Mengenal Sesar Flores: Ancaman Nyata di Balik Gempa NTT 7,7 Magnitudo
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Agustus 2026 mengungkap peran krusial Sesar Naik Busur Belakang Flores sebagai sumber utama kegempaan di kawasan tersebut.
- Para ahli menilai mitigasi bencana di Flores tidak cukup hanya mengandalkan evakuasi; penguatan bangunan dan penataan ruang pesisir menjadi kunci mengurangi risiko.
- Sejarah gempa Flores 1992 menunjukkan potensi tsunami dan bahaya turunan seperti likuifaksi yang harus menjadi dasar perencanaan kebencanaan ke depan.

Guncangan bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 16 Agustus 2026, bukan sekadar bencana alam biasa. Di balik kehancuran yang merenggut nyawa dan melumpuhkan infrastruktur, tersimpan fakta geologis yang lebih dalam: Pulau Flores berada di atas salah satu patahan paling kompleks di Indonesia, Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust), yang sumbernya justru berada dekat dengan permukiman penduduk.
Gempa yang memicu peringatan tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu menyebabkan kepanikan massal di sejumlah kota seperti Maumere, Sikka, dan Ende. Di Pelabuhan L. Say, Maumere, satu orang tewas tertimpa reruntuhan ruang tunggu, sementara ratusan pasien RSUD Maumere terpaksa dievakuasi ke halaman parkir. Warga Pulau Palue bahkan terisolasi akibat putusnya akses transportasi dan komunikasi, menghadapi ancaman kelaparan. Kejadian ini mengulang trauma lama: pada 12 Desember 1992, gempa serupa—yang tercatat 6,8 magnitudo menurut BMKG namun 7,5 menurut Institut de Physique du Globe, Strasbourg—menghancurkan Maumere, menenggelamkan kampung pesisir, dan memicu longsor besar.
Para ahli kini menyoroti karakteristik unik Sesar Flores yang membedakannya dari zona subduksi di selatan NTT. Guru Besar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menjelaskan bahwa Flores diapit dua sumber gempa: subduksi Lempeng Indo-Australia di selatan dan sesar naik di utara. "Sesar naik Flores ini sering menjadi ancaman paling nyata bagi warga di pesisir utara," ujarnya. Berbeda dengan gempa subduksi yang berpusat di laut dalam, sumber sesar ini relatif dekat dengan daratan, sehingga waktu tiba tsunami bisa sangat singkat—hanya hitungan menit. Kondisi ini diperparah oleh keberadaan gunung api aktif yang menjadi zona lemah, meningkatkan regangan dan frekuensi kegempaan di kawasan tersebut.
Penelitian Pranantyo dan Cummins (2019) mengungkap bahwa gempa 1992 telah meretakkan segmen-segmen tertentu dari sistem sesar ini. Geometri yang rumit tersebut membatasi magnitudo maksimum, namun sekaligus mengarahkan perambatan retakan ke arah permukiman padat penduduk. Sementara itu, kajian Maulida dkk (2024) menegaskan bahwa interaksi lempeng mikro di kawasan Bali dan Nusa Tenggara telah membentuk jaringan sesar geser dan normal sejak periode Tersier Akhir, menjadikan wilayah ini salah satu laboratorium tektonik paling dinamis di dunia.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menambahkan dimensi lain yang kerap terabaikan: kondisi geologi lokal. Lapisan tanah lunak seperti endapan aluvial dapat memperkuat guncangan (amplifikasi), menyebabkan kerusakan yang tidak proporsional. Fenomena likuifaksi—semburan air dan pasir—muncul di Waekokak-Mbay, Nagekeo, pada gempa terbaru, mengingatkan pada kejadian serupa di pantai utara Maumere pada 1992. Longsor yang menutup ruas jalan Waigete–Galit, Sikka, juga menunjukkan bahwa bahaya turunan seringkali lebih mematikan daripada guncangan utama.
Menghadapi ancaman yang kompleks ini, para ahli menekankan dua pendekatan utama: penguatan bangunan dan penataan ruang. Adrin menggarisbawahi pentingnya penerapan standar konstruksi tahan gempa, terutama untuk fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit yang menjadi titik evakuasi. "Pemerintah telah menerbitkan SNI 1726:2019 sebagai standar minimum, serta SNI 9273 dan 9274 untuk evaluasi bangunan eksisting," jelasnya. Untuk kawasan pesisir yang rawan tsunami, ia mendorong pengendalian pembangunan, mengalihfungsikan zona bahaya menjadi hutan mangrove atau ruang terbuka hijau. Namun, ia mengakui perubahan tata ruang membutuhkan komitmen politik yang kuat dari pemerintah daerah dan pusat.
Eko menambahkan bahwa edukasi masyarakat dan kesiapan evakuasi mandiri menjadi kunci, mengingat waktu peringatan dini yang sangat terbatas. "Kehadiran ancaman itu sering tidak terbayangkan," katanya, menyoroti perlunya simulasi rutin dan pemahaman lokal tentang karakteristik sesar. Ia juga mengusulkan pembangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES) bertingkat yang ramah disabilitas dan dilengkapi logistik, sebagai langkah adaptif jangka pendek.
Gempa NTT 2026 bukanlah akhir, melainkan pengingat bahwa Indonesia hidup di atas cincin api yang tak pernah tidur. Pertanyaannya kini: apakah pemerintah dan masyarakat mampu mengubah kesadaran menjadi aksi nyata—memperkuat bangunan, menata ruang, dan membangun budaya siaga—sebelum guncangan berikutnya datang? Jawabannya akan menentukan wajah ketahanan bencana negeri ini di masa depan.



