Rumah Raden Saleh di Cikini Dipugar, Jejak Maestro Seni Lukis Kembali Dihidupkan
Baca dalam 60 detik
- Pemugaran Rumah Raden Saleh di kompleks RS PGI Cikini, Jakarta Pusat, tengah berlangsung untuk melestarikan warisan sang pelukis legendaris.
- Proyek ini menjadi bagian dari upaya menjaga cagar budaya di tengah tekanan pembangunan perkotaan yang kian masif.
- Keberhasilan pemugaran berpotensi memperkuat narasi sejarah seni nasional dan membuka peluang wisata heritage di kawasan Cikini.

Pemugaran Rumah Raden Saleh di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memasuki tahap pengerjaan. Proyek ini menyasar bangunan bersejarah yang pernah menjadi kediaman Raden Saleh Sjarif Boestaman, pelukis Indonesia pertama yang mendunia pada abad ke-19. Lokasi rumah berada di dalam kompleks Rumah Sakit PGI Cikini, dan pekerja terlihat menyelesaikan sejumlah bagian struktur pada Rabu (30/9/2026).
Langkah pemugaran ini bukan sekadar perbaikan fisik. Pemerintah dan pengelola kawasan menilai rumah tersebut sebagai penanda penting perjalanan seni rupa nasional. Raden Saleh dikenal sebagai perintis modernisme lukis Indonesia, dengan karya-karya yang menggabungkan teknik Eropa dan tema lokal. Kehadiran bangunan itu di tengah kota menjadi pengingat bahwa Jakarta pernah menjadi ruang tumbuh bagi seniman kelas dunia.
Namun, upaya pelestarian cagar budaya di ibu kota kerap berbenturan dengan kepentingan pembangunan. Kawasan Cikini telah lama menghadapi tekanan komersial dan perubahan tata ruang. Pemugaran rumah Raden Saleh menjadi ujian apakah warisan sejarah bisa bertahan di tengah derasnya arus urbanisasi. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi preseden bagi pengelolaan situs bersejarah lain yang terancam tergeser.
Dari perspektif kebijakan, pemugaran ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Cagar Budaya yang mewajibkan pelestarian benda dan bangunan bersejarah. Namun implementasinya sering terkendala pendanaan dan koordinasi antarlembaga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pengelola kawasan dituntut memastikan proyek tidak berhenti di seremoni. Perawatan jangka panjang menjadi kunci agar bangunan tidak kembali terbengkalai.
"Pemugaran ini untuk menghidupkan kembali jejak sejarah dan melestarikan peninggalan sang maestro seni lukis Indonesia," demikian pernyataan yang menyertai pemberitaan proyek tersebut.
Bagi publik, kehadiran kembali Rumah Raden Saleh berpotensi menjadi destinasi edukasi seni dan sejarah. Kawasan Cikini sendiri sudah memiliki nilai historis kuat, mulai dari taman hiburan legendaris hingga bangunan kolonial. Menghubungkan titik-titik sejarah ini bisa memperkuat identitas kota sebagai pusat kebudayaan, sekaligus mendorong ekonomi kreatif berbasis warisan.
Yang perlu dicermati, pemugaran tanpa narasi yang kuat hanya akan menghasilkan bangunan tua yang kosong makna. Diperlukan kurasi konten, penataan ruang pamer, dan program publik yang membuat generasi muda terhubung dengan sosok Raden Saleh. Tanpa itu, proyek ini berisiko menjadi monumen pasif yang jarang dikunjungi.
Ke depan, publik menanti apakah pemugaran Rumah Raden Saleh akan tuntas sesuai jadwal dan benar-benar dibuka untuk masyarakat. Jika berhasil, Cikini bisa menjadi contoh bagaimana kota besar merawat memorinya sendiri. Sebaliknya, jika mangkrak, ia hanya akan menjadi pengingat bahwa sejarah sering kalah oleh kepentingan jangka pendek.



