Menhan Sjafrie Sinyalkan Kedatangan Pesawat Tempur Baru dalam Jumlah Besar, Kemandirian Alutsista Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengindikasikan pengadaan pesawat tempur dan transportasi dalam skala lebih besar untuk TNI AU.
- Pernyataan itu muncul setelah PT GMF berhasil melakukan perawatan berat Hercules C-130H, menandai lompatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.
- Kedatangan pesawat baru, termasuk Rafale dan KF-21, akan diiringi transfer teknologi dan perawatan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pihak asing.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memberi isyarat bahwa Indonesia akan segera menerima tambahan pesawat tempur dan transportasi militer dalam jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela serah terima pesawat Hercules C-130H yang baru saja menjalani perawatan berat di hanggar PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (19/2). Sinyal ini muncul di tengah agenda modernisasi alutsista TNI AU yang tengah berjalan, sekaligus menegaskan arah baru kebijakan pertahanan yang menekankan kemandirian industri dalam negeri.
Sjafrie tidak merinci jumlah pasti maupun jadwal kedatangan armada baru tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa setiap pesawat yang masuk nantinya akan menjalani perawatan dan pemeliharaan mesin oleh industri pertahanan nasional. "Ke depan kita akan mendapatkan jumlah pesawat transportasi dan juga pesawat tempur yang lebih besar," ujarnya, seperti dikutip dari Antara. Ia menambahkan, "Jadi kita tidak hanya membeli alatnya, tapi kita beli sistemnya."
Pernyataan tersebut menjadi penegasan atas komitmen pemerintah untuk memutus ketergantungan pada perusahaan alutsista asing. Keberhasilan GMF dalam merawat Hercules C-130H kelas berat menjadi bukti bahwa industri penerbangan nasional mampu menangani pekerjaan yang sebelumnya hanya dipercayakan kepada Lockheed Martin. Capaian ini dinilai sebagai tonggak penting dalam penguatan ekosistem pertahanan dalam negeri, sejalan dengan rencana pemerintah menjadikan fasilitas MRO Kertajati sebagai bengkel resmi pesawat tempur TNI AU.
Di sisi lain, TNI AU memang tengah menanti kedatangan sejumlah pesawat tempur anyar. Enam unit Dassault Rafale dari total 42 pesawat yang dikontrak telah tiba, dan sisanya akan menyusul secara bertahap. Selain itu, jet tempur KF-21 Boramae hasil kerja sama dengan Korea Selatan juga dikabarkan akan memperkuat skuadron. Dengan adanya tambahan armada ini, kebutuhan akan perawatan berkala dipastikan meningkat, dan di sinilah peran industri dalam negeri menjadi krusial.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar soal modernisasi militer. Di tengah ketegangan geopolitik di kawasan, kemampuan memelihara alutsista secara mandiri menjadi faktor penentu kesiapan pertahanan. Lebih dari itu, kebijakan "beli sistem" yang digaungkan Sjafrie berpotensi membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia lokal, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional. Para pengamat menilai, jika konsistensi ini dijaga, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar bagi produsen senjata global, tetapi juga mitra yang diperhitungkan.
Namun, tantangan tetap membentang. Skala pengadaan yang besar menuntut kesiapan anggaran dan kapasitas industri yang mumpuni. Pertanyaannya, apakah industri dalam negeri mampu memenuhi standar kualitas yang disyaratkan untuk pesawat-pesawat canggih seperti Rafale dan KF-21? Keberhasilan GMF pada Hercules menjadi modal awal, tetapi ujian sebenarnya masih menanti.
Ke depan, publik akan mencermati realisasi pengadaan ini, terutama dari sisi transparansi anggaran dan efektivitas transfer teknologi. Satu hal yang pasti: arah kebijakan pertahanan Indonesia sedang bergeser menuju kemandirian, dan dunia akan menyaksikan apakah ambisi itu mampu diwujudkan.



