Joe Root Kembali Memimpin Inggris: Antara Warisan Konservatif dan Ambisi Rekor
Baca dalam 60 detik
- Joe Root resmi kembali menjadi kapten tim kriket Inggris untuk seri melawan Pakistan, mencatatkan penampilan ke-66 sebagai kapten, rekor nasional baru.
- Data historis menunjukkan gaya kepemimpinan Root yang lebih hati-hati, dengan run-rate 3.16 dan hanya 23% tembakan agresif, kontras dengan era Stokes yang agresif.
- Root kini hanya butuh 1.807 run lagi untuk memecahkan rekor run terbanyak sepanjang masa milik Sachin Tendulkar, dengan peluang besar di Ashes 2025.

Joe Root kembali memegang kendali tim kriket Inggris saat mereka bersiap menghadapi Pakistan di Headingley pekan ini. Penunjukan ini menandai kali ke-66 Root memimpin tim nasional dalam format Test, sebuah rekor baru bagi Inggris, meski masih jauh dari catatan 109 pertandingan yang dipegang Graeme Smith untuk Afrika Selatan. Keputusan ini diambil setelah Ben Stokes mengundurkan diri pasca seri melawan Selandia Baru awal musim panas ini.
Kembalinya Root ke kursi kapten memicu pertanyaan besar: apakah era baru ini akan mengulang gaya konservatif yang pernah ia terapkan, atau justru mengadopsi filosofi agresif ala Stokes yang telah mengubah wajah kriket Inggris dalam empat tahun terakhir? Data statistik menunjukkan perbedaan mencolok. Selama 65 Test di bawah kepemimpinan Root, Inggris mencetak run-rate 3.16 dengan hanya 23% tembakan agresif. Sebaliknya, di era Stokes, run-rate melonjak menjadi 4.40 dengan 42% tembakan agresif. Namun, angka ini tidak serta-merta berarti tim Root lebih produktif; rata-rata run per wicket justru lebih rendah, yaitu 29 dibanding 34 di bawah Stokes, dan jauh dari 40 yang diraih era Andrew Strauss saat Inggris mencapai peringkat satu dunia.
Perbedaan filosofi ini juga tercermin dalam ketahanan wicket. Tim Root kehilangan wicket rata-rata setiap 54.9 bola, lebih baik dari Stokes (46.3), tetapi masih kalah dari Strauss (69.5). Menariknya, meski gaya bermainnya lebih hati-hati, Root justru memiliki strike-rate tertinggi di antara semua batsman selama masa kepemimpinannya, menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan kebutuhan tim. Namun, catatan melawan tim kuat seperti Australia dan India menjadi titik lemah: hanya 29% kemenangan, jauh di bawah Stokes (35%), Cook (38%), dan Brearley (57%).
Dalam wawancara pertamanya setelah ditunjuk kembali, Root mengakui pengaruh besar era McCullum-Stokes terhadap cara pandangnya. "Empat tahun terakhir adalah periode paling menyenangkan dalam karier profesional saya, dan sebagian besar karena cara mereka membuat saya melihat permainan," ujarnya. Ia menekankan pentingnya menghilangkan rasa takut dan membiarkan bakat pemain muncul di momen-momen besar. Ini sinyal bahwa Root mungkin tidak akan sepenuhnya kembali ke gaya lamanya, melainkan menggabungkan kebijaksanaan lama dengan semangat baru.
Di sisi lapangan, kepemimpinan Root sering diremehkan. Timnya memiliki tingkat dismissal yang baik, rata-rata satu wicket setiap 50 bola, hanya kalah dari tim yang dipimpin Ollie Pope. Namun, ia harus bekerja tanpa pemain kunci seperti James Anderson, Stuart Broad, Chris Woakes, dan Stokes sendiri. Penggunaan spin di kandang juga menurun drastis, dari 24% pada 2017 menjadi 14% pada 2021. Meski demikian, kualitas batting Root tidak perlu diragukan: rata-rata 47 run per inning saat menjadi kapten, sedikit di bawah 53 saat tidak, tetapi justru meningkat menjadi 54 sejak melepas ban kapten pertama kali.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, dinamika kepemimpinan Root menarik untuk disimak, terutama karena kriket mulai mendapat perhatian di Asia Tenggara. Gaya kepemimpinan yang adaptif, seperti yang ditunjukkan Root, bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan olahraga ini di kawasan. Selain itu, perburuan rekor Root menambah daya tarik tersendiri bagi penggemar global, termasuk di Indonesia yang mulai mengikuti perkembangan kriket internasional.
Dengan tiga pertandingan melawan Pakistan musim panas ini, serta tur ke Afrika Selatan dan Bangladesh, Root berpeluang besar mendekati rekor Tendulkar. Jika konsisten, ia bisa mencapai rekor tersebut pada Ashes musim panas mendatang di kandang sendiri. Pertanyaannya: mampukah ia mengangkat trofi Ashes sekaligus memecahkan rekor, atau justru beban ganda ini akan menjadi ujian terbesar dalam kariernya?



