Ben Askren Tutup Karier dengan Kekalahan Poin, Setahun Setelah Hampir Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Mantan petarung UFC Ben Askren mengakhiri karier kompetitifnya dengan kekalahan 6-3 dari Belal Muhammad dalam pertandingan gulat di Milwaukee.
- Askren menjalani pertarungan terakhir hanya setahun setelah menderita pneumonia berat yang memaksanya menjalani transplantasi paru-paru ganda.
- Kisah Askren menjadi inspirasi bagi banyak atlet, termasuk lawannya Muhammad, yang mengaku hampir menyerah sebelum melihat perjuangan Askren.

Ben Askren resmi menutup karier olahraganya dengan kekalahan angka 6-3 dari Belal Muhammad dalam pertandingan gulat yang digelar di Milwaukee, Wisconsin, Sabtu lalu. Pertarungan yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-42 itu menjadi momen emosional, mengingat setahun sebelumnya ia nyaris meregang nyawa akibat komplikasi pneumonia.
Askren, yang sebelumnya dikenal sebagai petarung UFC dengan tiga pertarungan pada 2019, memutuskan keluar dari masa pensiun untuk satu laga pamungkas. Keputusan itu diambil setelah ia menjalani pemulihan luar biasa dari kondisi kritis yang membuatnya koma selama 37 hari dan "mati" empat kali menurut pengakuannya. Ia kehilangan hampir sepertiga berat badannya, turun hingga 63 kilogram, sebelum menjalani transplantasi paru-paru ganda.
Dalam pertarungan yang diselenggarakan oleh Real American Freestyle (RAF) itu, Askren tampil defensif dan kehabisan tenaga di ronde ketiga. "Kaki saya tidak kuat lagi," ujarnya seusai laga. "Ini pasti kali terakhir saya di atas matras. Saya tidak bisa menemukan tempat yang lebih baik untuk melakukan ini."
Askren mengaku bekerja keras selama setahun terakhir untuk bisa kembali bertarung. "Ada saat-saat saya tidak bisa makan sendiri, berdiri, atau ke kamar mandi. Setiap hari saya bangun dan berterima kasih pada Tuhan atas kesempatan untuk melakukannya sekali lagi," katanya.
Belal Muhammad, yang mengalahkan Leon Edwards untuk merebut gelar juara UFC welterweight pada 2024, memberikan penghormatan kepada Askren. "Dia kembali dari kematian, pria ini legenda. Dia mengubah hidup. Saya sendiri hampir menyerah, lelah dan sakit, tapi melihat Ben berjuang setiap hari mengingatkan bahwa hidup itu berharga," ujar petarung berusia 38 tahun itu.
Kisah Askren menjadi pengingat akan ketangguhan mental dan fisik seorang atlet. Di Indonesia, kisah serupa kerap menjadi inspirasi bagi atlet bela diri yang menghadapi cedera atau kegagalan. Meski tidak ada petarung Indonesia yang terlibat langsung, semangat pantang menyerah Askren relevan dengan budaya gotong royong dan perjuangan yang dijunjung tinggi di Tanah Air.
Sementara itu, dalam ajang UFC di Oklahoma City, petarung Inggris Christian Leroy Duncan meraih kemenangan kelima beruntun setelah mengalahkan Jared Cannonier melalui keputusan mutlak. Duncan, 30 tahun, kini menargetkan pertarungan melawan nama-nama besar seperti Dricus Du Plessis atau Kamaru Usman. Di ajang PFL, bintang muda Inggris Lewis McGrillen harus mengakui keunggulan Rafael do Nascimento melalui rear naked choke, mengakhiri rentetan empat kemenangan beruntunnya.
Dengan pensiunnya Askren, dunia MMA kehilangan salah satu karakter paling unik. Namun, warisannya sebagai petarung yang bangkit dari ambang kematian akan terus dikenang. Pertanyaan selanjutnya: mampukah petarung lain meniru ketangguhannya?



