Kyrgios Disanksi Sementara Usai Positif Kokain, Karier di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Petenis Australia Nick Kyrgios menjalani skorsing sementara setelah sampelnya pada Mallorca Open Juni lalu mengandung metabolit kokain.
- Jika terbukti mengonsumsi di luar kompetisi, hukuman maksimalnya hanya tiga bulan; namun jika tidak, ia bisa digantung hingga empat tahun.
- Kyrgios mengakui kesalahannya dan memutuskan mundur sementara dari sorotan publik selama 28 hari untuk memulihkan diri.

Nick Kyrgios, petenis Australia yang pernah menembus final Wimbledon 2022, resmi menjalani skorsing sementara setelah sampel urinnya yang diambil pada turnamen Mallorca Open, 22 Juni lalu, dinyatakan positif mengandung benzoylecgonine—zat metabolit kokain. Badan Integritas Tenis Internasional (ITIA) mengumumkan larangan tersebut berlaku sejak 4 Agustus, dan hingga kini Kyrgios belum mengajukan banding.
Kabar ini menjadi pukulan telak bagi pebulu tangkis berusia 31 tahun yang musim ini hanya tampil dalam empat pertandingan tunggal. Cedera lutut dan pergelangan tangan yang berkepanjangan membuat performanya jauh dari kata prima. Terakhir kali ia berlaga di nomor ganda putra Wimbledon, langsung tersingkir di babak pertama bersama Alexander Bublik. Kini, masa depannya di dunia tenis menggantung—skorsing ini melarangnya bertanding, melatih, atau bahkan menghadiri turnamen Grand Slam dan ajang resmi ATP/WTA hingga sidang pengadilan selesai.
Dalam pernyataan panjang di Instagram, Kyrgios mengakui "kesalahan besar" dan menerima tanggung jawab penuh. Ia mengaku cedera yang dideritanya selama bertahun-tahun telah "menggerogoti mental dan fisik". "Tubuh saya tidak mampu melakukan apa yang pikiran saya harapkan," tulisnya. Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada penggemar, keluarga, sponsor, dan terutama anak-anak yang mengikutinya. "Saya tahu contoh yang saya berikan ini, dan saya sangat kecewa pada diri sendiri," tambahnya.
Kyrgios memutuskan untuk menarik diri dari media sosial dan kehidupan publik selama 28 hari ke depan untuk "fokus memulihkan diri". Langkah ini dinilai sebagai upaya menenangkan situasi, sekaligus memberi ruang bagi proses hukum yang berjalan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah ini akhir dari karier seorang petenis yang dikenal brilian namun kontroversial?
Kokain masuk dalam daftar zat terlarang WADA sebagai stimulan dan zat yang disalahgunakan. Jika Kyrgios bisa membuktikan bahwa ia mengonsumsi kokain di luar masa kompetisi, hukuman maksimalnya hanya tiga bulan. Sebaliknya, jika terbukti mengonsumsi saat turnamen—mengingat sampel diambil saat Mallorca Open—ia menghadapi larangan hingga empat tahun. ITIA menegaskan bahwa sampel tersebut diambil saat turnamen, di mana Kyrgios kalah di babak pertama dari Adam Walton.
Kontroversi memang bukan hal baru bagi Kyrgios. Sepanjang kariernya, ia kerap menuai kritik karena ulahnya di lapangan—merusak raket, melontarkan kata-kata kasar, dan berdebat dengan wasit—yang berujung pada denda besar. Pada 2023, ia mengaku menyerang mantan pacarnya dan lolos dari hukuman pidana. Ia juga pernah dikritik karena komentar misoginis dan membagikan unggahan Andrew Tate, tokoh kontroversial yang mengaku misoginis. Ironisnya, ia justru vokal mengkritik penanganan kasus doping Jannik Sinner dan Iga Swiatek, menyebutnya "memuakkan" bagi tenis.
Di balik citra kontroversialnya, Kyrgios adalah pemain berbakat. Ia telah memenangkan tujuh gelar tunggal ATP, termasuk final Wimbledon 2022 yang kalah dari Novak Djokovic. Bersama Thanasi Kokkinakis, ia merebut gelar ganda Australia Terbuka 2022. Namun, perjalanan kariernya juga diwarnai perjuangan melawan masalah kesehatan mental. Ia pernah mengaku "benar-benar memikirkan bunuh diri" dan dirawat di rumah sakit jiwa di London setelah kekalahan di Wimbledon 2019.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa doping dan perilaku kontroversial bisa menghancurkan karier atlet papan atas. Di tengah maraknya kasus serupa di dunia olahraga, integritas menjadi isu krusial. Pertanyaannya, mampukah Kyrgios membuktikan bahwa ia layak mendapat keringanan hukuman? Atau akankah ini menjadi babak pamungkas dari karier yang penuh gejolak?



