Obat 'Godzilla' Penurun Berat Badan Tunjukkan Hasil Gemilang, tapi Belum Disetujui Regulator
Baca dalam 60 detik
- Retatrutide, obat eksperimental yang dijuluki 'Godzilla', mampu menurunkan berat badan hingga 18,8% pada penderita diabetes tipe 2 dan obesitas dalam uji coba fase 3.
- Obat ini juga memperbaiki kadar gula darah, tekanan darah, profil lipid, dan menurunkan penanda peradangan, menawarkan manfaat kardiometabolik yang lebih luas dibandingkan obat sejenis.
- Meski hasilnya menjanjikan, retatrutide belum mendapat persetujuan regulator mana pun, dan efek samping gastrointestinal serta ketiadaan data jangka panjang masih menjadi tantangan.

Uji coba fase 3 terbesar untuk obat penurun berat badan eksperimental, retatrutide, menunjukkan hasil yang mencengangkan: peserta dengan obesitas dan diabetes tipe 2 kehilangan hingga 18,8% bobot tubuh setelah 80 minggu. Temuan ini dipublikasikan di jurnal The Lancet dan dipresentasikan pada pertemuan tahunan European Association for the Study of Diabetes di Milan, Italia. Meski demikian, obat ini belum disetujui oleh badan pengawas mana pun, sehingga masih menyisakan pertanyaan besar tentang akses dan keamanan jangka panjang.
Retatrutide bekerja dengan meniru tiga hormon usus sekaligus—GLP-1, GIP, dan glukagon—yang berperan mengendalikan nafsu makan, kadar gula darah, dan metabolisme. Pendekatan ini berbeda dari Wegovy yang hanya menyasar jalur GLP-1, atau Mounjaro yang menggabungkan GLP-1 dan GIP. Dengan tambahan reseptor glukagon, retatrutide berpotensi meningkatkan pembakaran energi, sebuah mekanisme yang jarang ditemui pada obat penurun berat badan generasi sebelumnya.
Studi yang didanai produsen obat Eli Lilly ini melibatkan 2.047 orang dewasa dari delapan negara, termasuk Argentina, Australia, Brasil, India, Meksiko, Rumania, Spanyol, dan Amerika Serikat. Semua peserta memiliki indeks massa tubuh (BMI) 27 atau lebih dan menderita diabetes tipe 2. Rata-rata usia mereka 55 tahun, dengan komposisi 48% perempuan dan 52% laki-laki. Mereka dibagi secara acak untuk menerima suntikan mingguan plasebo atau retatrutide dosis 4 mg, 9 mg, dan 12 mg, disertai konseling diet dan aktivitas fisik.
Selain penurunan berat badan, retatrutide memperlihatkan perbaikan pada faktor risiko kardiometabolik seperti tekanan darah dan profil lipid, serta menurunkan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP), penanda peradangan. Para peneliti menyatakan bahwa profil keamanannya secara umum mirip dengan obat agonis reseptor GLP-1 lainnya. Namun, kejadian gastrointestinal tetap menjadi keluhan utama, dengan diare dan mual yang lebih sering terjadi dibandingkan plasebo. Tercatat tujuh kematian selama uji coba, tetapi penyidik menilai tidak ada kaitannya dengan intervensi studi.
"Retatrutide menunjukkan penurunan berat badan yang substansial disertai kontrol glikemik dan faktor risiko kardiometabolik, dengan profil keamanan yang secara umum serupa dengan molekul lain yang memiliki aktivitas agonis reseptor GLP-1," ujar para peneliti dalam laporan studi.
Di sisi lain, penelitian terpisah yang dipresentasikan di konferensi yang sama dan diterbitkan di Lancet Obstetrics, Gynaecology & Women's Health menemukan bahwa obat penurun berat badan umumnya tidak terkait dengan hasil kehamilan yang merugikan pada perempuan dengan diabetes tipe 2. Meski begitu, para peneliti menekankan perlunya riset lebih lanjut untuk menutup celah bukti yang besar, seiring meningkatnya penggunaan obat-obatan ini pada perempuan usia reproduksi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan prevalensi obesitas dan diabetes tipe 2 yang terus meningkat, kehadiran obat seperti retatrutide dapat menjadi terobosan dalam penanganan penyakit metabolik. Namun, harga yang kemungkinan tinggi, keterbatasan infrastruktur kesehatan, dan regulasi BPOM yang ketat menjadi penghalang utama. Pemerintah perlu bersiap mengantisipasi lonjakan permintaan akan obat-obatan canggih ini, termasuk mempertimbangkan skema pembiayaan atau kerja sama produksi lokal agar akses tidak hanya dinikmati kelompok mampu.
Pertanyaan besarnya kini: akankah retatrutide segera mendapat lampu hijau dari regulator global, dan seberapa cepat Indonesia dapat mengadopsinya? Sementara itu, para ahli mengingatkan bahwa obat bukanlah solusi tunggal. Perubahan gaya hidup, pola makan, dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama dalam mengatasi epidemi obesitas dan diabetes.



