Wisatawan Muda Mengubah Wajah Kuliang: Dari Peristirahatan Musim Panas ke Destinasi Sepanjang Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kuliang, kawasan perbukitan di Fujian, bertransformasi dari tujuan wisata harian menjadi destinasi menginap dengan atraksi seperti berkemah dan pasar kreatif.
- Operator lokal menyesuaikan diri dengan minat generasi muda yang menginginkan pengalaman interaktif, mendorong inovasi akomodasi dan kuliner.
- Pergeseran ini mencerminkan tren pariwisata Tiongkok yang lebih luas, berpotensi menjadi model bagi destinasi lain di Asia, termasuk Indonesia.

Kuliang, sebuah kawasan perbukitan sekitar 20 kilometer dari pusat kota Fuzhou di Provinsi Fujian, Tiongkok, tengah mengalami pergeseran signifikan dalam industri pariwisatanya. Dulu dikenal sebagai tempat pelarian dari panasnya musim panas bagi warga asing dan keluarga lokal, kini Kuliang berusaha memikat wisatawan muda dengan menawarkan pengalaman yang lebih beragam dan mendorong kunjungan yang lebih lama.
Perubahan ini terlihat jelas dari berbagai inisiatif baru yang diluncurkan di kawasan tersebut. Berkemah di bawah bintang, menikmati matahari terbenam, mengunjungi pasar pop-up, dan menghadiri pertunjukan malam menjadi daya tarik tambahan yang dirancang untuk mengubah pola kunjungan yang tadinya hanya satu hari menjadi menginap. Wang Ke, wakil ketua partai dan asisten manajer umum Fuzhou Kuliang Protection and Development Co., mengungkapkan ambisi tersebut: "Dulu sebagian besar pengunjung datang hanya untuk sehari lalu pergi. Kami ingin mengubahnya menjadi wisata menginap."
Salah satu lokasi andalan adalah Zhugangding, area puncak gunung yang baru dibuka pada Mei 2025 setelah melalui proses restorasi ekologis. Tempat ini mampu menampung lebih dari 2.000 orang dan menawarkan pemandangan matahari terbit di atas laut, panorama kota dan sungai di siang hari, serta keindahan senja dan bintang di malam hari. Enam kabin pengamatan bintang telah tersedia, dengan rencana penambahan fasilitas lainnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kuliang, tetapi juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri pariwisata Tiongkok. Wisatawan muda, terutama generasi milenial dan Gen Z, semakin mencari pengalaman yang imersif dan instagramable, bukan sekadar tempat berlibur pasif. Mereka menginginkan aktivitas yang bisa dibagikan di media sosial, seperti berkemah, pasar kreatif, dan kuliner kekinian. Hal ini mendorong para pelaku usaha untuk berinovasi, tidak hanya di Kuliang tetapi juga di berbagai destinasi lain di Tiongkok.
Ma Yu, operator Hotel Ginlan Jia, menyaksikan langsung perubahan perilaku wisatawan ini. Ia mencatat bahwa minat generasi muda terhadap pengalaman yang lebih dari sekadar retret musim panas tradisional semakin meningkat. Hotelnya kini mengembangkan berbagai kegiatan seperti berkemah, pasar produk kreatif dan budaya, fasilitas ramah hewan peliharaan, serta menu baru yang memadukan bahan-bahan lokal dengan teknik memasak modern. "Dulu, retret musim panas cenderung menarik tamu yang lebih tua. Sekarang, anak muda punya lebih banyak ide tentang bagaimana mereka ingin menghabiskan waktu," ujarnya. Pasar yang direncanakan akan memberikan kesempatan bagi vendor kreatif dan komunitas untuk membuka stan, sehingga pengunjung dapat terlibat langsung dalam pengalaman tersebut, bukan hanya melihat-lihat.
Bagi Indonesia, tren ini menawarkan pelajaran berharga. Destinasi wisata seperti Bandung, Bogor, atau Kaliurang yang selama ini mengandalkan kesejukan udaranya, dapat mengadopsi strategi serupa untuk menarik wisatawan muda. Pengembangan fasilitas glamping, pasar kreatif, dan aktivitas outdoor yang instagramable bisa menjadi kunci untuk memperpanjang durasi kunjungan dan meningkatkan pendapatan lokal. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif menjadi penting untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang dinamis dan berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Kuliang mampu mempertahankan momentum ini dan menjadi model bagi destinasi lain di Asia. Dengan terus berinovasi dan mendengarkan kebutuhan wisatawan muda, bukan tidak mungkin Kuliang akan menjadi contoh sukses transformasi pariwisata yang mengedepankan pengalaman berkelanjutan. Bagi Indonesia, peluang untuk belajar dari kasus ini sangat terbuka, terutama dalam mengembangkan wisata alam yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan aktivitas dan interaksi.



