Raja Isa: Naturalisasi PSSI Picu Perlombaan Baru Sepak Bola ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Pengamat Malaysia Raja Isa menilai proyek naturalisasi PSSI memicu negara ASEAN meningkatkan kualitas timnas.
- Indonesia dianggap punya keunggulan diaspora, tetapi stagnasi bisa membuat negara lain menyalip.
- Hasil imbang melawan Malaysia dan perlawanan Singapura menjadi sinyal bahwa kekuatan ASEAN kian merata.

Pengamat sepak bola Malaysia, Raja Isa Raja Akram Shah, menilai gebrakan naturalisasi yang dijalankan PSSI telah memicu perlombaan baru di Asia Tenggara. Negara-negara ASEAN kini berlomba membenahi skuat nasional mereka agar tidak tertinggal dari Indonesia.
Menurut Raja Isa, langkah PSSI merekrut pemain keturunan secara masif membuat federasi lain di kawasan merasa perlu mengambil langkah serupa. "Hidup itu dinamis dan harus terus maju ke depan. Baik secara individu maupun kolektif. Termasuk di cabang sepak bola. Ketika PSSI punya proyek ambisius menaturalisasi pemain heritage, negara lain pasti tak mau ketinggalan. Nah, inilah yang sekarang sedang terjadi di Asia Tenggara," ujarnya.
Ia menyoroti The Big Five ASEAN—Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura—yang menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan Filipina, menurutnya, tidak ingin ketinggalan dari negara tetangga. Persaingan ini dinilai sebagai buah dari kebijakan Indonesia yang berani mengubah lanskap kompetisi regional.
Raja Isa menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa populasi besar dan diaspora yang tersebar di berbagai negara. Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak otomatis menjamin kesuksesan. "Indonesia sudah berupaya keras menarik bakat diaspora untuk jadi pemain Timnas Indonesia. Indonesia punya banyak bakat di luar negeri, karena perpindahan WNI hampir ada di seluruh dunia. Indonesia sudah ada di jalur yang benar, tapi harus lebih maksimal lagi. Jika stagnan, maka negara lain akan menyalip mereka," jelasnya.
Dampak dari kebijakan Indonesia pun mulai terasa. Vietnam, Thailand, dan Malaysia sebagai rival utama disebut harus membangun kekuatan mereka sendiri. "Terutama Vietnam dan Thailand sebagai kekuatan utama ASEAN harus menyaingi Indonesia. Begitu pula Malaysia sebagai musuh bebuyutan," ujarnya.
"Saya kira karena Timnas Indonesia mayoritas pakai pemain diaspora, mereka merasa lebih hebat. Tapi faktanya Singapura bisa kasih perlawanan. Bahkan dari hasil imbang lawan Malaysia kemarin, saya nilai kekuatan mereka setara dengan Indonesia. Ini yang harus disadari stakeholder sepak bola Indonesia."
— Raja Isa Raja Akram Shah
Raja Isa juga menyoroti bahwa Timnas Indonesia belum menghadapi Vietnam dan Thailand yang berada di Grup B Divisi 1. Menurutnya, kedua negara itu telah berubah signifikan, baik dari materi pemain maupun gaya bermain. "Jika Timnas Indonesia lolos ke fase berikutnya, apakah di final atau perebutan tempat ketika akan bertemu Vietnam atau Thailand. Saya kira kedua negara ini kualitasnya di atas Singapura dan Malaysia," kupasnya.
Prestasi Timnas Indonesia yang melangkah hingga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu disebut menjadi spirit bagi raksasa ASEAN untuk bangkit. "Meski tanpa trofi, dua tahun terakhir prestasi Timnas Indonesia yang terbaik di ASEAN. Lolos sampai round empat Kualifikasi Piala Dunia lalu pasti membuat negara lain iri. Jadi Indonesia harus terus maju agar tiba-tiba disalip negara lain," tuturnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar dinamika olahraga. Kebijakan naturalisasi yang agresif telah memicu efek domino di kawasan, memaksa negara lain berbenah atau tertinggal. PSSI perlu memastikan bahwa program ini tidak berhenti di tengah jalan, terutama dengan munculnya tantangan dari Vietnam dan Thailand yang kualitasnya terus meningkat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Indonesia mampu mempertahankan momentum dan benar-benar mendominasi ASEAN, atau justru menjadi pemicu kebangkitan rival-rivalnya. Yang jelas, persaingan sepak bola Asia Tenggara tidak lagi berjalan di tempat.



