Makhachev Cetak Sejarah 17 Kemenangan Beruntun di UFC, Kalahkan Machado Garry
Baca dalam 60 detik
- Islam Makhachev mempertahankan gelar kelas welter UFC dengan kemenangan mutlak atas Ian Machado Garry di Philadelphia, sekaligus memecahkan rekor 13 tahun Anderson Silva.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Makhachev sebagai petarung pound-for-pound terbaik dunia, dengan torehan 29 menang dan hanya 1 kalah sepanjang kariernya.
- Kekalahan ini menunda mimpi Machado Garry menjadi juara UFC asal Irlandia pertama sejak Conor McGregor, namun petarung 28 tahun itu berjanji akan bangkit.

Islam Makhachev kembali membuktikan kelasnya sebagai petarung terbaik dunia saat ini. Pada UFC 330 di Philadelphia, Sabtu malam waktu setempat, jagoan asal Rusia itu menundukkan Ian Machado Garry lewat keputusan mutlak para juri, sekaligus mempertahankan sabuk juara kelas welter. Kemenangan ini juga mengukuhkan namanya dalam buku rekor UFC: 17 kemenangan beruntun, memecahkan rekor lama Anderson Silva yang bertahan 13 tahun.
Pertarungan di Xfinity Mobile Arena itu memang dinanti sebagai duel antara gaya gulat khas Makhachev melawan striking mematikan Machado Garry. Sejak ronde pertama, Makhachev langsung menunjukkan niatnya dengan menjatuhkan lawan lewat takedown pertamanya. Meski Machado Garry mencoba bertahan di bawah, dominasi Makhachev tak terbendung. Ia mengontrol jalannya pertarungan dengan menempelkan lawan di sisi kandang, membuat petarung Irlandia itu kesulitan mengembangkan permainan.
Memasuki ronde kedua, Makhachev semakin ganas. Tendangan ke arah kepala membuat Machado Garry sempat goyah sebelum akhirnya dihempaskan ke kanvas. Meski berhasil bertahan hingga akhir ronde, Machado Garry hanya mampu sesekali melancarkan tendangan efektif di tengah pertarungan. Ia bahkan sempat membuat wajah Makhachev berdarah lewat pukulan-pukulan dalam clinch, namun itu tak cukup untuk mengubah arah pertarungan.
Statistik menunjukkan betapa dominannya Makhachev: tujuh takedown sukses tanpa balasan, plus waktu kontrol lebih dari 12 menit, berbanding hanya 34 detik milik lawan. Meski Machado Garry unggul dalam pukulan signifikan (29 berbanding 22), para juri tetap memenangkan Makhachev. Usai laga, keduanya saling berpelukan dan Machado Garry mengangkat tangan Makhachev sebagai bentuk penghormatan.
"Ian adalah petarung hebat, pria baik, dan saya menghormatinya. Dia memberi saya perlawanan sengit, tapi saya tetap membuktikan diri di setiap pertarungan," ujar Makhachev yang kini berusia 34 tahun. Sementara itu, Machado Garry menyampaikan permintaan maaf kepada para penggemarnya di Irlandia. "Saya berdiri di sini sebagai pria yang bangga dengan apa yang telah saya capai, bangga dari mana saya berasal, dan yakin ini akan membawa saya lebih jauh. Untuk semua penggemar yang meragukan saya, saya akan kembali," katanya penuh semangat.
Kemenangan ini kian memperkuat posisi Makhachev dalam perdebatan siapa petarung UFC terhebat sepanjang masa. Dengan usia yang masih 34 tahun, ia punya waktu untuk menambah pundi-pundi gelarnya. Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Machado Garry yang masih 28 tahun. Ia punya banyak waktu untuk mewujudkan mimpinya menjadi juara UFC, dan kembalinya ia ke jalur kemenangan akan dinantikan.
Di laga utama pendamping, petarung Amerika-Brasil Mackenzie Dern sukses mempertahankan gelar kelas jerami untuk kali pertama. Ia menang angka mutlak atas Gillian Robertson dari Kanada. Dern, yang kini 33 tahun, mendominasi pertarungan gulat dan meraih kemenangan keempat beruntunnya. "Pada kemenangan gelar pertama saya, saya sering di-takedown. Jadi saya terus berlatih gulat. Saya masih juara," kata Dern.
Kabar lain, UFC mengumumkan jadwal UFC 333 di Abu Dhabi pada 24 Oktober. Alexander Volkanovski dari Australia akan mempertahankan gelar kelas bulu melawan Movsar Evloev asal Rusia. Sementara di laga utama, Petr Yan akan menantang kembali Merab Dvalishvili untuk sabuk kelas bantam. Laga ini menjadi rematch yang dinanti setelah sebelumnya Dvalishvili keluar sebagai juara.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, dominasi Makhachev semakin menegaskan bahwa gulat adalah fondasi utama kesuksesan di UFC. Gaya bertarungnya yang mengandalkan kontrol dan tekanan bisa menjadi referensi bagi petarung Tanah Air yang ingin menembus panggung dunia. Dengan semakin populernya MMA di Indonesia, kehadiran petarung-petarung kelas dunia seperti Makhachev diharapkan bisa menginspirasi generasi muda untuk menekuni olahraga ini secara serius.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Makhachev mempertahankan rekor dan gelarnya lebih lama lagi? Atau akankah muncul penantang baru yang mampu menghentikan lajunya? Yang jelas, era Makhachev di UFC masih jauh dari kata usai.



