Kisah Rumah Tangga 40 Tahun di China: Suami Pasang CCTV, Istri Rusak Rumah, dan Perceraian yang Tak Mudah
Baca dalam 60 detik
- Pasangan di Fujian, China, mempertahankan pernikahan 40 tahun meski suami memantau istri dengan kamera pengawas dan berbagi biaya secara terpisah.
- Konflik memuncak setelah istri mengalami stroke dan suami menyarankan memasak terpisah, memicu tuduhan kurangnya keintiman emosional.
- Di China, proses perceraian rumit dengan masa tunggu 30 hari, sementara netizen terbelah antara mendukung perceraian atau mempertahankan komitmen.

Pasangan suami istri di Provinsi Fujian, China tenggara, menjadi sorotan publik setelah konflik rumah tangga mereka yang berlangsung empat dekade terungkap dalam sebuah acara mediasi televisi. Sang suami, yang hanya disebut bernama Li, mengaku telah memasang kamera pengawas di rumah untuk memantau istrinya, Chen, setelah merasa kehilangan kepercayaan akibat ulah sang istri yang merusak properti rumah. Di sisi lain, Chen justru merasa terasing karena suaminya selalu menerapkan sistem berbagi biaya secara terpisah sejak awal pernikahan mereka.
Kisah ini memicu perdebatan luas di media sosial China tentang makna pernikahan, kepercayaan, dan peran gender. Li, yang sebelumnya bekerja sebagai pelaut, mengaku telah merawat Chen selama berbulan-bulan setelah istrinya terkena stroke tahun lalu. Namun, sarannya untuk memasak makanan secara terpisah demi memenuhi diet khusus justru dianggap Chen sebagai puncak dari keterasingan emosional yang ia rasakan selama puluhan tahun. Chen bahkan sempat menuliskan kata-kata makian di dinding rumah dan merusak pintu dengan kapak sebagai pelampiasan frustrasinya.
Menurut Chen, sistem berbagi biaya yang diterapkan Li membuatnya merasa tidak memiliki rasa memiliki dalam rumah tangga. Ia membandingkan dengan orang tuanya, di mana ayahnya memberikan seluruh penghasilan kepada ibunya. Sementara itu, Li berpendapat bahwa pembagian biaya adalah hal yang adil karena keduanya sama-sama bekerja. Perbedaan pandangan ini semakin diperparah oleh fakta bahwa mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena pekerjaan Li sebagai pelaut.
Ketegangan memuncak ketika Chen mengaku sempat ingin bercerai, tetapi ibunya melarang dan menganggap hal itu sebagai takdir. Di sisi lain, Li juga merasa dirugikan karena ia merasa telah berkontribusi banyak, termasuk memasak untuk keluarga selama ini. Mediator dalam acara TV tersebut menyarankan Li untuk tidak terus-menerus menunjukkan ketidakpercayaannya, karena hal itu dapat melukai perasaan Chen dan memperburuk hubungan mereka. Pada akhirnya, Li bersedia mencoba memperbaiki hubungan, tetapi menolak untuk melepas kamera pengawas. "Kita lihat dulu bagaimana perilakunya," ujarnya.
Kisah ini mengundang beragam reaksi dari warganet. Sebagian menilai hubungan mereka sudah tidak sehat dan menyarankan perceraian, sementara yang lain mengkritik sikap Li yang dianggap terlalu kaku. Seorang komentator menulis, "Hubungan yang menyesakkan seperti ini lebih baik sendiri." Yang lain menambahkan, "Pria tua itu kan pelaut, dia bersenang-senang di luar lalu pulang mengabaikan keluarga." Perdebatan ini juga menyoroti kompleksitas hukum perceraian di China, di mana pasangan yang sepakat bercerai harus menjalani masa tunggu 30 hari, dan jika salah satu pihak menolak, prosesnya harus melalui pengadilan.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menawarkan refleksi tentang pentingnya komunikasi dan keintiman emosional dalam pernikahan, terlepas dari latar belakang budaya. Meski sistem berbagi biaya atau pencatatan keuangan terpisah bukan hal asing di kalangan pasangan modern, kasus ini menunjukkan bahwa tanpa fondasi kepercayaan dan keterbukaan, pengaturan semacam itu bisa menjadi sumber konflik berkepanjangan. Di Indonesia sendiri, isu kesetaraan gender dan pembagian peran dalam rumah tangga juga kerap menjadi perbincangan, meski dengan konteks sosial yang berbeda.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah pasangan ini benar-benar mampu membangun kembali kepercayaan yang telah retak, atau justru memilih jalur hukum untuk mengakhiri pernikahan mereka. Keputusan Li untuk mempertahankan kamera pengawas menjadi sinyal bahwa luka emosional tidak mudah disembuhkan. Akankah mediasi yang mereka jalani membuahkan hasil, atau justru menjadi preseden bagi pasangan lain yang menghadapi dilema serupa? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi kisah ini setidaknya mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar pembagian biaya, melainkan pembagian hati dan kepercayaan.



