Dana Terbatas dan Karier Ganda: Tantangan Besar Atlet Rowing Singapura di Kancah Dunia
Baca dalam 60 detik
- Atlet dayung Singapura, Joan Poh, mendapat dukungan finansial dari Mr Bean untuk tampil di Kejuaraan Dunia, namun keterbatasan dana tetap menjadi kendala utama.
- Para pengamat olahraga menilai atlet elite sering kesulitan menyeimbangkan pelatihan intensif dengan tuntutan karier profesional.
- Kondisi ini memicu diskusi tentang perlunya model pendanaan baru bagi atlet di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Keterbatasan dana dan sulitnya membagi waktu antara latihan dan pekerjaan masih menjadi momok bagi atlet kelas dunia, termasuk pendayung Singapura Joan Poh yang tengah bersiap menuju Kejuaraan Dunia. Di tengah semangat juangnya, dukungan finansial justru datang dari sektor swasta, yakni jaringan ritel makanan dan minuman berbasis kedelai Mr Bean, yang memilih untuk berdiri di belakang atlet Olimpiade tersebut.
Fenomena ini menyoroti realitas pahit yang kerap dialami atlet non-olahraga populer di kawasan Asia: sponsor besar lebih mudah didapat untuk cabang seperti sepak bola atau bulu tangkis, sementara atlet dayung harus berjuang ekstra untuk sekadar menutup biaya perlengkapan, pelatihan, dan kompetisi internasional. Menurut pengamat olahraga, kondisi ini tidak hanya terjadi di Singapura, tetapi juga menggema di negara tetangga seperti Indonesia, di mana banyak atlet berprestasi justru bergantung pada dukungan pemerintah atau perusahaan yang terbatas.
Joan Poh, yang telah mewakili Singapura di Olimpiade, kini menghadapi tantangan ganda: membuktikan kemampuan di ajang dunia sambil memastikan kelangsungan karier atletiknya. Dukungan dari Mr Bean, meski bernilai strategis, hanyalah setetes air di lautan kebutuhan. Para analis memperkirakan bahwa biaya persiapan menuju Kejuaraan Dunia dapat mencapai puluhan ribu dolar, termasuk untuk pelatih, fasilitas, dan perjalanan.
Di sisi lain, para pengamat menyoroti bahwa atlet seperti Joan Poh sering kali harus memilih antara mengejar mimpi Olimpiade atau membangun masa depan finansial yang stabil. Banyak yang akhirnya memilih pensiun dini karena tidak mampu menopang biaya hidup. Hal ini diperparah dengan minimnya skema beasiswa atau dukungan karier ganda yang terstruktur di banyak negara Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, pelajaran dari kasus Joan Poh sangat relevan. Meskipun pemerintah memiliki program pembinaan atlet, masih banyak cabang olahraga yang kurang mendapat perhatian sponsor. Padahal, potensi atlet Indonesia di cabang dayung dan olahraga air lainnya cukup besar, seperti yang terlihat di SEA Games. Namun, tanpa dukungan finansial yang berkelanjutan, sulit bagi mereka untuk bersaing di level dunia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah akan muncul lebih banyak perusahaan swasta yang berani berinvestasi pada atlet non-populer? Atau justru pemerintah di kawasan ini perlu merancang kebijakan yang mewajibkan perusahaan untuk mendukung olahraga nasional? Jawabannya akan menentukan apakah kita akan melihat lebih banyak atlet Asia Tenggara berdiri di podium dunia, atau hanya menjadi penonton.



