Rentan Terjebak Api: Singapura Berjuang Evakuasi Lansia di Tengah Rentetan Kebakaran HDB
Baca dalam 60 detik
- Empat kebakaran fatal di perumahan umum Singapura dalam 19 hari menewaskan lansia berusia 65-88 tahun, memicu evaluasi prosedur evakuasi.
- Lembaga sosial dan anggota parlemen menyoroti kesulitan evakuasi lansia dengan mobilitas terbatas, mendorong perlunya sistem dukungan komunitas yang lebih kuat.
- Pemerintah Singapura berencana memperkuat peran otoritas dalam inspeksi dan penegakan aturan keselamatan kebakaran di rumah-rumah warga.

Rangkaian kebakaran mematikan di perumahan umum Singapura dalam rentang waktu kurang dari tiga pekan membuka luka lama: bagaimana menyelamatkan warga lanjut usia dengan keterbatasan fisik saat api melahap gedung bertingkat. Insiden terbaru di Buangkok Crescent pada Kamis dini hari (20/8) memaksa Siti Sara Hamid, 29 tahun, dan keluarganya bergegas mengevakuasi neneknya yang berusia 83 tahun dan membutuhkan alat bantu jalan. Peristiwa ini bukan kasus terisolasiโsejak 28 Juli hingga 16 Agustus, empat kebakaran di permukiman HDB menewaskan empat lansia dan memaksa sekitar 220 orang mengungsi.
Korban jiwa yang semuanya berusia antara 65 hingga 88 tahun menunjukkan kerentanan kelompok ini dalam situasi darurat. Sara menggambarkan kepanikan yang dialami neneknya saat tetangga membantu menurunkannya ke lantai dasar. "Dia gemetar dan tidak bisa berdiri tegak. Tetangga kami sangat sabar, menyuruhnya pelan-pelan dan jangan panik," ujarnya. Namun, di balik solidaritas warga, para pengamat menilai ketergantungan pada bantuan tetangga bukanlah solusi jangka panjang yang ideal.
Lembaga sosial seperti Lions Befrienders Service Association dan TOUCH Community Services menekankan perlunya pendekatan terpadu. Karen Wee, direktur eksekutif Lions Befrienders, menggarisbawahi pentingnya membangun kapasitas komunitas di samping kesiapan individu. "Kita harus bertanya: apakah lansia bisa membunyikan alarm atau mengevakuasi diri? Jika tidak, adakah orang terdekat yang tahu mereka membutuhkan bantuan?" katanya. Ia menambahkan bahwa stres, asap, dan kebingungan saat darurat dapat memperparah kondisi lansia yang sudah memiliki gangguan mobilitas, pendengaran, atau penglihatan.
Anggota parlemen Singapura pun mulai bergerak. Yip Hon Weng dan David Hoe telah mengajukan pertanyaan parlemen terkait rencana evakuasi bagi lansia. Shawn Loh dari GRC Jalan Besar bahkan berencana mengajukan pertanyaan tentang kewenangan memasuki paksa unit yang berisiko kebakaran. Sementara itu, Liang Eng Hwa dari Bukit Panjang mendesak peninjauan ulang kekuasaan SCDF dan HDB untuk melakukan inspeksi dan mengeluarkan perintah perbaikan jika ditemukan bahaya kebakaran serius di dalam hunian. Langkah ini dinilai penting karena jalur evakuasi sering terhambat oleh barang-barang yang menumpuk di lorong atau unit.
Data dari empat kebakaran terakhir menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Kebakaran pertama di Circuit Road pada 28 Juli menewaskan pria 70 tahun. Tiga hari kemudian, api di Clementi Avenue 4 merenggut nyawa pria 65 tahun dan melukai dua petugas pemadam. Pada 3 Agustus, kebakaran di Race Course Road membawa lima orang ke rumah sakit, termasuk seorang pria 88 tahun yang kemudian meninggal. Terakhir, pada 16 Agustus, pria 67 tahun tewas dalam kebakaran di Jurong East Avenue 1. Sim Ann, anggota parlemen Holland-Bukit Timah GRC yang membawahi Clementi, menekankan perlunya edukasi pencegahan yang lebih masif, terutama terkait penyebab umum seperti memasak tanpa pengawasan dan korsleting listrik.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Singapura ini relevan mengingat tingginya populasi lansia di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kepadatan hunian dan minimnya fasilitas ramah lansia di banyak permukiman padat penduduk meningkatkan risiko serupa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Dinas Pemadam Kebakaran setempat dapat mengevaluasi protokol evakuasi yang ada, khususnya untuk kelompok rentan. Selain itu, penguatan peran Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) sebagai garda terdepan dalam tanggap darurat bisa menjadi langkah konkret, sebagaimana disorot dalam diskusi di Singapura.
Pertanyaan yang menggantung adalah: apakah otoritas di kedua negara akan berani mengambil langkah lebih tegas, seperti inspeksi berkala dan penegakan aturan keselamatan, tanpa mengorbankan privasi warga? Di Singapura, wacana untuk memperluas kewenangan petugas dalam memeriksa unit hunian yang berisiko tinggi masih menjadi perdebatan. Sementara itu, Sara, yang selamat dari kebakaran, masih menyimpan kekhawatiran: "Nenek saya bertanya, bagaimana jika kami tinggal di lantai lebih tinggi? Apa protokolnya untuk membawanya ke tempat aman?" Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab.



