Pemukulan Kapolsek dan Danramil Cicalengka: Empat Terduga Pelaku Dibekuk, Satu Masih Diburu
Baca dalam 60 detik
- Polresta Bandung menangkap empat orang yang diduga terlibat dalam pemukulan terhadap Kapolsek dan Danramil Cicalengka saat melerai keributan karnaval.
- Insiden ini menyoroti risiko aparat keamanan saat bertugas di tengah keramaian, dengan korban mengalami luka di wajah.
- Penyidik masih mendalami peran satu terduga pelaku lain yang mengenakan seragam Karang Taruna, dan proses hukum terus berjalan.

Polresta Bandung, Jawa Barat, menangkap empat orang yang diduga menjadi pelaku pemukulan terhadap Kapolsek Cicalengka, Kompol Ade Rahmat, dan Danramil Cicalengka, Kapten Inf Sumarna, saat keduanya berupaya melerai keributan dalam sebuah acara karnaval di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Penangkapan ini dilakukan setelah penyelidikan intensif yang digelar kepolisian pasca-insiden yang terjadi pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Kapolresta Bandung, Kombes Aldi Subartono, membenarkan bahwa insiden tersebut bermula ketika rombongan Karnaval Desa Tenjolaya melintas di dekat podium Forkopimcam untuk mengikuti penilaian. Saat itu, keributan antarpeserta tiba-tiba pecah, memaksa Kapolsek dan Danramil turun dari podium untuk menenangkan suasana. Namun, upaya damai tersebut justru berujung pada aksi kekerasan, tidak hanya terhadap kedua aparat, tetapi juga seorang anggota organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila yang ikut membantu melerai.
Akibat kejadian ini, Kapolsek Cicalengka dan anggota ormas tersebut dilaporkan mengalami luka di bagian wajah. Kombes Aldi menegaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan setelah insiden tersebut. "Benar, telah terjadi insiden pemukulan terhadap Kapolsek Cicalengka dan Danramil Cicalengka saat keduanya berupaya mengamankan keributan dalam kegiatan karnaval. Terduga pelaku berhasil diringkus," ujarnya di Bandung, seperti dikutip Antara.
Polisi kini telah mengidentifikasi empat orang yang diduga terlibat, yakni dengan inisial RF, IA, YP, dan F. Selain itu, penyidik juga tengah mendalami identitas seorang terduga pelaku lain yang saat kejadian mengenakan seragam Karang Taruna. Kombes Aldi menekankan bahwa proses penanganan perkara dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, dan penyidik masih terus mendalami rangkaian kejadian untuk mengungkap peran masing-masing pihak.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena menimpa aparat keamanan yang sedang menjalankan tugas, sebuah situasi yang kerap terjadi di tengah keramaian. Menurut pengamat kepolisian, insiden seperti ini menunjukkan risiko yang dihadapi aparat saat berinteraksi langsung dengan massa, terutama dalam acara yang melibatkan banyak orang dan emosi yang mudah terpancing. "Aparat sering kali berada di posisi sulit ketika harus melerai keributan, karena tindakan mereka bisa disalahartikan sebagai provokasi," ujar seorang analis keamanan yang enggan disebut namanya.
Di Indonesia, kasus kekerasan terhadap aparat saat bertugas bukanlah hal baru, namun setiap insiden selalu memicu pertanyaan tentang perlindungan hukum bagi mereka. Kombes Aldi menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti kasus ini secara profesional. "Kami akan menindaklanjuti kejadian ini secara profesional sesuai ketentuan hukum yang berlaku perkara ini," katanya. Polresta Bandung juga memastikan bahwa pendalaman masih dilakukan dengan menelusuri keterangan para saksi untuk mengungkap secara utuh rangkaian kejadian serta peran masing-masing pihak yang diduga terlibat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana kepolisian akan memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya insiden serupa. Apakah akan ada peningkatan pengamanan dalam acara-acara publik, atau justru langkah hukum yang lebih tegas terhadap pelaku kekerasan? Masyarakat tentu berharap agar proses hukum berjalan transparan dan memberikan efek jera, sehingga aparat keamanan dapat menjalankan tugasnya tanpa rasa takut menjadi sasaran amukan massa.



