Tomahawk King Tutup September: Gelombang PHK Industri F&B Singapura Menguat
Baca dalam 60 detik
- Restoran steak halal Tomahawk King akan menutup gerai terakhirnya di Changi Road pada 20 September, menyusul kenaikan biaya operasional yang tak terbendung.
- Penutupan ini menjadi sinyal tekanan struktural di sektor F&B Singapura, di mana biaya sewa, bahan baku, dan tenaga kerja terus meningkat.
- Fenomena serupa berpotensi menjalar ke Indonesia, mengingat industri restoran di Jakarta dan kota besar lain menghadapi tantangan serupa.

Restoran steak halal asal Singapura, Tomahawk King, mengumumkan penutupan permanen gerainya di Changi Road pada 20 September mendatang. Keputusan ini diambil setelah delapan tahun beroperasi, dengan alasan utama melonjaknya biaya operasional dan kondisi industri makanan-minuman (F&B) yang kian kompetitif. Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi mereka pada Senin (17/8), menandai babak akhir bagi salah satu pelopor steak halal di negara tersebut.
Tomahawk King bukanlah nama asing bagi pencinta kuliner Singapura. Berawal dari gerai kecil di food court Tampines Mall dengan nama StuffedWing Lab, restoran ini berkembang pesat dan dikenal luas berkat menu steak wagyu Jepang bersertifikat halal. Namun, perjalanan panjang itu harus berakhir. Dalam unggahan yang menyentuh, manajemen menuliskan, "Selama delapan tahun, kami menyaksikan kencan pertama berubah menjadi pertunangan, pernikahan, dan keluarga yang tumbuh. Kami melihat anak-anak kembali sebagai remaja. Anda merayakan ulang tahun, baby shower, dan berbagai tonggak hidup di meja kami. Menjadi bagian dari hidup Anda adalah keistimewaan terbesar kami."
Penutupan Tomahawk King menambah panjang daftar restoran yang gulung tikar di Singapura. Sebelumnya, Fika Swedish Cafe and Bistro dan Dan's Steaks juga mengumumkan nasib serupa. Fenomena ini menggambarkan tekanan berat yang dihadapi pelaku usaha F&B di negara kota tersebut. Biaya sewa yang tinggi, kenaikan harga bahan baku impor, dan ketatnya persaingan menjadi kombinasi mematikan bagi bisnis yang tidak memiliki skala ekonomi kuat.
Yang menarik, meski Tomahawk King tutup, dua konsep saudaranya—Charr'd, restoran steak wagyu, dan Gyusei, restoran gyukatsu Jepang—dipastikan tetap beroperasi. Langkah ini menunjukkan adanya strategi konsolidasi di balik layar. Manajemen tampaknya memilih untuk memfokuskan sumber daya pada konsep yang dianggap lebih berkelanjutan, sambil melepas konsep yang paling terdampak.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi cermin yang relevan. Industri F&B di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya menghadapi tantangan serupa: biaya sewa mal yang tinggi, kenaikan harga bahan pangan, dan perang diskon yang agresif. Banyak restoran lokal, terutama yang mengusung konsep premium, mulai merasakan tekanan yang sama. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan gelombang penutupan restoran serupa di dalam negeri.
Para analis industri menilai bahwa kunci bertahan di tengah badai biaya adalah diversifikasi dan efisiensi. Tomahawk King sendiri telah mencoba melakukan itu dengan memiliki beberapa merek, namun tetap harus mengorbankan satu konsep. Pertanyaannya, apakah strategi serupa akan cukup bagi pelaku usaha di Indonesia? Atau justru diperlukan inovasi yang lebih radikal, seperti mengadopsi model bisnis cloud kitchen atau kolaborasi dengan platform delivery?
Penutupan Tomahawk King bukan sekadar berita duka bagi pelanggan setianya. Ini adalah sinyal peringatan bagi seluruh industri F&B di kawasan ini. Ketika biaya terus merangkak naik, hanya mereka yang paling adaptif yang akan bertahan. Akankah para pengusaha restoran di Indonesia belajar dari kasus ini sebelum terlambat?



