Shakhtar Donetsk Pindah Kandang ke Stamford Bridge untuk Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Klub Ukraina itu akan memainkan laga kandang fase liga di markas Chelsea London, menyusul larangan bermain di dalam negeri akibat konflik.
- Kepindahan ini dimungkinkan karena Chelsea gagal lolos ke kompetisi Eropa musim ini, sehingga stadion mereka kosong untuk disewa.
- Langkah ini menandai babak baru pengungsian panjang Shakhtar, yang telah berpindah-pindah stadion di berbagai negara sejak 2014.

Shakhtar Donetsk, juara bertahan Liga Ukraina, resmi mengumumkan akan menggunakan Stamford Bridge, markas Chelsea di London, sebagai kandang sementara untuk laga-laga fase liga Liga Champions musim ini. Keputusan ini diumumkan kedua klub pada Jumat (21/8) dan langsung memicu perhatian publik sepak bola Eropa, mengingat sejarah panjang pengungsian klub asal Donetsk tersebut.
Sejak konflik di Ukraina timur pecah pada 2014, Shakhtar kehilangan akses ke Donbas Arena, stadion kebanggaan mereka. Mereka kemudian mengembara ke berbagai kota, mulai dari Kyiv dan Lviv untuk laga domestik, hingga Hamburg, Warsawa, Gelsenkirchen, Krakow, dan Ljubljana untuk pentas Eropa. Kini, London menjadi pelabuhan baru dalam pengembaraan panjang itu, sebuah ironi mengingat hubungan historis antara Chelsea dan oligarki Rusia, Roman Abramovich, yang pernah menjadi pemilik klub London tersebut.
Ketersediaan Stamford Bridge musim ini tidak lepas dari kegagalan Chelsea menembus kompetisi Eropa setelah finis di peringkat ke-10 Premier League musim lalu. Dengan kapasitas sekitar 40.000 penonton, stadion yang terkenal dengan atmosfernya yang khas itu akan menjadi saksi perjuangan Shakhtar di panggung tertinggi antarklub Eropa. Bagi Chelsea, kerja sama ini menjadi peluang untuk tetap menghidupkan stadion dan memperkuat citra klub di tengah musim tanpa Eropa.
Dalam pernyataan resminya, Shakhtar menyampaikan rasa terima kasih kepada Chelsea atas kesempatan ini. Mereka menyebut Stamford Bridge sebagai salah satu stadion paling terkenal di dunia, dengan sejarah dan atmosfer yang luar biasa. "Kami yakin pertandingan Shakhtar di London akan memberikan emosi yang tak terlupakan bagi penggemar Ukraina dan Inggris," demikian bunyi pernyataan tersebut. Sementara itu, Chelsea menegaskan komitmennya untuk bekerja sama erat dengan tim Shakhtar demi kelancaran dan keamanan setiap pertandingan.
Langkah ini tidak hanya menjadi solusi logistik bagi Shakhtar, tetapi juga memiliki dimensi politik yang kuat. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, klub-klub Ukraina mendapat dukungan luas dari komunitas sepak bola Eropa. Penggunaan Stamford Bridge, yang pernah menjadi simbol kekuasaan Abramovich, menjadi simbol solidaritas yang kuat. Chelsea sendiri telah berganti kepemilikan setelah Abramovich dijatuhi sanksi oleh pemerintah Inggris, dan kini berada di bawah kendali Todd Boehly dan Clearlake Capital.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa beradaptasi dengan situasi krisis. Di tengah rivalitas dan komersialisasi sepak bola, solidaritas antar klub tetap terjaga. Selain itu, kepindahan ini juga membuka peluang bagi penggemar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk menyaksikan laga-laga Shakhtar di stadion legendaris yang kerap tampil di layar kaca.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pengungsian ini akan berakhir dalam waktu dekat. Dengan konflik yang masih berlangsung, Shakhtar mungkin akan terus bergantung pada kebaikan hati klub-klub Eropa. Namun, langkah ini setidaknya memastikan bahwa klub tersebut tetap kompetitif di level tertinggi, meskipun harus bermain jauh dari rumah. Akankah Stamford Bridge menjadi saksi kebangkitan Shakhtar di Eropa musim ini?



