Pete Davidson Buka Suara Soal Alasan Putus dari Kim Kardashian: 'Terlalu Berat untuk Saya'
Baca dalam 60 detik
- Pete Davidson mengungkap bahwa tekanan hidup sebagai pasangan Kim Kardashian menjadi faktor utama kandasnya hubungan mereka.
- Ia mengaku sulit menghadapi sorotan publik yang terus-menerus, terutama karena riwayat kesehatan mental dan masalah narkoba yang pernah dialaminya.
- Meski demikian, komedian itu menegaskan hubungan mereka tetap baik dan ia masih menyimpan rasa sayang kepada Kim.

Pete Davidson akhirnya angkat bicara mengenai penyebab berakhirnya hubungannya dengan Kim Kardashian. Dalam wawancara terbaru dengan Variety, komedian berusia 32 tahun itu mengungkap bahwa tekanan hidup di bawah sorotan publik menjadi alasan utama ia dan Kim memutuskan berpisah pada Agustus 2022 setelah hampir setahun berpacaran.
Davidson menuturkan bahwa ia sangat mengagumi cara Kim dan keluarganya menghadapi eksposur media yang luar biasa. "Salah satu hal yang saya sukai dari Kim dan seluruh keluarganya adalah mereka seperti berkata, 'Inilah yang kami lakukan.' Saya menemukan itu sangat menarik dan dewasa," ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa gaya hidup yang selalu diikuti kamera, dikelilingi pengawal, dan harus terus waspada terhadap orang di sekelilingnya sangat membebani kondisi mentalnya. "Bagi pria dengan masalah mental, dan saat itu masalah narkoba, itu terlalu berat untuk saya," tambahnya.
Meski demikian, Davidson menegaskan bahwa hubungan mereka tetap baik. "Kami baik-baik saja, dan saya masih memiliki banyak cinta untuknya. Saya tahu apa yang saya hadapi sejak awal," katanya. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi yang beredar bahwa perpisahan mereka terjadi karena konflik internal.
Dalam wawancara terpisah di acara The Breakfast Club, Davidson juga mengungkapkan frustrasinya karena publik lebih mengenalnya sebagai selebritas yang berpacaran dengan banyak bintang terkenal ketimbang sebagai pelawak berbakat. "Saya lelah karier saya hanya dianggap sebagai kehidupan pribadi saya. Hidup dalam omongan buruk tentang diri sendiri terus-menerus itu semacam trauma," ujarnya. Ia bahkan menyoroti pengalaman tidak nyaman ketika dirinya menjadi objek seksualisasi publik. "Jika yang mengalami itu seorang perempuan, orang akan menggelar aksi protes. Serius, Anda hanya membicarakan alat kelamin saya sepanjang hari," tuturnya.
Pernyataan Davidson ini menyoroti sisi gelap industri hiburan, terutama bagi mereka yang menjalin hubungan dengan figur sebesar Kim Kardashian. Tekanan dari paparazzi, komentar warganet, dan ekspektasi publik dapat menjadi beban psikologis yang serius. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap dialami artis atau publik figur yang hubungan asmaranya menjadi konsumsi media sosial. Kesehatan mental pun menjadi isu yang semakin relevan, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya batasan privasi bagi selebritas.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana industri hiburan dapat melindungi kesehatan mental para bintangnya? Apakah perlu ada regulasi yang lebih ketat terhadap paparazzi dan media yang kerap melanggar privasi? Davidson sendiri tampaknya memilih untuk lebih fokus pada karier komedinya dan keluarganya, termasuk putrinya, Scottie, yang kini berusia sepuluh bulan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia selebritas, ada manusia biasa yang rentan terhadap tekanan psikologis.



