Laboratorium Etomidate di PIK 2 Dibongkar, WN China Ditangkap dan DPO Buron
Baca dalam 60 detik
- Polisi menggerebek rumah produksi narkotika etomidate di Cluster Hawai Cove 6, PIK 2, Tangerang, dan menangkap seorang warga negara China berinisial CF.
- Tersangka mengaku beraksi atas perintah AC, yang kini buron, dan telah menjalankan produksi selama dua bulan dengan upah Rp13,3 juta.
- Penyidik memperkirakan bahan baku yang disita dapat menghasilkan lebih dari 20 ribu cartridge etomidate, menyoroti potensi peredaran gelap di kawasan hunian elite.

Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat membongkar laboratorium rahasia narkotika jenis etomidate di sebuah rumah di Cluster Hawai Cove 6, kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten. Dalam penggerebekan tersebut, polisi menangkap seorang warga negara China berinisial CF (27) yang diduga mengelola produksi barang haram itu.
Penangkapan CF berawal dari informasi masyarakat tentang penyalahgunaan narkotika di Slipi, Palmerah, Jakarta Barat. Tim Satres Narkoba kemudian melakukan penyelidikan dan bergerak ke PIK 2. Pada Senin malam (21/9), CF diamankan di Cluster Hawai Cove 8 Nomor 7, saat sedang bersama dua warga China lainnya, ZD dan YX. Meski demikian, polisi menyatakan kedua orang itu tidak terkait dengan barang bukti yang ditemukan.
Dari lokasi pertama, petugas menyita 22 ikat plastik bungkus pod cartridge etomidate dan satu telepon seluler. CF kemudian mengakui masih menyimpan barang bukti lain di rumah Cluster Hawai Cove 6 Nomor 6. Penggeledahan di lokasi kedua mengungkap 13 bungkus bubuk bahan baku etomidate dengan berat total 1.300 gram, 22 botol cairan etomidate sebanyak 11.000 mililiter, serta berbagai botol sisa cairan. Polisi juga menyita peralatan produksi seperti ember, wadah masak, pemanas air, botol bertutup lancip, dan timbangan digital. Selain itu, ditemukan ribuan cartridge kosong dan ratusan pod terisi cairan etomidate.
Kasatres Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Vernal A Sambo menjelaskan bahwa CF mengaku menjalankan aktivitas tersebut atas instruksi seseorang berinisial AC yang dikenalnya melalui TikTok. Komunikasi selanjutnya beralih ke aplikasi Telegram. CF datang ke Indonesia sekitar akhir Agustus 2026 setelah ditawari pekerjaan dengan imbalan menggiurkan. Ia lalu diarahkan menempati rumah yang telah disewa AC dan mempelajari proses pembuatan pod etomidate melalui komunikasi jarak jauh.
"CF kemudian ditawari pekerjaan di Indonesia dengan imbalan yang dijanjikan cukup besar. Komunikasi selanjutnya dilakukan melalui aplikasi Telegram," ujar Vernal.
Penyidik masih mendalami jaringan ini, termasuk memburu AC yang telah ditetapkan sebagai DPO serta menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain dan jalur distribusi. Terhadap CF, polisi menerapkan Pasal 610 ayat (2) huruf b subsider Pasal 609 ayat (2) huruf b UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, serta peraturan terkait penggolongan narkotika. Pasal tersebut mengatur perbuatan tanpa hak memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan II dengan berat lebih dari 5 gram.
Pengungkapan ini mencuatkan kekhawatiran baru: kawasan hunian elite seperti PIK 2 yang selama ini identik dengan properti mewah dan keamanan ketat ternyata bisa disusupi jaringan narkotika internasional. Modus produksi etomidate dalam bentuk pod cartridge juga menunjukkan pergeseran tren, dari narkotika konvensional ke bentuk yang lebih mudah disamarkan dan dikonsumsi generasi muda. Etomidate sendiri merupakan obat anestesi yang disalahgunakan; dalam beberapa tahun terakhir, penyelundupan etomidate dalam bentuk pod vape marak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi ujian bagi penegakan hukum dan pengawasan kawasan perumahan eksklusif. Pemerintah perlu memperketat regulasi prekursor kimia dan pengawasan alih daya properti asing, terutama di wilayah penyangga ibu kota seperti Tangerang. Selain itu, kerja sama lintas negara dengan China dan negara tetangga mutlak diperlukan untuk membongkar jaringan di balik AC dan sindikat yang lebih besar. Tanpa itu, laboratorium serupa berpotensi muncul kembali di lokasi lain dengan modus serupa.
Ke depan, publik menanti apakah polisi mampu menangkap AC dan mengungkap aktor intelektual di balik operasi ini. Jika tidak, kasus ini hanya akan menjadi potret kecil dari bisnis narkotika yang terus beradaptasi dengan teknologi dan celah regulasi.



