Jalur Kereta Komuter Jepang Disulap Jadi Turis Khusus Reservasi: Langkah Berani atau Kontroversial?
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan kereta Oigawa Railway resmi mengonversi Jalur Ikawa di Shizuoka menjadi layanan turis berkapasitas terbatas dengan tarif flat 3.500 yen, sebuah terobosan pertama di Jepang.
- Keputusan ini memicu protes warga dan dewan kota karena dianggap kurang transparan, meski manajemen menilai langkah ini vital untuk keberlanjutan di tengah penurunan penumpang dan depopulasi.
- Ke depannya, model ini bisa menjadi blueprint bagi daerah lain di Jepang dan dunia, termasuk Indonesia, dalam menghidupkan kembali jalur kereta perdesaan yang sepi.

Di tengah lesunya transportasi umum di kawasan perdesaan Jepang, sebuah perusahaan kereta di Prefektur Shizuoka mengambil langkah radikal: mengubah jalur komuter menjadi layanan turis khusus reservasi dengan tarif tetap. Oigawa Railway resmi memberlakukan sistem ini di Jalur Ikawa pada Juli lalu, menjadikannya yang pertama di Jepang untuk konversi total dari kereta harian menjadi wahana wisata berjadwal.
Keputusan ini tidak lahir tanpa kontroversi. Tarif yang semula berbasis jarak kini melonjak menjadi 3.500 yen (sekitar Rp380 ribu) untuk semua penumpang, memicu kehebohan di kalangan warga setempat. Namun, manajemen perusahaan menilai perubahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan jalur yang selama 15 tahun terakhir tidak memiliki satu pun pengguna komuter pass—sebuah indikator nyata sepinya jalur tersebut.
Jalur Ikawa, yang membentang sepanjang 25,5 kilometer di kawasan pegunungan Minami-Alps, memang memiliki daya tarik tersendiri. Kereta ini mengoperasikan lokomotif Abt rack-and-pinion, satu-satunya di Jepang yang dirancang untuk menanjak curam. Pemandangan alamnya yang memukau menjadi modal utama untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Namun, transformasi ini tidak berjalan mulus. Pemerintah kota Kawanehoncho, yang dilalui jalur tersebut, baru diberi tahu pada April—hanya tiga bulan sebelum implementasi. Anggota dewan kota mengecam pengumuman yang dianggap mendadak dan tidak transparan. Bahkan, CEO Oigawa Railway, Akira Torizuka, sempat memicu kemarahan dengan unggahan blog pribadinya yang meremehkan pemahaman warga pedesaan, meski kemudian dihapus. Insiden ini berujung pada surat protes resmi dari dewan kota.
Di balik ketegangan itu, ada logika bisnis yang kuat. Oigawa Railway juga mengelola Jalur Utama Oigawa yang populer dengan kereta Thomas the Tank Engine, tetapi sejak topan 2022 memutus koneksi kedua jalur, Jalur Ikawa terisolasi. Biaya restorasi yang tinggi dan penurunan jumlah penumpang pascapandemi memaksa perusahaan mencari model pendapatan baru. Hasilnya, sejak Juli, meski jumlah penumpang turun 10 persen dibanding tahun lalu, pendapatan justru meningkat—tanda bahwa tarif tetap dan sistem reservasi berhasil menarik segmen wisatawan yang bersedia membayar lebih.
Bagi Indonesia, kasus ini menawarkan pelajaran berharga. Banyak jalur kereta api perdesaan di tanah air yang sepi penumpang, seperti di Sumatera Barat atau Jawa Tengah, yang bisa dipertimbangkan untuk dialihfungsikan menjadi layanan wisata. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan model ini sangat bergantung pada daya tarik wisata alam dan dukungan masyarakat lokal. Tanpa komunikasi yang baik, transformasi serupa bisa memicu resistensi seperti yang terjadi di Kawanehoncho.
Wakil ketua dewan kota, Midori Nakahara, menegaskan bahwa penolakan warga bukan pada kenaikan tarif, melainkan pada kurangnya dialog. "Kami hanya ingin mendiskusikan detailnya," ujarnya. Ini menjadi catatan penting: inovasi tanpa partisipasi publik hanya akan melahirkan konflik.
Ke depan, apakah model reservasi penuh ini akan menjadi tren di Jepang? Dengan banyaknya daerah yang mengalami depopulasi, bukan tidak mungkin jalur-jalur lain akan mengikuti jejak Ikawa. Namun, pertanyaan besarnya: bisakah keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kebutuhan komunitas dijaga? Atau akankah kereta wisata ini justru menjadi simbol ditinggalkannya warga lokal demi pariwisata?



