Pilot flydubai Diduga Tusuk Kopilot dan Coba Jatuhkan Pesawat, Netanyahu Sebut Insiden Keamanan Serius
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan flydubai dari Dubai ke Israel dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi, setelah pilot diduga menyerang kopilot dan berupaya membelokkan pesawat.
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut kejadian itu insiden keamanan sangat serius, sementara sejumlah pejabat menilainya sebagai upaya serangan teroris.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang prosedur keamanan kokpit dan pengawasan penerbangan komersial di kawasan Timur Tengah.

Sebuah pesawat komersial flydubai rute Dubai–Tel Aviv terpaksa mendarat darurat di Bandara Tabuk, Arab Saudi, setelah terjadi dugaan penyerangan di dalam kokpit yang membuat pesawat sempat kehilangan kendali. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan salah satu pilot menusuk kopilot dan tampak berupaya menjatuhkan pesawat. Insiden ini langsung memicu penyelidikan apakah peristiwa tersebut merupakan percobaan serangan teroris terhadap penumpang Israel.
Penerbangan Boeing 737 itu membawa antara 160 hingga 180 penumpang. Berdasarkan data situs pelacak penerbangan Flightradar24, pesawat mengirimkan sinyal darurat umum sekitar dua setengah jam setelah lepas landas dari Dubai. Saat berada di wilayah udara Yordania, pesawat membelok ke Arab Saudi dan memancarkan tiga sinyal darurat, salah satunya mengindikasikan kemungkinan gangguan ilegal. Dalam rentang dua menit, pesawat dilaporkan turun drastis sekitar 16.000 kaki.
Netanyahu mengungkapkan bahwa seorang penumpang berhasil masuk ke kokpit bersama salah satu awak kabin, lalu keduanya melumpuhkan pilot yang menyerang. Ia menyebut kejadian itu sebagai insiden keamanan yang sangat berat dan mengapresiasi keberanian penumpang serta kru. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dan sejumlah pejabat lain menyebut peristiwa ini sebagai upaya serangan teror. Reuters melaporkan seorang pejabat Israel mengidentifikasi penyerang sebagai warga negara Oman.
Seorang penumpang, Miryam Shira Ohayon, menggambarkan situasi saat itu sebagai "hampir sepenuhnya di luar kendali". Ia menuturkan kepada wartawan melalui pengeras suara yang dipegang ibunya di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, bahwa kopilot berusaha membunuh pilot dan melakukan serangan bunuh diri terhadap pesawat. Otoritas bandara Tabuk menyatakan kedua pilot dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka-luka.
"Ini insiden keamanan yang sangat serius. Para penumpang dan kru menunjukkan kecerdikan serta keberanian luar biasa," ujar Netanyahu.
Di sisi lain, penerbangan flydubai kedua dari Dubai ke Tel Aviv mendarat dengan selamat. Flightradar24 sempat menunjukkan penerbangan FZ1081 berbalik arah ke Uni Emirat Arab, namun kemudian terpantau melanjutkan perjalanan dan tiba di Tel Aviv pada Rabu sore. Perbedaan jalur ini menimbulkan tanda tanya mengenai prosedur pengalihan yang diterapkan otoritas penerbangan setempat.
Insiden ini menjadi sorotan karena melibatkan rute penerbangan yang melintasi beberapa yurisdiksi udara, termasuk Yordania dan Arab Saudi. Kejadian tersebut juga mencuatkan pertanyaan tentang sejauh mana latar belakang awak pesawat disaring, terutama pada rute yang menghubungkan negara-negara Teluk dengan Israel. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai motif penyerang, tetapi penyelidikan terus berjalan untuk memastikan apakah ini murni tindakan individu atau bagian dari jaringan yang lebih luas.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan penerbangan bukan hanya soal teknologi, melainkan juga faktor manusia dan geopolitik. Maskapai nasional yang melayani rute Timur Tengah, termasuk penerbangan umrah dan haji, perlu memperkuat protokol keamanan kokpit, pelatihan kru, serta mekanisme pelaporan dini terhadap potensi ancaman. Selain itu, pemerintah dapat mendorong kerja sama intelijen dengan negara-negara transit untuk memitigasi risiko serupa.
Ke depan, otoritas penerbangan sipil internasional diperkirakan akan mengevaluasi ulang standar keamanan kokpit, terutama terkait akses penumpang dan prosedur darurat. Publik menanti hasil investigasi resmi yang dapat menjelaskan rangkaian peristiwa sebenarnya. Akankah insiden ini mendorong pengetatan regulasi penerbangan global, atau justru menjadi preseden yang mengubah cara maskapai menilai risiko awak pesawat?



