Dylan Efron Tantang Diri di Maraton New York, Ungkap Rutinitas Low-Intensity
Baca dalam 60 detik
- Dylan Efron akan berlari di New York City Marathon November mendatang setelah menerima undangan.
- Ia mengandalkan sepeda statis dan latihan intensitas rendah untuk menjaga kebugaran jangka panjang.
- Pendekatan konsisten dinilai lebih efektif daripada latihan berat yang membuat cepat jenuh.

Dylan Efron, adik aktor Hollywood Zac Efron, memastikan diri akan mengikuti New York City Marathon pada November 2025. Pria berusia 34 tahun itu mengaku mendapat undangan langsung dan memutuskan untuk mengambil tantangan tersebut setelah sebelumnya sukses berkompetisi di ajang Dancing with the Stars.
Keputusan Dylan untuk berlari di salah satu maraton terbesar dunia itu bukan tanpa alasan. Ia mengaku memiliki energi berlebih yang ingin disalurkan ke kegiatan positif. "Saya dapat undangan, jadi kenapa tidak? Saya punya banyak energi dan tahun lalu saya bakar energi itu untuk menari. Saya pikir, ayo ikut berbagai hal," ujarnya kepada Extra, seperti dikutip dari bangpremier.com. Sebelumnya, ia juga baru saja menyelesaikan triatlon secara spontan.
Untuk mempersiapkan diri, Dylan menjalani latihan yang tidak biasa. Alih-alih mengikuti kelas kebugaran intensitas tinggi, ia lebih memilih bersepeda statis sambil menonton Netflix atau acara Dancing with the Stars. "Saya pindahkan sepeda jalan ke sepeda statis. Itu satu hal yang saya lakukan konsisten selama 10 tahun dan menjaga tubuh tetap ramping. Saya kayuh sepeda, tonton Netflix, detak jantung rendah 130. Saya nikmati saja," jelasnya.
Pendekatan latihan low-intensity ini menurut Dylan lebih berkelanjutan. Ia menilai banyak kelas olahraga yang memaksa tubuh bekerja terlalu keras justru membuat seseorang malas berlari lagi. "Intinya adalah melakukan sesuatu yang ringan, konsisten, yang bisa dilakukan setiap hari," tambahnya.
Selain soal olahraga, Dylan juga berbicara tentang kehidupan asmaranya dengan Courtney King. Ia menjelaskan bahwa sang kekasih memilih untuk tidak aktif di media sosial, bahkan hampir tidak menggunakan Instagram. "Courtney adalah bagian besar dalam hidup saya, tapi dia tidak punya media sosial. Dia bahkan tidak menggunakan Instagram, jadi untuk waktu yang lama dia tidak ingin diposting," ungkapnya.
Dylan mengaku nyaman dengan dinamika hubungan tersebut. Menurutnya, menjaga privasi membantu keseimbangan hidup dan menghindari potensi konflik. "Saya suka menjaga keseimbangan kerja dan hidup. Saya akan gugup jika kami posting bersama setiap hari, rasanya akan ada permusuhan," tuturnya.
Pendekatan Dylan dalam mempersiapkan maraton menyoroti tren kebugaran yang mulai bergeser. Banyak orang kini beralih dari latihan intensitas tinggi ke aktivitas ringan namun konsisten untuk menghindari cedera dan kelelahan. Pola ini sejalan dengan prinsip latihan endurance yang menekankan pada pembangunan basis aerobik secara bertahap.
Bagi publik Indonesia, kisah Dylan bisa menjadi cermin bahwa memulai gaya hidup aktif tidak selalu memerlukan program berat. Konsistensi dan pemilihan aktivitas yang menyenangkan menjadi kunci agar olahraga tidak terasa sebagai beban. Dengan populasi yang semakin sadar kesehatan, pendekatan seperti ini berpotensi diadopsi oleh masyarakat urban yang memiliki waktu terbatas.
Keikutsertaan Dylan di New York City Marathon juga menambah daftar selebritas yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari identitas publik. Fenomena ini memperkuat citra bahwa maraton bukan hanya ajang atlet profesional, tetapi juga panggung bagi mereka yang ingin menantang batas diri. Apakah Dylan akan menginspirasi lebih banyak orang untuk mencoba hal serupa?



