Gempa M7,7 NTT: Destinasi Wisata Flores Ditutup, TN Komodo Tetap Buka
Baca dalam 60 detik
- Tiga destinasi unggulan di Flores, termasuk Goa Rangko dan Wae Rebo, ditutup sementara pasca gempa M7,7 untuk audit keselamatan.
- Taman Nasional Komodo dan sekitarnya tetap beroperasi normal, menjadi penopang utama sektor pariwisata NTT di tengah bencana.
- BNPB mencatat 68 korban jiwa dan kerusakan luas pada rumah serta fasilitas publik, dengan prioritas pemulihan infrastruktur pariwisata.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan menutup sementara sejumlah destinasi wisata ikonik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap keselamatan wisatawan, sekaligus memberi ruang bagi petugas untuk melakukan verifikasi kelayakan infrastruktur yang terdampak getaran.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa penutupan menyasar objek wisata yang memerlukan pemeriksaan menyeluruh. Di antaranya Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende. Ketiga lokasi tersebut dikenal sebagai magnet wisatawan mancanegara, sehingga keputusan ini dinilai penting untuk menjaga reputasi destinasi Indonesia di mata dunia.
Namun, tidak semua kawasan wisata lumpuh. Taman Nasional Komodo dan sekitarnya dipastikan tetap beroperasi normal, tanpa insiden berarti. Hal ini menjadi kabar melegakan bagi pelaku usaha pariwisata di Labuan Bajo, yang selama ini mengandalkan kunjungan ke habitat komodo sebagai sumber pendapatan utama. Dengan tetap bukanya TN Komodo, roda ekonomi di gerbang wisata super prioritas itu diharapkan tidak berhenti total.
Berdasarkan pendataan BNPB, delapan objek daya tarik wisata dilaporkan mengalami kerusakan ringan. Sementara itu, sektor akomodasi mencatat dua hotel dan tiga homestay rusak berat, serta sepuluh hotel dan lima homestay rusak ringan, tersebar di sejumlah kabupaten terdampak seperti Nagekeo. Kerusakan ini tentu berimplikasi pada kapasitas penerimaan wisatawan dalam waktu dekat, terutama jika proses rehabilitasi berjalan lambat.
Berton menegaskan bahwa keselamatan wisatawan domestik dan mancanegara menjadi prioritas utama. "Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, serta kelayakan infrastruktur pariwisata adalah prioritas," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak terburu-buru membuka destinasi sebelum benar-benar aman, meski tekanan ekonomi lokal kerap mendorong percepatan.
Dampak gempa tidak hanya terasa di sektor pariwisata. Data BNPB menunjukkan lebih dari 5.000 orang mengungsi, umumnya karena rumah mereka rusak ringan hingga berat. Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, termasuk sekolah, puskesmas, dan kantor pemerintahan. Hal ini menambah beban pemulihan di tengah keterbatasan anggaran daerah, sehingga koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi krusial.
Bagi pelaku industri pariwisata nasional, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen risiko bencana. Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik harus terus memperkuat infrastruktur tahan gempa, terutama di destinasi-destinasi andalan. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya kapan destinasi dibuka kembali, tetapi bagaimana membangun kembali kepercayaan wisatawan internasional terhadap keamanan berwisata di NTT. Jawabannya akan menentukan seberapa cepat sektor ini bangkit dari keterpurukan.



