Starliner Kembali ke Orbit 2026, Boeing Hadapi Ujian Tanpa Awak
Baca dalam 60 detik
- NASA menargetkan peluncuran Starliner-1 pada Desember 2026 hingga Januari 2027 tanpa astronaut, sebagai langkah verifikasi pasca-insiden 2024.
- Boeing telah melakukan perbaikan termal dan desain katup, namun penggantian komponen kritis baru tuntas setelah misi tanpa awak selesai.
- Jika lolos, Starliner-2 dijadwalkan mengangkut kru pada 2028, meski NASA belum memberikan tanggal pasti.

NASA dan Boeing mengumumkan bahwa pesawat antariksa Starliner akan kembali mengudara paling cepat Desember 2026, dengan jendela peluncuran hingga Januari 2027. Misi ini menjadi ujian krusial bagi Boeing setelah insiden 2024 yang membuat dua astronaut terjebak di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) selama sembilan bulan.
Berbeda dari penerbangan sebelumnya, Starliner-1 kali ini tidak akan membawa awak. NASA memilih pendekatan tanpa manusia untuk memastikan seluruh perbaikan sistem berjalan sesuai harapan sebelum mengembalikan sertifikasi kru. Meski tanpa astronaut, misi ini tetap akan mengangkut kargo ke ISS.
Keputusan tersebut mencerminkan kehati-hatian NASA setelah kritik tajam terhadap penanganan insiden 2024. Saat itu, kebocoran helium dan kegagalan pendorong membuat Starliner tidak dapat kembali dengan aman, memaksa NASA mengalihkan astronaut ke kapsul SpaceX Dragon. Sejumlah astronaut kemudian mengungkap bahwa situasinya jauh lebih serius daripada yang diakui publik.
Boeing telah melakukan sejumlah modifikasi, termasuk perubahan termal pada modul layanan dan desain ulang katup pendorong. Namun, NASA menegaskan bahwa penggantian pendorong modul kru, baterai, dan sistem parasut baru akan dipasang setelah Starliner-1 kembali ke Bumi. Boeing juga berkomitmen mengganti seluruh katup pada 12 pendorong RCS modul kru untuk misi mendatang, plus langkah tambahan mencegah korosi.
"Starliner harus membuktikan diri sebelum bisa membawa manusia lagi," demikian pernyataan NASA, seperti dikutip dari pembaruan resmi.
Tekanan bagi Boeing semakin besar karena SpaceX berencana memensiunkan kapsul Dragon dari misi orbit rendah Bumi. Jika benar, Boeing tidak punya pilihan selain mempercepat perbaikan Starliner agar NASA tetap memiliki akses mandiri ke ISS. Ketergantungan pada satu penyedia layanan antariksa menjadi risiko strategis yang ingin dihindari Washington.
Bagi Indonesia, perkembangan ini berdampak tidak langsung pada sektor kedirgantaraan dan riset. Meskipun Indonesia belum memiliki program antariksa berawak, stabilitas operasi ISS memengaruhi akses data satelit, riset iklim, dan kolaborasi internasional yang selama ini dinikmati lembaga seperti LAPAN (kini BRIN). Kegagalan Starliner dapat mengganggu jadwal logistik ISS, yang pada gilirannya memengaruhi eksperimen dan peluncuran satelit komersial dari kawasan Asia Tenggara.
Dengan sisa waktu sekitar dua tahun, Boeing harus menuntaskan seluruh perbaikan dan melewati serangkaian uji terbang tanpa awak. Jika Starliner-1 sukses, Starliner-2 dijadwalkan membawa kru pada 2028. Namun, jika ada anomali baru, jadwal bisa mundur lagi, memperpanjang ketidakpastian bagi NASA dan mitra internasionalnya.



