Tottenham dan Dilema Mathys Tel: Saat 'Mbappe Baru' Tak Kunjung Bersinar
Baca dalam 60 detik
- Mathys Tel, yang pernah dijuluki 'Mbappe berikutnya', belum menunjukkan performa sesuai ekspektasi sejak bergabung permanen dengan Tottenham Hotspur.
- Manajemen Spurs di bawah ENIC dianggap perlu mempertimbangkan menjual pemain asal Prancis itu demi merombak lini serang.
- Keputusan ini akan menjadi ujian bagi strategi rekrutmen Tottenham yang kerap dinilai tidak konsisten dalam beberapa musim terakhir.

Mathys Tel tiba di Tottenham Hotspur dengan label besar: 'Mbappe berikutnya'. Namun, setelah hampir dua tahun berseragam Spurs, pemain asal Prancis itu masih jauh dari ekspektasi. Kini, manajemen klub di bawah ENIC dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan proyek jangka panjang atau menjualnya demi merombak lini serang.
Tel bergabung dengan status pinjaman pada Januari 2025 dan dipermanenkan dengan biaya ยฃ30 juta pada musim panas tahun yang sama. Sayangnya, kontribusinya belum sepadan. Musim lalu, ia hanya mencetak empat gol di semua kompetisi. Musim ini, dalam enam penampilan pertama, ia belum mencetak gol atau assist. Tottenham pun sempat kesulitan mencetak gol di awal musim, baru membuka keran gol setelah lima pertandingan Premier League.
Performa Tel yang menurun membuatnya tersingkir dari starting XI. Setelah tampil sebagai starter dalam tiga laga pembuka, ia hanya bermain 27 menit sebagai pengganti saat melawan Everton, dan bahkan tidak masuk skuad dalam kekalahan 2-3 dari Aston Villa. Posisinya di sayap kiri semakin terancam dengan kehadiran pemain seperti Omar Marmoush, Savio, Mohammed Kudus, Xavi Simons, dan Mykhailo Mudryk.
Kisah Tel di Tottenham mirip dengan Brennan Johnson. Johnson juga didatangkan dengan harga mahal (ยฃ47,5 juta) dan sempat menjadi top skor musim 2024/25 dengan 18 gol, tetapi kemudian dijual ke Crystal Palace seharga ยฃ35 juta setelah performanya menurun. Keduanya memiliki kecepatan dan kelincahan, tetapi minim kontribusi gol dan assist. Jika Johnson saja yang sempat mencetak gol kemenangan di final Eropa harus pergi, apalagi Tel yang belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
"Tel pernah dijuluki 'Mbappe berikutnya' selama di Bayern Munich. Ia dianggap salah satu penyerang muda terbaik di Eropa," ujar pakar sepak bola Eropa, Neal Gardner.
Di Bayern, Tel memang sempat bersinar. Pada 2023/24, ia mencetak 10 gol dan 6 assist sebagai remaja. Namun, setelah kesulitan mendapatkan menit bermain reguler, ia dipinjamkan ke Tottenham. Meski sempat memukau di pramusim dengan gol free-kick melawan Sydney FC dan dua assist untuk Mikey Moore melawan Hoffenheim, ia tak mampu menerjemahkan performa itu ke kompetisi resmi.
Bagi Tottenham, menjual Tel bisa menjadi langkah pragmatis. Klub sedang berbenah dan membutuhkan pemain yang siap berkontribusi langsung. Dengan banyaknya opsi di lini depan, melepas Tel dapat membuka ruang bagi pemain lain dan memberikan dana segar untuk merekrut pemain yang lebih produktif. Namun, keputusan ini juga berisiko: jika Tel bersinar di klub lain, Spurs akan kembali disorot karena gagal mengembangkan potensi pemain muda.
Konteks Indonesia: Kisah Tel mengingatkan pada pemain muda Indonesia yang sering dipinjamkan ke klub Eropa namun kesulitan bersaing. Klub-klub Liga 1 juga kerap menghadapi dilema serupa ketika merekrut pemain asing muda dengan harga tinggi. Keputusan ENIC nantinya bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan sistem pembinaan yang tepat dalam mengelola talenta muda.
Ke depan, masa depan Tel di Tottenham akan bergantung pada evaluasi internal dan tawaran yang masuk. Jika ENIC memilih menjual, akankah Spurs mendapatkan pengganti yang lebih tajam? Atau justru Tel akan menjelma menjadi bintang di tempat lain, seperti yang ditakutkan banyak klub? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan untuk segera mengambil keputusan semakin besar.



