FIFA Jatuhkan Sanksi Berat ke Argentina: Paredes Dilarang 10 Laga, Molina 7 Laga
Baca dalam 60 detik
- FIFA menjatuhkan sanksi tegas kepada timnas Argentina pasca kericuhan final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, dengan hukuman terberat untuk Leandro Paredes.
- Nahuel Molina, yang baru saja bergabung dengan AS Roma, harus menepi dari tujuh pertandingan internasional Argentina.
- Sanksi ini diprediksi memengaruhi kedalaman skuad Argentina pada kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Copa America 2026.

FIFA akhirnya mengumumkan hukuman disiplin bagi timnas Argentina menyusul kericuhan yang menodai final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Gelandang Leandro Paredes menerima sanksi terberat berupa larangan bermain 10 pertandingan, sementara bek kanan Nahuel Molina yang baru saja direkrut AS Roma harus absen tujuh laga internasional. Keputusan ini menjadi salah satu hukuman kolektif terberat dalam sejarah Piala Dunia, menandai babak baru dalam penegakan disiplin turnamen.
Kericuhan yang terjadi setelah peluit akhir di New Jersey itu tidak hanya mencoreng pertandingan puncak, tetapi juga memicu rentetan sanksi finansial dan administratif. Selain Paredes dan Molina, Thiago Almada dan Pablo Martin Paez Gavira masing-masing dijatuhi larangan satu pertandingan dan denda 30 ribu dolar AS. Asisten pelatih Roberto Ayala, yang pernah berkarier di Serie A bersama Napoli dan AC Milan, juga tidak luput dari hukuman: tiga laga larangan mendampingi tim dan denda 30 ribu dolar AS.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga terkena sanksi berat. Mereka harus memainkan dua laga kandang berikutnya dengan kapasitas penonton maksimal 50 persen. Langkah ini jelas dimaksudkan untuk memberikan efek jera, tidak hanya kepada pemain, tetapi juga kepada federasi yang dinilai gagal mengendalikan emosi para pemainnya di momen krusial. Denda tambahan juga dibebankan kepada AFA, meski nominal pastinya belum diumumkan secara resmi.
Bagi Argentina, sanksi ini datang di saat yang tidak tepat. Mereka harus mempersiapkan diri menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Copa America yang akan digelar di Amerika Serikat. Kehilangan Paredes dan Molina untuk beberapa laga akan memaksa pelatih Lionel Scaloni merotasi skuad dan memberikan kesempatan kepada pemain muda. Namun, keputusan FIFA ini juga menjadi peringatan keras bagi tim-tim lain bahwa aksi kekerasan di lapangan tidak akan ditoleransi, apa pun status turnamennya.
Di sisi lain, hukuman ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi FIFA dalam menangani kasus serupa. Beberapa pengamat menilai sanksi terhadap Argentina terbilang berat, terutama jika dibandingkan dengan hukuman untuk pelanggaran serupa di edisi-edisi sebelumnya. Namun, FIFA tampaknya ingin menunjukkan ketegasan setelah serangkaian insiden yang mewarnai turnamen di Amerika Utara tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya sportivitas dan pengendalian diri di ajang internasional. Meski sepak bola Indonesia masih jauh dari panggung Piala Dunia, nilai-nilai disiplin yang ditegakkan FIFA relevan untuk ditiru oleh federasi dan pemain di dalam negeri. Bagaimana Argentina bangkit dari sanksi ini akan menjadi ujian mentalitas juara yang sesungguhnya.



