Polri Kirim Bantuan Logistik ke Flores: 1,6 Ton Minyak Goreng hingga Susu Bayi Diterbangkan
Baca dalam 60 detik
- Pesawat CN-295 milik Polri mendarat di Labuan Bajo membawa 20 paket perlengkapan dapur serta sembako untuk korban gempa magnitudo 7,7 di NTT.
- Bantuan tersebut merupakan instruksi langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menandai respons cepat aparat di tengah proses pemulihan pascagempa.
- Distribusi tahap awal akan mengacu pada pendataan kebutuhan di lapangan, dengan komitmen pengiriman lanjutan selama masa tanggap darurat.

Polri mengirimkan gelombang bantuan logistik ke wilayah Nusa Tenggara Timur yang diguncang gempa magnitudo 7,7, dengan pesawat CN-295 mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Sabtu pagi. Muatan yang diangkut mencakup kebutuhan pokok dan perlengkapan dapur lapangan, sebuah langkah yang menegaskan prioritas pemerintah dalam mempercepat pemulihan warga terdampak.
Kepala Satuan Tugas Humas Ops Aman Nusa II Bencana NTT, Kombes Pol. Bayu Suseno, menyebutkan bahwa bantuan ini merupakan wujud kepedulian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terhadap masyarakat Flores. โBantuan ini adalah bentuk kepedulian Bapak Kapolri kepada masyarakat yang terdampak bencana gempa di wilayah Flores,โ ujarnya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta.
Rincian logistik yang dibawa antara lain 20 paket perlengkapan kompor untuk dapur umum, 1.500 kilogram gula pasir, 1.600 kilogram minyak goreng, 500 kilogram biskuit, 500 kilogram kecap, 100 kilogram teh celup, 100 kilogram susu formula bayi, serta 20 kilogram susu rendah lemak. Jumlah ini menunjukkan upaya memenuhi kebutuhan dasar warga yang mengungsi, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.
Bayu menegaskan bahwa pendistribusian akan dilakukan berdasarkan data kebutuhan di lapangan, bukan sekadar membagi rata. โNantinya akan kami distribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan sesuai dengan data dan kebutuhan di lapangan,โ katanya. Pendekatan ini diharapkan memastikan bantuan tepat sasaran, mengingat akses ke sejumlah desa terpencil di Flores masih terhambat akibat kerusakan infrastruktur.
Langkah Polri ini sejalan dengan upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sebelumnya telah menyalurkan 777 ton bantuan melalui jalur udara. Namun, tantangan logistik di NTT tetap besar: medan berbukit, cuaca tak menentu, dan keterbatasan armada menjadi kendala klasik yang kerap memperlambat distribusi. Kehadiran pesawat milik Polri menjadi tambahan kapasitas yang berarti bagi operasi kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, kehadiran bantuan ini lebih dari sekadar barang. โSetiap bantuan bukan sekadar barang, tetapi menjadi pengingat bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian,โ ujar Bayu. Pernyataan itu mencerminkan dimensi psikososial yang tak kalah penting dalam penanganan bencana, di mana rasa solidaritas menjadi penyangga harapan di tengah keterbatasan.
Ke depan, Polri berkomitmen untuk terus menyalurkan dukungan logistik sebagai bagian dari upaya pemulihan pascagempa. Pertanyaannya, akankah koordinasi antarlembaga dan kecepatan distribusi mampu menjangkau seluruh korban sebelum kebutuhan darurat berubah menjadi krisis berkepanjangan? Jawabannya akan menentukan seberapa cepat Flores kembali bangkit.



