Dua Kali Pingsan dalam Empat Hari: Kondisi Kesehatan Musiala Mengkhawatirkan Bayern Munich
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Bayern Munich, Jamal Musiala, kembali mengalami kolaps saat laga uji coba melawan Heidenheim, hanya empat hari setelah insiden serupa kontra RB Leipzig.
- Klub memastikan pemain berusia 23 tahun itu telah mendapat izin tertulis dari ahli saraf untuk tetap bermain, meski publik mempertanyakan keputusan tersebut.
- Riwayat cedera panjang dan performa yang menurun membuat masa depan Musiala di Bayern Munich menjadi sorotan, termasuk klausul rilis yang bisa aktif musim panas mendatang.

Jamal Musiala kembali membuat gempar publik sepak bola Jerman. Gelandang serang Bayern Munich itu kolaps untuk kedua kalinya dalam empat hari, kali ini saat laga uji coba melawan Heidenheim, Selasa (22/7/2025) waktu setempat. Baru delapan menit berada di lapangan sebagai pemain pengganti, pemain berusia 23 tahun itu tiba-tiba jatuh dan langsung mendapat perawatan. Insiden ini terjadi hanya empat hari setelah ia mengalami hal serupa dalam pertandingan melawan RB Leipzig.
Dalam pernyataan yang diunggah di akun Instagram-nya, Musiala mengungkapkan bahwa ia mengalami "absence seizures" atau kejang absans, sebuah kondisi yang disebutnya sebagai "gangguan neurologis" yang mudah diobati. Meski demikian, kekhawatiran publik semakin besar, terutama karena Bayern tetap menurunkannya dalam laga tersebut hanya beberapa hari setelah kejadian pertama. Banyak suporter mempertanyakan keputusan tersebut, namun pihak klub bergerak cepat memberikan klarifikasi.
Presiden kehormatan Bayern, Uli Hoeness, buka suara kepada Sky Sports. Ia mengakui bahwa pihak klub sebenarnya sudah mengetahui masalah ini sejak sebelum Piala Dunia, namun baru pertama kali terlihat di lapangan saat melawan Leipzig. "Kami pikir obat yang dia konsumsi akan membantu jika tidak terjadi lagi. Tapi ketika itu terjadi lagi empat hari kemudian dengan cara yang sama, saya terkejut," ujarnya. Hoeness menegaskan bahwa Musiala telah dinyatakan layak bermain oleh para dokter dan ahli saraf yang merawatnya. "Mereka memberikan konfirmasi tertulis bahwa tidak ada kekhawatiran mengenai Jamal untuk berpartisipasi dalam olahraga berkinerja tinggi. Tanpa itu, kami akan bertindak lalai," tambahnya.
Kejang absans adalah jenis kejang umum yang sering menyerang anak-anak dan dewasa muda. Menurut Dr. Meneka Sidhu, konsultan neurologis di National Hospital for Neurology and Neurosurgery di London, kejang absans tipikal biasanya berlangsung singkat dan penderitanya tampak seperti melamun. "Bisa sangat singkat, dan orang tersebut bisa melanjutkan aktivitas seperti tidak terjadi apa-apa," jelasnya. Namun, pada kasus yang lebih panjang, bisa terjadi gerakan otomatis seperti menggerakkan tangan atau kelopak mata berkedip. Beberapa orang bahkan bisa jatuh. Dr. Sidhu menambahkan bahwa episode berulang dalam 24 jam bisa menjadi indikasi epilepsi, meski bisa diobati dengan obat-obatan. "Jika diobati secara efektif, tidak ada alasan kejang absans menghentikan seseorang bermain olahraga," tegasnya.
Kabar ini menjadi pukulan telak bagi karier Musiala yang tengah menanjak. Sebelumnya, ia harus menepi lama akibat cedera patah kaki dan dislokasi pergelangan kaki saat melawan Paris Saint-Germain di Piala Dunia Antarklub, yang membuatnya absen 196 hari. Ia juga sempat bermain dengan pelat logam di kakinya sejak Januari hingga akhir Piala Dunia 2025, dan baru melepasnya pada Juli lalu. Kondisi ini membatasi latihannya selama pramusim. Pengamat sepak bola Jerman, Constantin Eckner, menilai bahwa Musiala belum memberikan kontribusi maksimal dalam 18 bulan terakhir. "Dia masih muda dan segalanya bisa berubah lagi," ujarnya, namun ia juga menyoroti bahwa klausul rilis dalam kontraknya bisa aktif musim panas mendatang dengan nilai transfer yang sangat besar, sehingga sulit bagi klub mana pun untuk membayarnya saat ini.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kondisi Musiala menjadi pengingat bahwa tekanan fisik dan mental di level tertinggi bisa berdampak serius pada kesehatan pemain. Kasus ini juga menyoroti pentingnya manajemen risiko cedera dan kesehatan mental dalam sepak bola modern. Di Indonesia, di mana industri sepak bola sedang berkembang, pelajaran dari kasus ini adalah perlunya pendekatan medis yang ketat dan transparan terhadap kondisi pemain, terutama yang memiliki riwayat medis tertentu. Klub-klub di Tanah Air bisa belajar dari langkah Bayern yang memastikan izin tertulis dari ahli medis sebelum menurunkan pemain.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah Musiala bisa kembali ke performa terbaiknya dan terhindar dari cedera berkepanjangan. Bayern Munich tentu berharap investasi besar mereka pada pemain muda ini tidak sia-sia. Namun, dengan kondisi yang belum stabil, akankah klub-klub besar Eropa tetap berani meminangnya? Atau justru Bayern akan lebih berhati-hati dalam mengelola kebugarannya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: kesehatan Musiala harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.



