Starship Akhirnya Capai Orbit, tetapi Jalan Menuju Bulan dan Mars Masih Terjal
Baca dalam 60 detik
- SpaceX mencetak sejarah dengan penerbangan orbit perdana Starship sekaligus menempatkan 26 satelit Starlink V3 pada uji terbang ke-14.
- Tiga tantangan krusial masih menanti: penangkapan tahap atas Ship, pengisian bahan bakar di antariksa, dan sertifikasi sistem pendukung kehidupan untuk misi berawak.
- Ambisi 10.000 peluncuran per tahun pada 2030 dan target pendaratan Artemis IV 2028 menuntut percepatan infrastruktur serta kesiapan teknologi yang belum teruji.

SpaceX menorehkan tonggak baru dalam sejarah antariksa komersial: roket raksasa Starship berhasil mencapai orbit Bumi untuk pertama kalinya pada penerbangan uji ke-14, Senin (28/9). Selain mengorbit, wahana setinggi 52 meter itu juga melepaskan 26 satelit broadband Starlink V3, menandai dimulainya pembangunan konstelasi yang ditargetkan menampung 100.000 satelit.
Meski demikian, pencapaian ini belum menandakan Starship sepenuhnya matang secara teknologi. Sejumlah prasyarat fundamental masih harus dibuktikan sebelum roket terbesar dan terkuat yang pernah dibuat manusia itu bisa beroperasi secara rutin, terutama untuk misi ke Bulan dan Mars.
Salah satu ujian terdekat adalah kemampuan menangkap kembali tahap atas Ship menggunakan lengan "sumpit" di menara peluncuran. Selama ini, SpaceX sudah tiga kali sukses menangkap booster Super Heavy, tetapi belum pernah mencoba prosedur serupa untuk Ship yang selalu mengakhiri misi dengan mendarat di laut. CEO SpaceX Elon Musk, dalam forum All-In Summit pertengahan September, mengisyaratkan bahwa penangkapan Ship mungkin diuji pada penerbangan ke-15 jika Flight 14 berjalan mulus. Dokumen perencanaan sementara menyebut 19 Oktober sebagai target paling awal.
Untuk mewujudkan frekuensi peluncuran yang nyaris mustahil itu, SpaceX tengah membangun tiga landasan Starship di Pantai Antariksa Florida dan akan memulai pembangunan kompleks Louisiana pada 2027. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung operasional, terutama karena saat ini Starship hanya diluncurkan dari dua landasan di Starbase, Texas Selatan.
Tantangan berikutnya adalah pengisian bahan bakar di antariksa. Starship tidak dapat membawa cukup propelan saat lepas landas karena akan terlalu berat, sehingga setiap misi ke Bulan atau Mars harus singgah ke depot bahan bakar orbital yang diisi oleh wahana tanker khusus. Estimasi untuk satu kampanye pendaratan di Bulan berkisar antara delapan hingga 20 penerbangan tanker. SpaceX baru sebatas memindahkan propelan antar-tangki internal pada Flight 3 (Maret 2024); transfer antarwahana di orbit belum pernah diuji dan mungkin dicoba pada Flight 15.
"Kami perlu mendemonstrasikan pengisian bahan bakar di orbit sebelum bisa mengirim kargo besar ke Bulan," ujar seorang pejabat SpaceX dalam konferensi pers pasca-peluncuran, tanpa menyebut jadwal pasti.
Yang tak kalah penting adalah sertifikasi sistem pendukung kehidupan. Starship sejak awal dirancang sebagai wahana berawak, tetapi NASA menargetkan misi Artemis III pada pertengahan 2027 dan Artemis IV pada 2028 yang akan mendaratkan astronot di dekat kutub selatan Bulan. Jika Ship belum siap, NASA telah menyatakan opsi menggunakan pendarat Blue Moon milik Blue Origin. Tekanan kompetisi ini mempercepat kebutuhan SpaceX untuk mengadaptasi teknologi dari kapsul Crew Dragon yang telah terbang 20 kali membawa astronot ke orbit rendah Bumi.
Bagi Indonesia, perkembangan Starship bukan sekadar tontonan teknologi. Konstelasi Starlink V3 yang jauh lebih besar berpotensi memperluas jangkauan internet cepat ke daerah terpencil Nusantara, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan dominasi swasta asing di sektor telekomunikasi. Pemerintah perlu memastikan kerangka regulasi yang setara bagi penyedia layanan satelit lokal, sembari memanfaatkan peluang transfer teknologi melalui kerja sama riset antariksa.
Dengan setiap penerbangan yang kian kompleks, akumulasi risiko dan biaya akan terus meningkat. Publik dan investor kini menanti apakah SpaceX mampu menepati janji ambisiusnya, atau justru menghadapi kenyataan bahwa perjalanan menuju Mars masih jauh dari kata mulus.



