Krisis Kepemimpinan FIFA: Bos FAW Desak Infantino Mundur
Baca dalam 60 detik
- Kepala Eksekutif FAW, Noel Mooney, secara terbuka meminta Gianni Infantino mengundurkan diri dari kursi presiden FIFA.
- Langkah ini menyusul rencana kontroversial FIFA menjual 21% saham komersial Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan, namun telah merusak kepercayaan.
- Wales menjadi asosiasi sepak bola pertama di Inggris yang menarik dukungan untuk Infantino, memicu gelombang tekanan terhadap kepemimpinannya.

Tekanan terhadap Gianni Infantino untuk meninggalkan kursi presiden FIFA semakin nyata. Noel Mooney, Kepala Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW), secara terang-terangan mendesak pria asal Swiss itu untuk mundur, menyusul rencana kontroversial yang sempat mengguncang tatanan sepak bola global.
Rencana yang dimaksud adalah upaya FIFA membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisinya, termasuk Piala Dunia, dengan menawarkan 21% saham kepada investor swasta. Meski langkah itu akhirnya dibatalkan, Mooney menilai dampaknya telah meninggalkan luka mendalam bagi integritas organisasi. "Jika saya duduk bersama Gianni sekarang, saya akan bilang dia punya karier yang sangat baik," ujarnya kepada BBC Radio 5 Live Breakfast, "tetapi dengan episode ini, saya rasa dia harus mempertimbangkan untuk mundur."
Mooney, yang pernah bekerja berdampingan dengan Infantino di UEFA, mengakui sejumlah kontribusi positif presiden FIFA tersebut, seperti program pengembangan teknis yang digagas Arsene Wenger. Namun, ia menegaskan bahwa "bahaya yang telah ditimbulkan pada sepak bola" akibat rencana penjualan aset berharga itu tidak bisa ditoleransi. Baginya, ini bukan sekadar kebijakan yang gagal, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
Wales sendiri telah menjadi pelopor penolakan. Pekan ini, FAW secara resmi menarik dukungannya terhadap upaya Infantino untuk kembali memimpin FIFA. Sikap ini diikuti oleh sejumlah asosiasi lain, termasuk Skotlandia, yang sebelumnya juga menyatakan keberatan. Mooney berharap langkah Wales menjadi katalis bagi perubahan yang lebih luas. "Akan ada banyak diskusi dalam beberapa pekan ke depan," katanya, seraya menambahkan bahwa ia berharap Infantino sedang merenungkan posisinya.
Di luar tuntutan mundur, Mooney menyoroti persoalan struktural yang lebih dalam: konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar pada satu orang. Ia menyerukan audit menyeluruh terhadap tata kelola, proses, dan struktur FIFA, yang menurutnya harus dipimpin oleh pihak independen, bukan oleh presiden sendiri. "Terlalu banyak kekuasaan berada di tangan satu orang," tegasnya, "dan kepercayaan banyak asosiasi telah hancur. Hanya tinjauan penuh yang tidak dipimpin oleh presiden FIFA yang bisa memulai proses membangun kembali kepercayaan."
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia berkepentingan atas tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Kasus ini mengingatkan pada pentingnya akuntabilitas dalam organisasi olahraga global, terutama ketika keputusan-keputusan besar dapat berdampak pada alokasi dana pembangunan sepak bola di negara berkembang. Jika Infantino akhirnya mundur, proses transisi kepemimpinan FIFA akan menjadi sorotan, dan Indonesia perlu memastikan suaranya didengar dalam forum-forum pengambilan keputusan.
Pertanyaan besarnya kini: akankah tekanan ini cukup kuat untuk menggulingkan Infantino, atau justru akan memperkuat posisinya? Mooney sendiri mengaku tidak yakin, tetapi ia menegaskan bahwa perubahan harus datang. "Kita lihat saja apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan," ujarnya. Sementara itu, dunia sepak bola menunggu langkah selanjutnya dari presiden yang telah memimpin FIFA sejak 2016 ini.



