Dompet Dhuafa Bangun 100 Rumah Sementara di NTT, Renovasi Sekolah Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Dompet Dhuafa memulai pembangunan 25 unit rumah sementara dari target 100 unit bagi korban gempa NTT.
- Selain hunian, renovasi SD Inpres Waturedu di Nagekeo dilakukan untuk memulihkan fasilitas pendidikan.
- Data per 18 September 2026 mencatat 103.427 rumah rusak dan 2.147 fasilitas pendidikan terdampak.

Memasuki masa pemulihan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) memulai pembangunan 25 unit rumah sementara (rumtara) pada Rabu (23/9/2026). Langkah ini merupakan bagian dari target penyediaan 100 unit rumtara bagi warga terdampak, sekaligus menandai pergeseran dari respons darurat ke upaya rehabilitasi yang lebih berkelanjutan.
Selain hunian, organisasi filantropi itu juga mendukung renovasi Sekolah Dasar (SD) Inpres Waturedu di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Fasilitas pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling parah terdampak bencana, dengan 2.147 gedung sekolah mengalami kerusakan. Pemulihan sekolah dinilai krusial agar anak-anak dapat kembali belajar tanpa hambatan.
Data per 18 September 2026 menunjukkan skala kerusakan yang luas: 103.427 rumah rusak, 157 fasilitas kesehatan, 685 kantor, 558 rumah ibadah, empat pasar tradisional, dan 1.915 fasilitas umum lainnya. Angka-angka ini menggarisbawahi bahwa kebutuhan penyintas tidak berhenti pada bantuan darurat, melainkan berlanjut pada penyediaan tempat tinggal dan layanan dasar.
Sejak fase tanggap darurat, DMC Dompet Dhuafa telah menyalurkan berbagai layanan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, pendidikan, air bersih, hingga pencarian dan pertolongan. Hingga 23 September 2026, total penerima manfaat mencapai 25.863 orang. Rinciannya, layanan dapur umum menjangkau 7.922 penerima, logistik pangan 5.800 penerima, layanan kesehatan 3.726 penerima, program pendidikan dan Psychological First Aid (PFA) 2.931 penerima, pembangunan masjid darurat 2.480 penerima, logistik nonpangan 1.669 penerima, air bersih 655 penerima, layanan internet 339 penerima, serta SAR, evakuasi, dan asesmen 341 penerima.
"Dompet Dhuafa terus bergerak sejak awal gempa dengan menyalurkan berbagai kebutuhan. Meski dengan keterbatasan yang ada, kami terus berupaya membantu masyarakat, termasuk melalui pembangunan rumtara," ujar Wakil Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Herdiansah.
Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, keterbatasan pemerintah dalam menangani seluruh kebutuhan pascabencana membuat kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi niscaya. "Kami tidak bisa balas, tetapi hanya bisa mendoakan Dompet Dhuafa yang sudah datang jauh-jauh untuk menolong kita di saat pemerintah juga masih dalam keterbatasan," ucapnya.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya para profesional dan investor, langkah Dompet Dhuafa ini mencerminkan peran penting organisasi masyarakat sipil dalam mengisi celah pemulihan bencana. Kecepatan rehabilitasi hunian dan sekolah tidak hanya memulihkan kehidupan sosial, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi lokal. Dengan ribuan rumah dan fasilitas publik yang masih rusak, kebutuhan investasi di sektor konstruksi, layanan kesehatan, dan pendidikan di NTT diproyeksikan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah daerah dan mitra swasta perlu memperkuat sinergi agar proses rekonstruksi tidak berjalan lambat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana program pemulihan ini dapat berlanjut dan menjangkau seluruh wilayah terdampak. Apakah kolaborasi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan sektor swasta akan cukup untuk mempercepat pemulihan NTT, atau masih diperlukan terobosan pendanaan dan tata kelola yang lebih efektif?



