India Mendominasi, Sri Lanka Terpuruk di Galle: 99-5 Membalas 462
Baca dalam 60 detik
- Tim tamu India berhasil mengumpulkan 462 run di inning pertama, dengan keunggulan 363 run atas Sri Lanka.
- Pada sesi lunch hari ketiga, Sri Lanka kehilangan lima wicket dengan hanya 99 run, membuat mereka menghadapi tekanan besar untuk menghindari kekalahan.
- Kinerja gemilang bowler India, terutama Mohammed Siraj dan Manav Suthar, menjadi kunci dominasi India dalam pertandingan ini.

GALLE โ Tekanan besar menghantam tuan rumah Sri Lanka pada hari ketiga tes pertama melawan India di Galle, Senin (17/8). Saat jeda makan siang, skuad asuhan Dimuth Karunaratne terpuruk di skor 99-5, masih tertinggal 363 run dari total inning pertama India yang mencapai 462. Dengan lima wicket tersisa, Sri Lanka menghadapi ancaman nyata mengikuti jejak inning sebelumnya yang berakhir dengan kekalahan telak.
India, yang memulai hari dengan posisi 460-9, hanya butuh satu bola untuk mengakhiri inning mereka. Mohammed Siraj, yang menjadi pahlawan dengan bola baru, langsung memberikan pukulan telak dengan menyingkirkan opener Nishan Fernando tanpa angka pada over pertama. Kepercayaan diri India semakin meningkat setelah sukses membungkam batsman pembuka lawan.
Manav Suthar, spinner kiri yang baru masuk tim, langsung menunjukkan taringnya. Pada bola pertamanya, ia menaklukkan Dinesh Chandimal yang tertangkap di belakang wicket hanya dengan lima run. Suthar kemudian menggandakan kesuksesannya dengan menyingkirkan Lahiru Udara yang mencetak 27 run. Sementara itu, kapten India Shubman Gill menunjukkan reflek luar biasa dengan menangkap bola rendah di extra cover untuk mengirim Kamindu Mendis kembali ke paviliun dengan 14 run.
Dominasi India di Galle bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka selalu tampil superior di kandang Sri Lanka. Namun, yang menarik adalah bagaimana tim tamu mampu menekan sejak awal, tidak memberi ruang bagi batsman tuan rumah untuk bernapas. Kombinasi pace dan spin yang dimainkan India terbukti efektif, dengan Siraj dan Suthar menjadi mimpi buruk bagi barisan batsman Sri Lanka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini mungkin terasa jauh, namun ada pelajaran berharga tentang pentingnya fondasi yang kuat dalam kriket. Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga ini, bisa belajar dari strategi India dalam membangun tekanan dan memanfaatkan kondisi lapangan. Meskipun kriket belum sepopuler di Indonesia, pertandingan seperti ini memberikan gambaran tentang standar internasional yang bisa menjadi target jangka panjang.
Para analis menilai bahwa Sri Lanka masih memiliki peluang untuk bangkit, mengingat masih ada dua hari tersisa. Namun, dengan lima wicket yang sudah jatuh, mereka harus bergantung pada kemampuan batsman bawah untuk bertahan. Sementara itu, India akan berusaha memanfaatkan momentum ini untuk meraih kemenangan cepat dan memimpin seri.
Pertanyaan besarnya adalah: mampukah Sri Lanka menghindari kekalahan inning, atau justru India akan menuntaskan pertandingan lebih cepat dari perkiraan? Dengan kondisi lapangan yang masih mendukung bowler, tampaknya India berada di kursi pengemudi. Namun, dalam kriket, segalanya bisa berubah dalam sekejap.



