchester United, menegaskan bahwa video itu telah direkam beberapa bulan lalu, jauh sebelum protes terbaru terjadi. "Saya berharap protes berjalan damai dan semua orang bisa menyampaikan pendapat dengan tenang. Soal musik saya, saya tegaskan itu hanya seni," tulisnya di media sosial. Ia juga menambahkan bahwa dirinya menentang segala bentuk kekerasan.
Kontroversi ini muncul di tengah dinamika negosiasi kontrak yang sempat memanas. Pada 11 Agustus lalu, Depay menuding Corinthians bersikap tidak profesional karena menarik kembali perpanjangan kontrak yang telah disepakati. Namun, seminggu kemudian, presiden klub Osmar Stabile mengumumkan bahwa Depay setuju untuk memangkas tuntutan finansialnya secara signifikan demi menandatangani kontrak baru hingga 2028.
Menurut laporan ESPN Brasil, Depay bersedia melepas sekitar R$21 juta (sekitar Rp58 miliar) dari total R$75 juta yang menjadi haknya. Kesepakatan baru ini bernilai total R$135 juta dan mencakup skema pembayaran utang yang dijadwalkan dalam empat tahap mulai Januari 2027. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran finansial klub yang saat ini menempati posisi kesembilan di Serie A Brasil.
Keputusan Depay untuk bertahan di Corinthians menjadi sorotan karena ia adalah salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di klub. Pemotongan gaji yang signifikan ini menunjukkan komitmennya terhadap klub, meskipun ada ketegangan di belakang layar. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan finansial klub dalam jangka panjang.
Bagi pengamat sepak bola, kasus Depay menjadi contoh bagaimana negosiasi kontrak di klub-klub Amerika Selatan sering kali melibatkan skema utang dan restrukturisasi pembayaran. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, di mana klub-klub harus bernegosiasi dengan pemain bintang untuk menyeimbangkan anggaran. Hal ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya tata kelola keuangan yang transparan di klub sepak bola.
Depay, yang gagal mencetak gol dalam tiga penampilannya saat Belanda tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026, kini fokus membantu Corinthians di sisa musim. Dengan kontrak baru yang aman, ia diharapkan bisa tampil maksimal dan membawa klub meraih prestasi lebih tinggi. Pertanyaannya, apakah kontroversi video ini akan memengaruhi performanya di lapangan?



