Korea Utara Kecam Latihan Militer AS-Korsel di Tengah Rencana Pertemuan Trump-Kim
Baca dalam 60 detik
- Pyongyang mengecam latihan Ulchi Freedom Shield yang dipersingkat AS, menyebutnya sebagai pemicu ketegangan di Semenanjung Korea.
- Meski Trump menyiratkan niat dialog, KCNA tidak menanggapi langsung pernyataan presiden AS tersebut.
- Langkah pemendekan latihan dan dorongan pertemuan tatap muka mengindikasikan upaya diplomasi baru, namun denuklirisasi masih jauh dari kata selesai.

Korea Utara kembali melontarkan kecaman keras terhadap latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang tengah berlangsung, menyebutnya sebagai langkah yang mendorong Semenanjung Korea ke ambang perang. Sikap ini muncul hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pemangkasan durasi latihan tahunan tersebut, sebuah sinyal yang dinilai sebagai upaya meredakan ketegangan.
Dalam komentar resmi yang disiarkan Korean Central News Agency (KCNA), Pyongyang menegaskan bahwa latihan Ulchi Freedom Shield, yang dimulai Senin lalu, merupakan bentuk provokasi yang tidak bisa dianggap remeh. Meski demikian, pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menanggapi komentar Trump yang menyebut latihan itu mengirimkan "sinyal yang tidak pantas dan bermusuhan" terhadap Korea Utara.
Menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, latihan yang semula dijadwalkan berlangsung 11 hari hingga 27 Agustus itu kini dipersingkat menjadi lima hari. Keputusan ini diambil setelah Trump mengeluarkan perintah pemangkasan, yang menurut pengamat sebagai konsesi diplomatik terhadap Pyongyang. Namun, KCNA menegaskan bahwa latihan tersebut "tidak bisa dianggap hanya sebagai kebiasaan militer buruk dari negara-negara musuh" dan bahwa Korea Utara "tidak akan pernah terbiasa" dengan aktivitas semacam itu.
Pyongyang juga berjanji akan terus menggunakan hak untuk membela diri hingga negara-negara musuh "menyerah pada mimpi sembrono untuk menguasai dengan kekuatan dan sepenuhnya meninggalkan upaya untuk menghancurkan keseimbangan kekuatan" di kawasan Asia-Pasifik. Pernyataan ini menegaskan sikap keras Korea Utara yang selama ini menganggap latihan gabungan AS-Korsel sebagai gladi resik invasi.
Di tengah ketegangan ini, muncul laporan bahwa Trump tengah mendesak para pembantunya untuk mengatur pertemuan langsung dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, secepatnya pada musim gugur ini. Menurut laporan The Wall Street Journal, pertemuan tersebut berpotensi digelar saat kunjungan Trump ke Asia pada November, ketika para pemimpin negara berkumpul untuk KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China selatan.
Langkah ini mengingatkan pada masa jabatan pertama Trump, ketika ia bertemu Kim sebanyak tiga kaliโdimulai dari KTT Singapura 2018, kemudian Hanoi 2019, dan pertemuan dadakan di Panmunjeom. Namun, pertemuan-pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan denuklirisasi yang konkret. Sejak saat itu, Pyongyang justru terus mengembangkan kemampuan rudal dan nuklirnya, serta memperdalam kerja sama militer dengan Rusia.
Bagi Indonesia, dinamika Semenanjung Korea ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan ARF, Indonesia berkepentingan untuk mendorong dialog dan pengurangan ketegangan. Eskalasi di Semenanjung Korea dapat memicu ketidakpastian ekonomi dan keamanan, termasuk potensi gangguan jalur perdagangan laut yang vital bagi perekonomian nasional.
Para analis menilai bahwa pemendekan latihan oleh Trump adalah sinyal nyata keinginan untuk berdialog, tetapi sikap Korea Utara yang tetap keras menunjukkan bahwa jalan menuju denuklirisasi masih panjang. Pertanyaan besarnya kini: apakah pertemuan tatap muka yang direncanakan pada November akan membawa perubahan signifikan, atau hanya menjadi pengulangan dari kegagalan sebelumnya? Sementara itu, komunitas internasional, termasuk Indonesia, akan terus mengawasi perkembangan ini dengan seksama.



