McGregor Selesai Operasi Lutut, Janji Comeback: 'Musim Kebangkitan Dimulai Sekarang'
Baca dalam 60 detik
- Petarung UFC asal Irlandia itu menjalani operasi lutut setelah cedera 69 detik di UFC 329, dan menegaskan tekadnya untuk kembali ke oktagon.
- McGregor mengutip inspirasi dari atlet seperti Tom Brady dan Georges St-Pierre, namun bayang-bayang kontroversi hukum dan doping masih membayangi kariernya.
- Dengan usia 38 tahun dan tiga kekalahan beruntun, publik mempertanyakan apakah McGregor masih punya tempat di puncak UFC atau ini hanya nostalgia belaka.

Conor McGregor, petarung UFC asal Irlandia, menegaskan bahwa masa pemulihannya dimulai setelah menjalani operasi pada lutut kanannya yang cedera saat laga comeback-nya melawan Max Holloway di UFC 329 bulan lalu. Dalam unggahan Instagram, ia menulis, "Operasi selesai. Lutut diperbaiki. Para peragu boleh terus bicara. Aku tidak lari dari rasa sakit—aku menghadapinya langsung. Kini pekerjaan sesungguhnya dimulai. Musim kebangkitan dimulai sekarang. Tanpa jalan pintas, tanpa alasan. Hanya tekad untuk bangkit lagi."
Momen yang hanya berlangsung 69 detik itu menjadi sorotan tajam, karena McGregor yang berusia 38 tahun harus menyerah setelah tendangan roundhouse pertamanya meleset dan lututnya tampak terkilir. Ini merupakan penampilan pertamanya di UFC sejak 2021, ketika ia patah kaki dalam duel melawan Dustin Poirier. Kekalahan teknis dari Holloway menambah deretan panjang hasil buruk: tiga kekalahan beruntun dalam lima tahun terakhir.
Namun, McGregor tidak sendirian dalam narasi kebangkitannya. Dalam video yang menyertai unggahan tersebut, ia menyebut sejumlah nama besar yang berhasil pulih dari cedera serius: Dominick Cruz, Georges St-Pierre, dan Tom Brady. "Mereka adalah motivasiku, terutama para petarung. Pola pikirku tidak bisa dihentikan, tidak bisa dipatahkan," ujarnya. Baginya, ini bukan sekadar comeback fisik, melainkan pembuktian mental.
Di balik optimisme itu, kritik terus mengalir. McGregor bukan lagi figur tanpa cela di mata publik. Pada November 2024, pengadilan sipil memenangkan gugatan Nikita Hand yang menuduhnya melakukan pemerkosaan, meski McGregor membantah dan kasus pidana tidak dilanjutkan. Selain itu, ia menerima sanksi 18 bulan dari UFC karena melanggar kebijakan anti-doping—ketinggalan tiga kali tes dalam 12 bulan—yang membuatnya absen hingga Maret 2025. Kontroversi demi kontroversi membuat sebagian pengamat mempertanyakan apakah McGregor masih layak menjadi bintang utama UFC atau hanya hidup dari nama besarnya.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, kisah McGregor selalu menarik, baik sebagai inspirasi maupun peringatan. Di tengah gairah bela diri yang tumbuh di Tanah Air, kasus ini menggarisbawahi bahwa ketenaran tanpa disiplin bisa menjadi bumerang. Federasi olahraga dan atlet muda Indonesia bisa memetik pelajaran: konsistensi dan integritas sama pentingnya dengan bakat di atas arena.
Pertanyaannya sekarang: apakah McGregor benar-benar bisa kembali ke puncak, atau ini hanya proyek nostalgia yang akan berakhir dengan kekecewaan? Dengan usia yang tidak muda lagi dan lawan-lawan yang semakin tangguh, jalan menuju gelar juara dunia semakin terjal. Namun, jika ada satu hal yang konsisten dari McGregor, itu adalah kemampuannya untuk membuat orang percaya pada hal yang mustahil—hingga akhirnya ia membuktikan sebaliknya.



