Mantan Bintang Arsenal dan Tottenham Naik Ring demi Amal, Target Rp4 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Pro Project Promotions menggelar A Night to Remember III di Grosvenor House Hotel London pada 22 Oktober 2026, menampilkan 14 mantan pesepakbola profesional.
- Dua event sebelumnya berhasil mengumpulkan lebih dari £201.500 (sekitar Rp4 miliar) untuk amal, dan tiket edisi ketiga diprediksi ludes lebih cepat.
- Dokumenter A Night to Remember I & II akan tayang di Amazon Prime, memperluas jangkauan dan potensi donasi.

Sebanyak 14 mantan pesepakbola profesional dari klub-klub Premier League dan Football League akan bertarung dalam laga eksibisi amal bertajuk A Night to Remember III di Grosvenor House Hotel, London, pada 22 Oktober 2026. Acara yang digagas Pro Project Promotions—didirikan oleh mantan kiper Arsenal, Graham Stack—ini menargetkan rekor penggalangan dana setelah dua edisi sebelumnya mengumpulkan lebih dari £201.500 (sekitar Rp4 miliar) untuk berbagai yayasan.
Berbeda dari pertandingan sepak bola amal biasa, formatnya adalah tinju tiga ronde. Para peserta menjalani kamp pelatihan intensif selama sepuluh pekan, sebuah proses yang menurut penyelenggara menjadi bagian dari pemulihan mental dan fisik pasca-pensiun. Nama-nama seperti Sebastien Bassong (Tottenham, Newcastle, Kamerun), Jay Emmanuel-Thomas (Arsenal), dan Matthew Briggs (Fulham) masuk dalam daftar, membawa cerita pasang-surut karier yang jarang terekspos.
Bassong, bek tengah yang pernah dibeli Tottenham seharga £10 juta dan tampil di Piala Dunia 2010, menjadi salah satu nama paling beken. Sementara Briggs memegang rekor Guinness sebagai pemain termuda yang tampil di Premier League pada usia 16 tahun 68 hari, namun setelah dilepas Fulham pada 2014 ia sempat bekerja di proyek konstruksi dan terbuka soal gangguan kesehatan mental yang dialaminya. Kisah-kisah semacam ini yang membuat Pro Project Promotions berbeda dari sekadar pertandingan amal.
Graham Stack, pendiri Pro Project Promotions, menuturkan bahwa edisi ketiga ini adalah yang paling emosional. "Setiap dari mereka punya cerita yang layak didengar. Sebagian pernah bermain di level tertinggi, sebagian lagi harus membangun hidup dari nol. Mereka semua naik ring untuk orang-orang yang lebih membutuhkan," ujarnya dalam rilis resmi. Ia juga menyebut bahwa dokumenter yang tayang di Amazon Prime akan membuat lebih banyak orang memahami misi sosial di balik acara ini.
Selain Bassong dan Briggs, daftar peserta mencakup Nile Ranger (Newcastle United), Gary Madine (Sheffield Wednesday, Bolton), Armand Traore (Arsenal, QPR), Harlee Dean (Brentford, Birmingham), Simon Cox (West Brom, Reading), Lee Cook (QPR, Fulham), Leroy Lita (Reading, Middlesbrough), Anthony Gardner (Tottenham, Hull City), David Norris (Plymouth, Ipswich), Martin Woods (Sunderland, Doncaster), dan Jamie Sendles-White (QPR). Sebagian dari mereka pernah terjerat masalah hukum, seperti Jay Emmanuel-Thomas yang divonis empat tahun penjara pada 2023 karena terlibat penyelundupan ganja senilai £600.000, dan Nile Ranger yang dipenjara karena penipuan perbankan online. Kehadiran mereka di ring menjadi simbol upaya bangkit dari keterpurukan.
"Kami ingin malam di Grosvenor nanti menjadi yang terbesar. Jadi pesan tiket lebih awal, karena tidak akan tersedia lama," kata Stack.
Bagi publik Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin. Di Tanah Air, banyak pesepakbola yang pensiun dini tanpa bekal finansial atau mental yang memadai. Inisiatif semacam Pro Project Promotions menunjukkan bahwa mantan atlet bisa tetap produktif dan berkontribusi melalui wadah yang terstruktur, sekaligus mengangkat isu kesehatan mental yang masih tabu di kalangan atlet Indonesia. Jika diadaptasi, model acara amal berbasis olahraga ini berpotensi menjadi alternatif penggalangan dana yang menarik bagi sponsor dan penonton.
Ke depan, Pro Project Promotions berencana mengumumkan pasangan bertanding, mitra amal, dan detail tiket dalam beberapa pekan mendatang. Pertanyaannya, apakah format serupa bisa berjalan di Indonesia dengan melibatkan legenda sepak bola nasional? Atau justru akan tersandung perizinan dan minimnya infrastruktur hiburan olahraga? Waktu yang akan menjawab, tetapi angin perubahan sudah terasa dari London.



